Bahasa Indonesia & Tugas sekolah

Puisi adalah bentuk karangan yang terkikat oleh rima, ritma, ataupun jumlah baris serta ditandai oleh bahasa yang padat. Menurut zamannya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru.

A. PUISI LAMA

Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan. Aturan- aturan itu antara lain :

- Jumlah kata dalam 1 baris

- Jumlah baris dalam 1 bait

- Persajakan (rima)

- Banyak suku kata tiap baris

- Irama

1. Ciri-ciri Puisi Lama

Ciri puisi lama:

a) Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya

b) Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan

c) Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima

2. Jenis Puisi Lama

Yang termasuk puisi lama adalah

a) Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib

b) Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka

c) Karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek

d) Seloka adalah pantun berkait

e) Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat

f) Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita

g) Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris

3. Contoh dari Jenis-jenis Puisi Lama

a) Mantra

Assalammu’alaikum putri satulung besar
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu

b) Pantun

Kalau ada jarum patah
Jangan dimasukkan ke dalam peti
Kalau ada kataku yang salah
Jangan dimasukan ke dalam hati

c) Karmina

Dahulu parang, sekarang besi (a)
Dahulu sayang sekarang benci (a)

d) Seloka

Lurus jalan ke Payakumbuh,
Kayu jati bertimbal jalan
Di mana hati tak kan rusuh,
Ibu mati bapak berjalan

e) Gurindam

Kurang pikir kurang siasat (a)
Tentu dirimu akan tersesat (a)
Barang siapa tinggalkan sembahyang ( b )
Bagai rumah tiada bertiang ( b )
Jika suami tiada berhati lurus ( c )
Istri pun kelak menjadi kurus ( c )

f) Syair

Pada zaman dahulu kala (a)
Tersebutlah sebuah cerita (a)
Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)

g) Talibun

Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak pun beli sampiran
Ikan panjang beli dahulu

Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanak pun cari isi
Induk semang cari dahulu

4. Ciri-ciri dari jenis puisi lama

a) Mantra

Ciri-ciri:

Ø Berirama akhir abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde.

Ø Bersifat lisan, sakti atau magis

Ø Adanya perulangan

Ø Metafora merupakan unsur penting

Ø Bersifat esoferik (bahasa khusus antara pembicara dan lawan bicara) dan misterius

Ø Lebih bebas dibanding puisi rakyat lainnya dalam hal suku kata, baris dan persajakan.

b) Pantun

Ciri – ciri :

Ø Setiap bait terdiri 4 baris

Ø Baris 1 dan 2 sebagai sampiran

Ø Baris 3 dan 4 merupakan isi

Ø Bersajak a – b – a – b

Ø Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata

Ø Berasal dari Melayu (Indonesia)

c) Karmina

Ciri-ciri karmina

Ø Setiap bait merupakan bagian dari keseluruhan.

Ø Bersajak aa-aa, aa-bb

Ø Bersifat epik: mengisahkan seorang pahlawan.

Ø Tidak memiliki sampiran, hanya memiliki isi.

Ø Semua baris diawali huruf capital.

Ø Semua baris diakhiri koma, kecuali baris ke-4 diakhiri tanda titik.

Ø Mengandung dua hal yang bertentangan yaitu rayuan dan perintah.

d) Seloka

Ciri-ciri seloka

Ø Ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair,

Ø Namun ada seloka yang ditulis lebih dari empat baris.

e) Gurindam

Ciri-ciri gurindam

Ø Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian

Ø baris kedua berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi.

f) Syair

Ciri-ciri syair

Ø Terdiri dari 4 baris

Ø Berirama aaaa

Ø Keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair

g) Talibun

Ciri-ciri:

Ø Jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi harus genap misalnya 6, 8, 10 dan seterusnya.

Ø Jika satu bait berisi enam baris, susunannya tiga sampiran dan tiga isi.

Ø Jika satu bait berisi delapan baris, susunannya empat sampiran dan empat isi.

Ø Apabila enam baris sajaknya a – b – c – a – b – c.

Ø Bila terdiri dari delapan baris, sajaknya a – b – c – d – a – b – c – d

B. PUISI BARU

Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.

1. Ciri-ciri Puisi Baru

a) Bentuknya rapi, simetris;

b) Mempunyai persajakan akhir (yang teratur);

c) Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain;

d) Sebagian besar puisi empat seuntai;

e) Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis)

f) Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar) : 4-5 suku kata.

2. Jenis-jenis Puisi Baru

Menurut isinya, puisi dibedakan atas :

a) Balada adalah puisi berisi kisah/cerita

b) Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan

c) Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa

d) Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup

e) Romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih

f) Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan

g) Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik

Sedangkan macam-macam puisi baru dilihat dari bentuknya antara lain:

a) Distikon

b) Terzina

c) Quatrain

d) Quint

e) Sektet

f) Septime

g) Oktaf/Stanza

h) Soneta

3. Contoh dari Jenis-jenis Puisi Baru

Contoh jenis puisi menurut isinya :

a) BALADA

Puisi karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul “ Balada Matinya seorang Pemberontak”

b) HYMNE

Bahkan batu-batu yang keras dan bisu

Mengagungkan nama-Mu dengan cara sendiri

Menggeliat derita pada lekuk dan liku

bawah sayatan khianat dan dusta.

Dengan hikmat selalu kupandang patung-Mu

menitikkan darah dari tangan dan kaki

dari mahkota duri dan membulan paku

Yang dikarati oleh dosa manusia.

Tanpa luka-luka yang lebar terbuka

dunia kehilangan sumber kasih

Besarlah mereka yang dalam nestapa

mengenal-Mu tersalib di datam hati.

(Saini S.K)

c) ODE

Generasi Sekarang
Di atas puncak gunung fantasi
Berdiri aku, dan dari sana
Mandang ke bawah, ke tempat berjuang
Generasi sekarang di panjang masa

Menciptakan kemegahan baru
Pantoen keindahan Indonesia
Yang jadi kenang-kenangan
Pada zaman dalam dunia
(Asmara Hadi)

d) EPIGRAM

Hari ini tak ada tempat berdiri

Sikap lamban berarti mati

Siapa yang bergerak, merekalah yang di depan

Yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas.

(Iqbal)

e) ELEGI

Senja di Pelabuhan Kecil

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

(Chairil Anwar)

f) SATIRE

Aku bertanya

tetapi pertanyaan-pertanyaanku

membentur jidad penyair-penyair salon,

yang bersajak tentang anggur dan rembulan,

sementara ketidakadilan terjadi

di sampingnya,

dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan,

termangu-mangu dl kaki dewi kesenian.

(Rendra)

Contoh jenis puisi dari bentuknya :

a) DISTIKON
Contoh :
Berkali kita gagal
Ulangi lagi dan cari akal
Berkali-kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh
(Or. Mandank)

b) TERZINA
Contoh :
Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana
Mengharum bagai cendana
Dalam bah’gia cinta tiba melayang
Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari
Dari ; Madah Kelana
Karya : Sanusi Pane

c) QUATRAIN
Contoh :
Mendatang-datang jua
Kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau
Membayang rupa jua
Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)

d) QUINTet
Contoh :
Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakan
Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkan
Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)

e) SEXTET
Contoh :
Merindu Bagia
Jika hari’lah tengah malam
Angin berhenti dari bernafas
Sukma jiwaku rasa tenggelam
Dalam laut tidak terwatas
Menangis hati diiris sedih
(Ipih)

f) SEPTIMA
Contoh :
Indonesia Tumpah Darahku
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
(Muhammad Yamin)

g) STANZA ( OCTAV )
Contoh :
Awan
Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)

h) SONETA
Contoh :
Gembala
Perasaan siapa ta ‘kan nyala ( a )
Melihat anak berlagu dendang ( b )
Seorang saja di tengah padang ( b )
Tiada berbaju buka kepala ( a )
Beginilah nasib anak gembala ( a )
Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b )
Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b )
Pulang ke rumah di senja kala ( a )
Jauh sedikit sesayup sampai ( a )
Terdengar olehku bunyi serunai ( a )
Melagukan alam nan molek permai ( a )
Wahai gembala di segara hijau ( c )
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c )
Maulah aku menurutkan dikau ( c )
(Muhammad Yamin)

4. Ciri-ciri dari Jenis Puisi Baru

v Ciri puisi dari Jenis isinya :

a) Balada

Ciri-ciri balada

Balada jenis ini terdiri dari 3 (tiga) bait, masing-masing dengan 8 (delapan) larik dengan skema rima a-b-a-b-b-c-c-b. Kemudian skema rima berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Larik terakhir dalam bait pertama digunakan sebagai refren dalam bait-bait berikutnya.

b) Hymne

Ciri-ciri hymne

Lagu pujian untuk menghormati seorang dewa, Tuhan, seorang pahlawan, tanah air, atau alma mater (Pemandu di Dunia Sastra).
Sekarang ini, pengertian himne menjadi berkembang. Himne diartikan sebagai puisi yang dinyanyikan, berisi pujian terhadap sesuatu yang dihormati (guru, pahlawan, dewa, Tuhan) yang bernafaskan ke-Tuhan-an.

c) Ode

Ciri-ciri ode

Ciri ode nada dan gayanya sangat resmi (metrumnya ketat), bernada anggun, membahas sesuatu yang mulia, bersifat menyanjung baik terhadap pribadi tertentu atau peristiwa umum.

d) Epigram

Epigramma (Greek); unsur pengajaran; didaktik; nasihat membawa ke arah kebenaran untuk dijadikan pedoman, ikhtibar; ada teladan.

e) Romance

Romantique (Perancis); keindahan perasaan; persoalan kasih sayang, rindu dendam, serta kasih mesra

f) Elegi

Ciri-ciri elegi

Sajak atau lagu yang mengungkapkan rasa duka atau keluh kesah karena sedih atau rindu, terutama karena kematian/kepergian seseorang.

g) Satire

Satura (Latin) ; sindiran ; kecaman tajam terhadap sesuatu fenomena; tidak puas hati satu golongan (ke atas pemimpin yang pura-pura, rasuah, zalim etc)

v Ciri puisi dari Jenis bentuknya :

a) Distikon

• 2 baris; sajak 2 seuntai
• Distikon (Greek: 2 baris)
• Rima – aa
– bb

b) Terzina

Terzina (Itali: 3 irama)

c) Quatrain

• Quatrain (Perancis: 4 baris)
• Pada asalnya ada 4 rangkap
• Dipelopori di Malaysia oleh Mahsuri S.N.

d) Quintet

Pada asalnya, rima Quint adalah /aaaaa/ tetapi kini 5 baris dalam serangkap diterima umum sebagai Quint (perubahan ini dikatakan berpunca dari kesukaran penyair untuk membina rima /aaaaa/

e) Sextet

• sextet (latin: 6 baris)
• Dikenali sebagai ‘terzina ganda dua’
• Rima akhir bebas

f) Septima

• septime (Latin: 7 baris)
• Rima akhir bebas

g) Oktav

• Oktaf (Latin: 8 baris)
• Dikenali sebagai ‘double Quatrain’

h) Soneta

ciri – ciri soneta :

· Terdiri atas 14 baris

· Terdiri atas 4 bait, yang terdiri atas 2 quatrain dan 2 terzina

· Dua quatrain merupakan sampiran dan merupakan satu kesatuan yang disebut octav.

· Dua terzina merupakan isi dan merupakan satu kesatuan yang disebut isi yang disebut sextet.

· Bagian sampiran biasanya berupa gambaran alam

· Sextet berisi curahan atau jawaban atau kesimpulan daripada apa yang dilukiskan dalam ocvtav , jadi sifatnya subyektif.

· Peralihan dari octav ke sextet disebut volta

· Penambahan baris pada soneta disebut koda.

· Jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya antara 9 – 14 suku kata

· Rima akhirnya adalah a – b – b – a, a – b – b – a, c – d – c, d – c – d.
=======================================
Jumat, 23 November 2007
Jenis Puisi Baru (Berdasarkan Jumlah Baris)
Distikhon, sajak 2 seuntai.
Terzina, sajak 3 seuntai.
Kuatrain, sajak 4 seuntai.
Kuint, sajak 5 seuntai.
Sektet, sajak 6 seuntai.
Septina, sajak 7 seuntai.
Oktaf / Stanza, sajak 8 seuntai.
Soneta, sajak yang terdiri dari 14 baris dan 4 bait umumnya berpola 4-4-3-3.
Sajak bebas.

=====================
Senin, 04 Februari 2008
Puisi Baru
PUISI BARU

A.MACAM-MACAM PUISI BARU

1. DISTIKON
Distikon adalah sanjak 2 seuntai, biasanya bersajak sama.
Contoh :
Berkali kita gagal
Ulangi lagi dan cari akal

Berkali-kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh
(Or. Mandank)

2. TERZINA
Terzina adalah sanjak 3 seuntai.
Contoh :
Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana
Mengharum bagai cendana

Dalam bah’gia cinta tiba melayang
Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari
Dari ; Madah Kelana
Karya : Sanusi Pane

3. QUATRAIN
Quatrain adalah sanjak 4 seuntai
Contoh :
Mendatang-datang jua
Kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau

Membayang rupa jua
Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)

4. QUINT
Quint adalah sanjak 5 seuntai
Contoh :
Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakan

Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkan

Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)

5. SEXTET
Sextet adalah sanjak 6 seuntai.
Contoh :
Merindu Bagia
Jika hari’lah tengah malam
Angin berhenti dari bernafas
Sukma jiwaku rasa tenggelam
Dalam laut tidak terwatas
Menangis hati diiris sedih
(Ipih)

6. SEPTIMA
Septima adalah sanjak 7 seuntai.
Contoh :
Indonesia Tumpah Darahku
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
(Muhammad Yamin)
7. STANZA ( OCTAV )
Octav adalah sanjak 8 seuntai
Contoh :
Awan
Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)

8. SONETA
Soneta adalah bentuk kesusasteraan Italia yang lahir sejak kira-kira pertengahan abad ke-13 di kota Florance.

CIRI – CIRI SONETA :
a. Terdiri atas 14 baris
b. Terdiri atas 4 bait, yang terdiri atas 2 quatrain dan 2 terzina
c. Dua quatrain merupakan sampiran dan merupakan satu kesatuan yang disebut octav.
d. Dua terzina merupakan isi dan merupakan satu kesatuan yang disebut isi yang disebut sextet.
e. Bagian sampiran biasanya berupa gambaran alam
f. Sextet berisi curahan atau jawaban atau kesimpulan daripada apa yang dilukiskan dalam ocvtav , jadi sifatnya subyektif.
g. Peralihan dari octav ke sextet disebut volta
h. Penambahan baris pada soneta disebut koda.
i. Jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya antara 9 – 14 suku kata
j. Rima akhirnya adalah a – b – b – a, a – b – b – a, c – d – c, d – c – d

Contoh :
Gembala
Perasaan siapa ta ‘kan nyala ( a )
Melihat anak berelagu dendang ( b )
Seorang saja di tengah padang ( b )
Tiada berbaju buka kepala ( a )
Beginilah nasib anak gembala ( a )
Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b )
Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b )
Pulang ke rumah di senja kala ( a )
Jauh sedikit sesayup sampai ( a )
Terdengar olehku bunyi serunai ( a )
Melagukan alam nan molek permai ( a )
Wahai gembala di segara hijau ( c )
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c )
Maulah aku menurutkan dikau ( c )
(Muhammad Yamin)

B. FUNGSI SONETA
Pada masa lahirnya, Soneta dipergunakan sebagai alat untuk menyatakan curahan hati.
Kini tidak terbatas pada curahan hati semata-mata, melainkan perasaan-perasaan yang lebih luas seperti :
1. Pernyataan rindu pada tanah air
2. Pergerakan kemajuan kebudayaan
3. Ilham sukma
4. Perasaan keagamaan

C. SONETA DIGEMARI PARA PUJANGGA BARU
Faktor-faktor Soneta digemari oleh para Pujangga Baru antara lain :
1. Adanya penyesuaian dengan bentuk pantun ; yakni Octav dalam Soneta yang bersifat obyektif itu hampir sejalan dengan sampiran pada pantun.
Sedangkan sextet Soneta yang sifatnya subyektif itu merupakan isi pantun.
2. Baris-baris Soneta yang berjumlah 14 buah itu cukup untuk menyatakan perasaan atau curahan hati penyairnya.
3. Soneta dapat dipakai untuk menyatakan beraneka ragam perasaan atau curahan hati penyairnya.

D. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN SONETA DENGAN PANTUN
1. PERSAMAAN SONETA DENGAN PANTUN
Pantun dan Soneta sama-sama mempunyai sampiran atau pengantar dan isi atau kesimpulan.

2. PERBEDAAN SONETA DENGAN PANTUN

a. Soneta puisi asli Italia, Pantun puisi asli Melayu
b. Satu bait Soneta terdiri terdiri dari 14 baris, satu bait Pantun terdiri atas 4 baris
c. Soneta berima bebas, pantun berima a-b-a-b

=============================
Menurut zamannya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru.

PUISI LAMA

Ciri-ciri puisi lama:

* Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.
* Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.
* Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.

Yang termasuk puisi lama adalah:

*Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
*Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka.
*Karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek.
*Seloka adalah pantun berkait.
*Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat.
*Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita.
*Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris.

PUISI BARU

Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama, baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima. Menurut isinya, puisi baru dibedakan atas:

* Balada adalah puisi berisi kisah/cerita.
* Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan.
* Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa.
* Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup.
* Romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih.
* Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan.
* Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik.

Sumber: http://duniapuisi.110mb.com/jenis-jenis%20puisi.htm

======================
berdasarkan buku yg saya baca (Kamus Pintar Bahasa Indonesia hal.95-100), gini lho (mgkn teoritis bgt nih) ….
Jenis puisi ada 2: Puisi lama, dan puisi baru. Dan berdasarkan bentuknya, jg ada 2: puisi terkait dan puisi bebas. Puisi lama termasuk puisi yang bentuknya terkait/terikat. Contohnya: pantun, karmina, syair, soneta, gurindam, dan masih banyak lagi. Dan puisi baru termasuk salah satu di dalamnya puisi modern. Nah, puisi anda termasuk puisi modern. Puisi modern adl curahan jiwa yang bebas lepas tak terkungkung oleh aturan apapun. Baik itu rima, bait maupun baris. Yang dipentingkan dalam puisi modern bukanlah bentuk, melainkan ketajaman dan kepadatan isi yang dikandungnya.
Puisi modern ini mulai berkembang di Indonesia sejak zaman jepang atau zaman Angkatan 45. Puisi modern ini dipelopori oleh Chairil Anwar. Dan anda termasuk salah satu aliran puisi modern di abad sekarang ini..

===================
Prosa.
Prosa itu terdiri dari:
syair/puisi,Pantun, Vabel/dongeng, Legenda, mitos dll.
Nah, kalo jenis Soneta, gurindam, kwartet, itu sih jenis-jenisnya sajak. Soneta itu berarti bersajak sepuluh, Kwartet=empat
jadi Puisi itu adalah bagian dari prosa, namun dikatakan puisi bila:
1. sajaknya teratur (A-B, A-B), (A-A, B-B)
2. memiliki bait, ada yg baitnya 2-2, 4-4
3. bahasanya kiasan, biasanya banyak menggunakan majas pertautan dan pengandaian (Metafora, hyperbola, ironisme, dll)

nah, kalo yg mas buat itu termasuk prosa yg menggunakan gaya bahasa Ironisme, termasuk prosa bebas/modern (sketsa hyperbola)
salam Spirit!!
materi referensi:
==============================

RAGAM DAN JENIS PUISI
Komuniti: Article | 23/07/2009 | 00:35:37 AM | 2788 Views

Ada bermacam-macam jenis puisi yang ditulis para penyair Indonesia. Karya sastra tidak bersifat otonom. Dalam memahami makna karya sastra, kita mengacu pada beberapa hal yang erat hubungannya dengan puisi tersebut. Dalam pemahaman puisi, hal yang dipandang erat hubungannya adalah jenis puisi itu sendiri dan sudut pandang penyair. Sebenarnya ada banyak sekali macam-macam puisi, dan bagaimana penyair dalam menyampaikan inspirasinya, serta bagaimana menafsirkan makna puisi dengan mudah. Sehingga mudah mengklasifikasikan, termasuk jenis puisi apakah yang kita ciptakan.

W.H Hudson menyatakan adanya puisi sebyektif dan puisi obyektif (1959:96). Cleanth Brooks menyebut adanya puisi naratif dan puisi deskriptif (1979:335-356). David Daiches menyebut adanya puisi fisik, platonic, dan metafisik (1948:145). X.J. Kennedy menyebut adanya puisi konkret dan balada (1071:116-226). Dalam kumpulan puisi Rendra, kita mengenal judul-judul: balada, romansa, stanza, serenada, dan sebagainya. Ada juga parable atau alegori. Sedangkan istilah ode, himne, puisi kamar, dan puisi auditorium juga sering kita jumpai.

1. Puisi Naratif, Lirik, dan Deskriptif
Klasifikasi puisi ini berdasarkan cara penyair mengungkapkan isi atau gagasan yang hendak disampaikan.

a. Puisi Narataif
Puisi naratif mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair. Ada puisi naratif yang sederhana, ada yang sugestif, dan ada yang kompleks. Puisi-puisi naratif, misalnya: epik, romansa, balada, dan syair.

Balada adalah puisi yang bercerita tentang orang-orang perkasa, tokoh pujaan, atau orang-orang yang menjadi pusat perhatian. Rendra banyak sekali menulis balada tentang orang-orang tersisih, yang oleh penyairnya disebut “Orang-orang Tercinta”. Kumpulan baladanya yaitu, Balada Orang-orang Tercinta dan Blues Untuk Bonnie.

Romansa adalah jenis puisi cerita yang menggunakan bahasa romantic berisi kisah percintaan yang berhubungan dengan ksatria, dengan diselingi perkelahian dan petualangan yang menambah percintaan mereka lebih mempesonakan. Rendra juga banyak menulis romansa. Salah satu bagian dalam “Empat Kumpulan Sajak”nya berjudul “Romansa” dan berisi jenis puisi romansa, yakni kisah percintaan sebelum Rendra menikah. Kirdjomuljo menulis romansa yang berisi kisah petualangan dengan judul “Romance Perjalanan”. Kisah cinta ini dapat huga berarti cinta tanah kelahiran seperti puisi-puisi Ramadhan K.H. Priangan “Si Jelita”. Priode 1953-1961 banyak ditulis jenis romansa ini.

b. Puisi Lirik
Dalam puisi lirik penyair mengungkapkan aku lirik atau gagasan pribadinya. Ia tidak bercerita. Jenis puisi lirik misalnya: elegi, ode, dan serenada.

Elegi adalah Puisi yang mengungkapkan perasaan duka. Misalnya “Elegi Jakarta” karya Asrul Sani yang mengungkapkan perasaan duka penyair di kota Jakarta.

Serenada adalah Sajak percintaan yang bisa dinyanyikan. Kata serenada berarti nyanyian yang tepat dinyanyikan pada waktu senja. Rendra banyak menciptakan serenada dalam ‘Empat Kumpulan Sajak’. Misalnya Serenada hitam, Serenada Biru, serenade Merah Jambu, serenade ungu, Serenada Kelabu, dan sebagainya. Warna-warna dibelakang serenada itu melambangkan sifat nyanyian cinta itu, ada yang bahagia, sedih, kecewa, dan seterusnya.

Ode adalah Puisi yang berisi pujaan terhadap seseorang, sesuatu hal, sesuatu keadaan. Yang banyak ditulis adalah pemujaan terhadap tokoh-tokoh yang dikagumi. “Teratai” Sanusi Pane, “Diponegoro” Chairil Anwar, dan “Ode Buat Proklamator” Leon Agusta merupakan contoh ode yang bagus.

Berikut ini kutipan Ode Buat Proklamator, sebuah ode yang memuja tokoh proklamator Bung Karno dan Bung Hatta.

ODE BUAT PROKLAMATOR
Bertahun setelah kepergiannya kurindukan dai kembali
Dengan gelombang semangat halilintar dilahirkan sebuah negri; dalam Lumpur dan lumut
Dengan api menyapu kelam menjadi untaian permata hijau dibentangan cahaya abadi
Yang sesantiasa membuatnya tak pernah berhenti bermimpi menguak kabut gulita mendung, menerjang benteng demi benteng membalikkan arah to[pan, menjelmakan impian demi impian
Dengan seorang sahabatnya, mereka tanda tangani naskah itu
Mereka memancang tiang bendera, merobah nama dan peta, berjaga membacakan sejarah, menggenti bahasa pada buku
Lalu dia meniup terompet dengan selaksa nada kebangkitan sukma.

Kini kita ikut membubuhkan nama diatas bengkalainya; meruntuhkan sambil mencari, daftar mimpi membelit bulan perang saudara mengundang musnah, dendam tidur di hutan-hutan, di sawah terbuka yang sakti
Kata berpasirdibibir pantai hitam dan oh, lidahku yang terjepit, buih lenyap dilaut biru derap suara yang gempita Cuma bertahan atau menerkam
Ya, walau tak mudah, kurindukan semangatnya menyanyi kembali bersama gemuruh cinta yang membangun sejuta rajawali
Tak mengelak dalam bercumbu, biar berbisa perih dirabu
Berlapis cemas menggunung sesal mutiara matanya yang pudar
Bagi negriku, bermimpi dibawah bayangan burung garuda
(Hukla 1979)

Dalam puisi ini, dapat diungkapkan rasa kagum penyair kepada sang proklamator. Ungkapan-ungkapan rasa kagum ini sangat mengena dan tidak bersifat klise. Kerinduan penyair untuk mendengarkan bara semangat yang ditiupkan lewat pidato-pidato yang berapi-api, dapat kita hayati sejak enam baris terakhir.

c. Puisi Deskriptif
Didepan telah dinyatakan bahwa dalam puisi deskriptif, penyair bertindak sebagai pemberi kesan terhadap keadaan / peristiwa, benda, atau suasana dipandang menarik perhatian penyair. Jenis puisi yang dapat diklasifikasikan dalam puisi deskriptif, misalnya puisi satire, kritik sosial, dan puisi-puisi impresionitik.

Satire adalah Puisi yang mengungkapkan perasaan tidak puas penyair terhadap suatu keadaan, namun dengan cara menyindir atau menyatakan keadaan sebaliknya.

Kritik Sosial adalah Puisi yang juga menyatakan ketidak senangan terhadap keadaan tau terhadap diri seseorang, namun dengan cara membeberkan kepincangan atau ketidak beresan keadaan / orang tersebut.

Impresionistik adalah Puisi yang mengungkapkan kesan (impresi) penyair terhadap suatu hal.

2. Puisi Kamar dan Puisi Auditorium
Istilah puisi kamar dan puisi auditorium juga kita jumpai dalam buku kumpulan puisi ‘Hukla’ karya Leon Agusta. Puisi-puisi auditorium disebut juga puisi Hukla (puisi yang mementingkan suara atau serangakaian suara).
Puisi Kamar ialah Puisi yang cocok dibaca sendirian atau dengan satu atau dua pendengar saja di dalam kamar.

Puisi Auditorium adalah Puisi yang cocok dibaca di auditorium, di mimbar yang jumlah pendengarnya dapat ratusan orang.

Sajak-sajak Leon Agusta banyak yang dimaksudkan untuk sajak auditorium. Puisi-puisi Rendra kebanyakan adalah puisi auditorium yang baru memperlihatkan keindahannya setelah suaranya terdengar lewat pembacaan yang keras. Puisi auditorium disebut juga puisi oral karena cocok untuk dioralkan.

3. Puisi Fisikal, Platonik, dan Metafisikal
Pembagian puisi oleh David Daiches ini berdasarkan sifat dari isi yang dikemukakan dalam puisi itu.

Puisi Fisikal adalah Puisi bersifat realistis, artinya menggambarkan kenyataan apa adanya. Yang dilukiskan adalah kenyataan dan bukan gagasan. Hal-hal yang didengar, dilihat, atau dirasakan merupakan obyek ciptaannya. Puisi-puisi naratif, balada, impresionistis, juga puisi dramatis biasanya merupakan puisi fisikal.

Puisi Platonik adalah Puisi yang sepenuhnya berisi hal-hal yang bersifat spiritual atau kejiwaan. Dapat dibandingkan dengan istilah ‘Cinta Platonis’ yang berarti cinta tanpa nafsu jasmaniah. Puisi-puisi ide atau cita-cita, religius, ungkapan cinta luhur seorang kekasih atau orang tua kepada anaknya dapat dimasukkan ke dalam klasifikasi puisi platonik.

Puisi Metafisikal adalah Puisi yang bersifat filosofis dan mengajak pembaca merenungkan kehidupan dan merenungkan Tuhan. Puisi religius disatu pihak dapat dinyatakan puisi platonic (menggambarkan ide atau gagasan penyair), dilain pihak dapat disebut sebagai puisi metafisik (menagjak pembaca merenungkan hidup, kehidupan, dan Tuhan), karya-karya mistik Hamzah Fansuri seperti Syair Dagang, Syair Perahu, dan Syair Si Burung Pingai dapat dipandang sebagai puisi metafisikal. Kasidah-kasidah “Al-Barzanji” karya Ja’far Al-Barzanji dan tasawuf karya Jalaludin Rumi dapat diklasifikasikan sebagai puisi metafisikal.

4. Puisi Subyektif dan Puisi Obyektif
Puisi Subyektif disebut juga Puisi Personal, yakni puisi yang mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan, dan suasana dalam diri penyair sendiri. Puisi-puisi yang ditulis kaum ekspresionis dapat diklasifikasikan sebagai puisi subyektif, karena mengungkapkan keadaan jiwa penyair sendiri. Demikian pula puisi lirik dimana aku lirik bicara kepada pembaca.

Puisi Obyektif berarti Puisi yang mengungkapkan hal-hal diluar diri penyair itu sendiri. Puisi obyektif disebut juga puisi impersonal. Puisi naratif dan deskriptif kebanyakan adalah puisi obyektif, meskipun juga ada beberapa yang subyektif.

5. Puisi Konkret
Puisi konkret sangat terkenal dalam dunia perpuisian Indonesia sejak tahun 1770-an. X.J.Kennedy memberikan nama jenis puisi tertentu dengan nama puisi konkret, yakni puisi yang bersifat visual, yang dapat dihayati keindahan bentuk dari sudut pandang (poem for the eye). Kita mengenal adanya bentuk grafis dari puisi, kaligrafi, ideogramatik, atau puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri yang menunjukkan pengimajian lewat bentuk grafis. Dalam puisi konkret ini, tanda baca dan huruf-huruf sangat potensial membentuk gambar. Gambar wujud fisik yang ‘kasat mata’ lebih dipentingkan dari pada makna yang ingin disampaikan. Contoh dalam bahasa Inggris, misalnya karya Joice Klimer berikut ini :
t
ttt
rrrrrrr
eeeeeeeee
???

Kata yang hendak dinyatakan dalam puisi ini hanyalah ‘tree’, namun karena membentuk gambar pohon natal, maka pembaca mengetahui bahwa yang dimaksud penyair adalah pohon natal. Karya Sutardji banyak sekali yang dapat diklasifikasikan sebagai puisi konkret. Kemudian diikuti oleh penyair-penyair yang lebih muda. Puisi konkret ada yang berbentuk segi tiga, kerucut, belah ketupat, piala, tiang lingga, oval, spindle, ideografik, dan ada juga yang menunjukkan lambang tertentu.

6. Puisi Diafan, Gelap, dan Prismatis
Puisi Diafan atau puisi polos adalah puisi yang kurang sekali menggunakan pengimajian, kata konkret dan bahasa figurative, sehingga puisinya mirip dengan bahasa sehari-hari. Puisi yang demikian akan sangat muda dihayati maknanya. Puisi-puisi anak-anak atau puisi karya mereka yang baru belajar menulis puisi dapat diklasifikasikan puisi diafan. Mereka belum mampu mengharmoniskan bentuk fisik untuk mengungkapkan makna. Dengan demikian penyair tersebut tidak memiliki kepekaan yang tepat dalam takarannya untuk lambang, kiasan, majas, dan sebagainya. Jika puisi terlalu banyak majas, maka puisi itu menjadi gelap dan sukar ditafsirkan. Sebaliknya jika puisi itu kering akan majas dan versifikasi, maka itu akan menjadi puisi yang bersifat prosaic dan terlalu cerlang sehingga diklasifikasikan sebagai puisi diafan.

Dalam puisi prismatis penyair mampu menyelaraskan kemampuan menciptakan majas, versifikasi, diksi, dan pengimajian sedemikian rupa sehingga pembaca tidak terlalu mudah menafsirkan makna puisinya, namun tidak terlalu gelap. Pembaca tetap dapat menelusuri makna puisi itu. Namun makna itu bagaikan sinar yang keluar dari prisma. Ada bermacam-macam makna yang muncul karena memang bahasa puisi bersifat multi interpretable. Puisi prismatis kaya akan makna, namun tidak gelap. Makna yang aneka ragam itu dapat ditelusuri pembaca. Jika pembaca mempunyai latar belakang pengetahuan tentang penyair dan kenyataan sejarah, maka pembaca akan lebih cepat dan tepat menafsirkan makna puisi tersebut.
Penyair-penyair seperti Amir Hamzah dan Chairil Anwar dapat menciptakan puisi-puisi prismatis. Namun belum tentu semua puisi yang dihasilkan bersifat prismatis. Hanya dalam suasana mood seorang penyair besar mampu menciptakan puisi prismatis. Jika puisi itu diciptakan tanpa kekuatan pengucapan, maka niscaya tidak akan dapat dihasilkan puisi prismatis. Puisi-puisi dari orang yang baru belajar menjadi penyair biasanya adalah puisi diafan. Namun kadang-kadang juga kita jumpai puisi gelap.

7. Puisi Pernasian, dan Puisi Inspiratif
Pernasian adalah sekelompok penyair Prancis pada pertengahan akhir abad 19 yang menunjukkan sifat puisi-puisi yang mengandung nilai keilmuan. Puisi pernasian diciptakan dengan pertimbangan ilmu atau pengetahuan dan bukan didasari oleh inspirasi karena adanya mood dalam jiwa penyair. Puisi-puisi yang ditulis oleh ilmuwan yang kebetulan mampu menulis puisi, kebanyakan adalah puisi pernasian. Puisi-puisi Rendra dalam “Potret Pembangunan” dalam puisi yang banyak berlatar belakang teori ekonomi dan sosiologi dapat diklasifikasikan sebagai puisi pernasian. Demikian juga puisi-puisi Dr. Ir. Jujun S. Suriasumantri yang sarat dengan pertimbangan keilmuan.

Puisi Inspiratif diciptakan berdasarkan mood atau passion. Penyair benar-benar masuk ke dalam suasana yang hendak dilukiskan. Suasana batin penyair benar-benar terlibat kedalam puisi itu. Dengan mood, puisi yang diciptakan akan memiliki tenaga gaib, sekali baca habis. Pembaca memerlukan waktu cukup untuk menafsirkan . puisi prosaic seperti karya penyair-penyair tahun 1970-an dibawah ini, termasuk puisi yang menggunakan bahasa pernassioan.

Karena Jajang
Tuhan
Saya minta duit
Buat beli sugus
Karena Jajang
Lagi doyan sugus

8. Stansa
Jenis puisi yang bernama stanza kita jumpai dalam Empat Kumpulan Sajak karya Rendra. Stanza artinya puisi yang tediri atas 8 baris. Stanza berbeda dengan oktaf karena oktaf dapat terdiri atas 16 atau 24 baris. Aturan pembarisan dalam oktaf adalah 8 baris untuk tiap bait, sedangkan dalam setanza seluruh puisi itu hanya terdiri atas 8 baris. Berikut ini dikutip contoh stanza yang ditulis sekitar tahun 1969.

Malam kelabu
Ada angina mnerpa jendela
Ada langit berwarna kelabu
Hujan titik satu-Saturday menatap cakrawala malam jauh
Masih adakah kuncup-kuncup mekar
Atau semua telah layu
Kelu dalam seribu janji
Kelam dalam penantian.
(Herwa, 1969)

9. Puisi Demonstrasi dan Pamflet
Puisi demonstrasi menyaran pada puisi-puisi Taufiq Ismail dan mereka yang oleh Jassin disebut angkatan 66. puisi ini melukiskan dan merupakan hasil refleksi demonstrasi para maha siswa dan pelajar sekitar tahun 1966. Menurut subagio Sastrowardoyo, puisi-puisi demonstrasi 1966 bersifat ke-kita-an, artinya melukiskan perasaan kelompok, bukan perasaan individu. Puisi-puisi mereka adalah endapan dari pengalaman fisik, mental, dan emosional selama penyair terlibat dalam demonstrasi 1966. gaya paradoks dan ironi banyak kita jumpai. Sementara itu, kata-kata yang membakar semangat kelompok banyak dipergunakan, seperti kebenaran, kamanusiaan, tirani, kebatilan, dan sebagainya. Di bawah ini dikemukakan salah satu contoh.

Mimbar
Dari mimbar ini telah dibicarakan
Pikiran-pikiran dunia
Suara-suara kebebasan
Tanpa ketakutan

Dari mimbar ini diputar lagi
Sejarah kemanusiaan
Pengembangan teknologi
Tanpa ketakutan

Di kampus ini
Telah dipahatkan
Kemerdekaan

Segala despot dan tirani
Tidak bisa dirobohkan
Mimbar kami
(Taufiq Ismail, 1966)

Seperti halnya puisi pamflet, puisi-puisi demonstrasi merupakan ungkapan sepihak, sehingga kebenaran sulit ditrima secara obyektif. Pihak yang dibela diberikan tempat dan kedudukan yang terhormat dan serba benar, sedang pihak yang dikritik dilukiskan berada dalam posisi yang kurang simpatik.

Puisi pamflet juga mengungkapkan protes social. Disebut puisi pamflet karena bahasanya adalah bahasa pamflet. Kata-katanya mengungkapkan rasa tidak puaas kepada keadaan. Munculnya kata-kata yang berisi protes secara spontan tanpa proses pemikiran atau perenungan yang mendalam. Istilah-istilah gagah membela kelompoknya disertai dengan istilah tidak simpatik yang memojokkan pihak yang dikritik. Seperti halnya puisi demonstrasi, bahasa pusi pamflet juga bersifat prosaic.

Rendra adalah tokoh puisi pamflet. Didepan telah diberikan salah satu contoh puisi pamflet Rendra yang berjudul “Sajak Burung Kondor”. Kata-kata cukong, dan kondom dinyatakan bersam dengan kata-kata penderitaan, kelaparan, dan kesengsaraan rakyat kecil yang dibela. Dalam pusi-puisi pamflet banyak kita jumpai kata-kata tabu yang diungkapkan penyair untuk menunjukkan kedongkolan hati penyair kepada pihak yang dikritik atau terhadap keadaan yang tidak memuaskan dirinya.
Puisi pamflet Rendra kehilangan makna konotatif, suatu kehebatan Rendra dalam menciptakan puisi pada tahun 50-an. Kata-kata kasar, ungkapan-ungkapan langsung ke sasaran, dan hiperbola yang bertujuan memojokkan pihak yang dikritik banyak kita jumpai dalam puisi-puisi pamflet Rendra. Puisi-puisi pamflet Rendra ini mengingatkan kita akan puisi-puisi Jerman pada awal industrialisasi di sana. Puisi-puisi pamflet Rendra kebetulan merupakan reaksi terhadap industrialisasi yang berkembang pesat sekitar tahun 1974 (seperti halnya puisi pamflet Jerman). Berikut ini dikutip salah satu puisi pamflet Rendra

Menghirup sebatang lisong,
Melihat Indonesia Raya,
Mendengar 130 juta rakyat,
Dan di langit
Dua tiga cukong mengangkang,
Berak diatas mereka
………………………………….
Delapan juta kanak-kanak
Menghadapi satu jalan panjang,
Tanpa pilihan,
Tanpa pohonan
Tanpa dangau persinggahan,
Tanpa ada bayangan ujungnya
…………………………………..
Menghisap udara
Yang disemprot deodorant,
Aku melihat sarjana-sarjana menganggur
Berpeluh di jalan raya;
Aku melihat wanita bunting
Antri uang pensiun
Dan di langit:
Para teknokrat berkata :
Bahwa bangsa kita adalah malas
Bahwa bangsa mesti dibangun
Mesti di up-grade,
Disesuaikan dengan teknologi yang diimport.
……………………………………………………
Bunga-bunga bangsa tahun depan
Berkunang-kunang pandang matanya,
Di bawah iklan berlampu neon.
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
Menjadai gembalau suara kacau,
Menjadi karang di bawah muka samudra.
Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode
Tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
Keluar ke desa-desa,
Mencatat sendiri semua gejala,
Dan menghayati persoalan yang nyata.
Inilah sajakku
Pamflet masa darurat,
Apakah arti kesenian,
Bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
Bila terpisah dari masalah kehidupan.

10. Alegori
Puisi sering-sering mengungkapakan cerita yang isinya dimaksudkan untuk memberikan nasihat tentang budi pekerti dan agama. Jenis alegori yang terkenal adalah parable yang juga disebut dongeng perumpamaan. Dalam kitab suci banyak kita jumpai dongeng-dongeng perumpamaan yang maknanya dapat kita cari dibalik yang tersurat. Puisi “Teratai” karya Sanusi Pane boleh dikatakn sebagai puisi alegori, karena kisah bunga teratai itu digunakan untuk mengisahkan tokoh pendidikan. Kisah tokoh pendidikan yang dilukiskan sebagai teratai itu digunakan untuk memberi nasihat kepada generasi muda agar mencontoh teladan ‘teratai’ itu. Cerita berbingkai seperti Panca Tantra, 1001 Malam, Bayan Budiman dan Hikayat Bachtiar juga dapat diklasifikasikan sebagai parable.

*) Catatan yang aku temukan dibangku sekolah

Zay pujangga persembahkan untuk Zu yang terkasih dan tercinta bagi seluruh member kapasitor. Semoga sukses dan berjaya.

E_mail add: kymaszay@yahoo.co.id
swarapujangga.blogspot.com
karyaswarapujangga.blogspot.com
=======================
http://www.lubisgrafura.wordpress.com

Berbagai Bentuk Puisi dan Pantun

1. Gurindam
Sajak dua baris yang mengandung petuah atau nasihat.
Misal: Baik-baik memilih kawan
Salah-salah bisa jadi lawan
2. Karmina
Pantun dua seuntai (pantun kilat) baris pertama sebagai sampiran dan baris kedua sebagai isi berupa sindiran dengan rumus rima a-a
Misal: Kayu Lurus dalam ladang
Kerbau kurus banyak tulang
3. Talibun
Bentuk puisi lama dalam kesusastraan Indonesia (Melayu) yang jumlah barisnya lebih dari empat, biasanya sampai 16-20, serta punya persamaan bunyi pada akhir baris (ada juga yang seperti pantun dengan jumlah baris genap seperti 6, 8, 12)
Talibun adalah sejenis puisi lama seperti pantun karena mempunyai sampiran dan isi, tetapi lebih dari 4 baris ( mulai dari 6 baris hingga 20 baris). Berirama abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde, dstnya.
Ciri-ciri Talibun adalah seperti berikut:-
· Ia merupakan sejenis puisi bebas
· Terdapat beberapa baris dalam rangkap untuk menjelaskan pemerian
· Isinya berdasarkan sesuatu perkara diceritakan secara terperinci
· Tiada pembayang. Setiap rangkap dapat menjelaskan satu keseluruhan cerita
· Menggunakan puisi lain (pantun/syair) dalam pembentukannya
· Gaya bahasa yang luas dan lumrah (memberi penekanan kepada bahasa yang berirama seperti pengulangan dll)
· Berfungsi untuk menjelaskan sesuatu perkara
· Merupakan bahan penting dalam pengkaryaan cerita penglipur lara
Tema Talibun
Tema talibun biasanya berdasarkan fungsi puisi tersebut. Contohnya seperti berikut:-
· Mengisahkan kebesaran/kehebatan sesuatu tempat dll
· Mengisahkan keajaiban sesuatu benda/peristiwa
· Mengisahkan kehebatan/kecantikan seseorang
· Mengisahkan kecantikan seseorang
· Mengisahkan kelakuan dan sikap manusia
Contoh Talibun
Tengah malam sudah terlampau
Dinihari belum lagi nampak
Budak-budak dua kali jaga
Orang muda pulang bertandang
Orang tua berkalih tidur
Embun jantan rintik-rintik
Berbunyi kuang jauh ke tengah
Sering lanting riang di rimba
Melenguh lembu di padang
Sambut menguak kerbau di kandang
Berkokok mendung, Merak mengigal
Fajar sidik menyinsing naik
Kicak-kicau bunyi Murai
Taktibau melambung tinggi
Berkuku balam dihujung bendul
Terdengar puyuh panjang bunyi
Puntung sejengkal tinggal sejari
Itulah alamat hari nak siang
(Hikayat Malim Deman)

4. Syair
Syair adalah puisi atau karangan dalam bentuk terikat yang mementingkan irama sajak. Biasanya terdiri dari 4 baris, berirama aaaa, keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair (pada pantun, 2 baris terakhir yang mengandung maksud).
Daftar syair
· Syair Bidasari
· Syair Ken Tambuhan
· Syair Kerajaan Bima
· Syair Raja Mambang Jauhari
· Syair Raja Siak
Syair disebut juga puisi lama yang tiap-tiap bait terdiri atas empat larik (baris) yang berakhiran dengan bunyi yang sama

Sumber :
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Wikipedia. 2007. Talibun. (online) (http://id.wikipedia.org/wiki/Talibun, diakses pada tanggal 23 Agustus 2007)

Wikipedia. 2007. Syair. (online) (http://id.wikipedia.org/wiki/Talibun, diakses pada tanggal 23 Agustus 2007)
========================

Ensiklopedia bahasa indonesia kelas X

konjungsi/kata sambung

Kata sambung (konjungsi) adalah kata yang digunakan untuk menyambung atau menghubungkan kata dengan kata, kalimat dengan kalimat, paragraf dengan paragraf, ide-ide dengan ide-ide, dan sejenisnya.

Ragam kata sambung :

a. Kata sambung asal, misalnya : dan, maka, sedang, hingga, meski, lalu, bila, sambil, atau, serta, karena, jika, dll.
b. Kata sambung jadian / bentukan:
– kata ulang, misalnya : jangan-jangan, seakan-akan, kalau-kalau, dll.
– kata sambung majemuk, misalnya : apabila, lagi pula, karena itu, andaikata, sebab itu, dll.
– kata sambung berimbuhan, misalnya : sebelum, selama, sehingga, seandainya, sekiranya, melainkan, semenjak, andaikan, bagaikan, asalkan, sedangkan, jangankan, walaupun, meskipun, kendatipun, bermula, sebermula, dll.

Makna kata sambung :
a. Sebagai pengantar (kalimat), misalnya : alkisah, syahdan, arkian, maka, sebermula, bahwasanya, hatta, adapun, dll.
b. Sebagai himpunan / kumpulan, misalnya : dan, lagi, dengan, lagi pula, tambahan lagi, dll.
c. Yang menyatakan pertentangan, misalnya : tetapi, hanya, sedangkan, biar, meski, meskipun, sekalipun, walaupun, sungguhpun, melainkan, dll.
d. Yang menyatakan sebab, misalnya : sebab, karena, oleh sebab itu, oleh karena, dll.
e. Yang menyatakan akibat, misalnya : sampai, sehingga, sebab itu, karena itu, sampai-sampai, dll.
f. Yang menyatakan waktu, misalnya : bila, waktu, ketika, mula-mula, apabila, bilamana, sebelum, selama, setelah, tatkala, semenjak, sesudah, setelah, dll.
g. Yang menyatakan tempat, misalnya : sampai, hingga.
h. Yang menyatakan maksud, misalnya : supaya, agar, agar supaya.
i. Yang menyatakan syarat, misalnya : asal, asalkan, jika, andaikata, kalau, seandainya, dll.
j. Yang menyatakan perwatasan, misalnya : kecuali.
k. Yang menyatakan keadaan/perihal, misalnya : sambil, seraya.
l. Yang menyatakan perbandingan, misalnya : seperti, bagaikan, sebagai, seakan-akan, dll.
m. Yang menyatakan modalitas, misalnya : jangan-jangan, kalau-kalau.

(Disarikan dari : Tatabahasa Indonesia – Soekono Wirjosoedarmo)

—————————-o0o————————-

Ensiklopedi Bahasa Indonesia Kelas XI

Sastra

Roman, pada awalnya sebuah cerita yang ditulis dengan bahasa romagna yaitu sebuah daerah di sekitar Roma. Roman berisi kisah petualangan (armtur) dan kasih asmara. Biasanya kisahnya dimulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa.

Parabel, adalah cerita perumpamaan untuk menyampaiakan ajaran moral. Dan biasanya banyak diketemukan dalam alquran.

Anekdot, adalah cerita singkat yang menarik krena lucu dan mengesankan, biasanya mengenai orang-orang penting dan terkenal dan berdasarkan kejadian yang sebebnarnya.

Novel picisan, adalah sebutan untuk novel bermutu rendah/murahan. (picis =10 sen = seketip)

Latar, merupakan lukisan tempat, hubungan waktu, lingkungan social, tempat terjadinya peristiwa.
Fungsi latar :1) lebih menghidupkan cerita, 2) menggambarka situasi batin/psikologis tokoh

Makna/ nilai, sebuah cerita dapat ditemukan jika kita membaca secara keseluruhan cerita. Makna/nilai cerita dapat berupa perilku tokoh, makna latar, dan makna penyudut pandangan.

Mengidentifikasi tokoh karya sastra, yaitu;
1. fisiologi, meliputi cirri muka, cirri tubuh, usia, jenis kelamin, pakaian;
2. psikologis, meliputi perasaan, pola piker, pola bicara dan pola tingkah laku
3. sosiologis, meliputipekerjaan, jabatan, pendidikan, ideology, status social, aktifitas social, kepercayaan dan kehidupan pribadi.

Karakter tokoh dibagi , yaitu;
1. protagonist, tokoh yang berwatak baik, pembawa misi kebenaran/mulia.
2. antagonis, tokoh berwatak jahat dan menjadi musuh atau penghalang cita-cita tokoh protagonist
3. tritagonis, tokoh yang berperan sebagai penengah antara tokoh protagonis dan tokoh antagonis
4. tokoh pembantu

Materi tambahan

Jenis wawancara antara lain;
1. wawancara sosok pribadi adalah wawancara untuk mengetahui profil hidup seseorang terkait profesinya (personal interview).
2. wawancara berita adalah wawancara untuk meminta tanggapan seseorang atas suatu kejadian (news reg interview).
3. wawancara jalanan, yaitu wawancara dengan menyetop orang dijalan (man in the street interview).

Format pengetikan surat ada beberapa macam;
1. lurus penuh (full block style), dari tanggal sampai inisial pengirim semua dari sebelah kiri dan membentuk garis lurus.
2. lurus (block style), tanggal surat dan pengiriman ada disebelah kanan, bagian yang lainnya rat disebelah kiri.
3. setengah lurus (semi block style), sama dengan block style hanya disetiap alinea baru masuk 5 spasi.
4. lekuk (indented Style)
5. menggantung (haksius).

Drama
Tahap pementasan drama;
1. prapementasan
a. analisis situasi dan pendengar
b. membedah naskah
c. pelatihan
2. pementasan
3. pasapementasan
a. evaluasi
b. tindak lanjut

Macam-macam gerakan dalam drama;
1. onstage, muncul ke arena panggung
2. down stage, mendekat kearah penonton.
3. upstage, menjauhi penonton ke sisi belakang
4. curve movement, melangkah membentuk garis lengkung
5. crossing melintasi bentangan area panggung
6. offstage, meninggalkan arena panggung

catatan tentang gerakan;
a) setiap gerakan harus dengan ekpresi, dan mata meupakan pusat ekspresi
b) jangan melakukan gerakan tanpa suatu alas an/tujuan
c) jangan membelakangi penonton, ketika berputar, pertahankan wajah tetap terlihat,
d) blocking harus memudahkan pemain untuk melakukan action.

Merangkum, langkah-langkahnya sbb.;
1. menemukan kalimat utama dalam setiap paragraph.
2. menemukan kata kunci pada setiap paragraph.
3. menyusun kata-kata kunci menjadi kalimat efektif.
4. membaca kembali informasi yang disampaikan untuk mengecek ketepatan rangkuman.

Meringkas, langkah-langkahnya sbb;
1. membaca naskah asli
2. mencari ide pokok
3. menyusun ringkasan berdasarkan ide pokok.
a. mempertahankan urutan gagasan asli
b. menghilangkan kata yang tidak perlu
c. mengubah kalimat menjadi frasa, frasa menjadi kata
d. menggunakan kalmia tunggal.

Istilah-istilah
– Casting, memilih pemain sesuai dengan karakter tokoh
– Improvisasi, acting spontan yang tidakk ada dalam kenario atau tidak diperiapkan terlebih dahulu.
– Properti, pelengkapan pementasan,
– Skenario, naskah drama

Manfaat karya tulis ilmiah,
a. melatih berfikir, menuangkan ide, memecahkan masalah secara sistematis
b. melatih mendokumentasikan gagasan, hasil temuan, pengetahuan
c. mendorong semangat membaca
d. menambah wawasan.

Kuisioner, alat penelitian berupa rangkaian pertanyaan tertulis untuk mendapatkan tanggapan dari kelompok orang terpilih (sampel).

Populasi adalah sasaran penelitian.

Sampel adalah, sebagian dari populasi yang benar-benar diteliti yang diaggap mewakili populasi.

Bagian pokok surat kabar adalah sbb;
1. berita utama; berita actual hari ini
2. tajuk rencana; ulasan masalah teraktual beberapa hari terakhir
3. kolom opini; tulisan berupa pendapat para ahli
4. pojok; kritik dari redaktur yang disampaikan denga gaya humor yang ilmiah.

Tajuk rencana, bertujuan untuk;
a. menyampaikan gejala social
b. menyampaikan penilaian terhadap suatu hal
c. memberi informasi
d. memberi penjelasan
e. menyampaikan alas an
f. meramalkan situasi yang akan dating
g. mempengaruhi pembaca
Sumber data, adalah semua informasi, absatrak atau kokret, peristiwa/kejadian. Adapun pengmpulan data dapat dilakukan dengan observasi, wawancara, angket. Dll.

Analog, searti meniru
Auditif berkaitan dengan pendengaran
Cikal bakal, awal penyebab
Depresi, gangguan jiwa yang ditandai peraaan tertekan
Dinamika, gaya pergerakan
Eksistensi, keberadaan
Halusinasi, pengalaman indra tanpa ada rangsangan
Kreatif, memiliki daya cipta
Kronis, berjangkit terus dalam waktu lama
Melempem, tak bersemangat
Psikoterapi pengobatan dengan menggunakan pengaruh kekuatan batin dokter.
Sosialisasi, proses mengenal, menghayati, dan berbaur dengan lingkungan
Psikotropika, zat/obat lamiah atau sisntesis, berakibat psiko-aktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat.

Ekstasi, nama salah satu jenis pikotropika yang dikenal Negara-negara anggota interpol

Manuskrip, adalah naskah tulisan tangan, baik dengan pena maupun ketikan yang bukan cetakan.

Makalah, adalah karya tulis pelajar sebagai laporan hasil pelaksanaan tugas.
Skripsi, adalah karangan ilmiah sebagai syarat memperoleh gelar sarjana (S1).
Tesis, adalah karangan ilmiah sebagai syarat memperoleh gelar sarjana (S2).
Disertasi, adalah karangan ilmiah untuk memperoleh gelar doctor (S3).

Linguistik

Frasa endosentris, salah satu unsur kata nya merupakan unsur inti dan unsur yang lain menjadi pewatas. Contoh frasa; “lima pengamen jalanan”.

Frasa eksosentris, adalah kebalikan dari frasa endosentris. Conto frasa; “sumber daya alam”.

Majas hiperbola, melukiskan sesuatu sifat atau keadaan secara berlebih-lebihan melampaui keadaan yang sebenarnya, hal yang diungkapkan tak sesuai dengan fakta.

Majas simile, cara menggambar sesuatu denga mempersamakan objek lain yang memiliki kemiripan sifat,dan dinyatakan dengan kata pembanding. Contoh; seperti, ibarat, laksana

Opini merupakan pendapat yang gagasannya masih ada dalam pikiran dan peristiwanya belum terjadi sedangkan fakta merupakan sesuatu yang telah terjadi

Paragraf kohesif, adalahyang pembentukannya saling berhubungan secara erat. Hubngan dinyatakan secara eksplisit dengan konjungtor, reduplikasi, kata ganti dll.

Hiponim adalah hubungan antar makna spesifik dan makna senerik, contoh kata, kemor, kecrek, gendang kempul, gong, adalah hiponim dari musik gambang kromong.

Homofon merupakan kata yang memiliki persamaan pelafalan/pengucapan, tetapii ejaan penulisan dan arti berbeda. Contoh kata sanksi dan sangsi.

Akronim, singkatan berupa gabungan huruf atau suku kata yang ditulis dan diucapkan seperti kata. Contoh; posyandu, siskamling.

Kata ulang semu, adalah kata ulang tetapi sebenarnya bukan kata ulang, contoh kata; ondel-ondel, ubur-ubur, cumi-cumi.

Kata ulang salin suara, kata ulang yang disertai perubahan bunyi pada hasil perulangannya, a) kata ulang berubah bunyi vocal, contoh; serba-serbi, warna-warni, b) berubah bunyi konsonan, contoh; lauk-pauk, sayur-mayur.

Kata bilangan, disebut juga dengan numerelia, kata ini ada 3 macam yaitu;
1. kata bilangan jumlah,
2. kata bilangan tingkat
3. kata bilangan kumpulan

kalimat utama, kalimat dalam paragraph yang paling umum dan memuat ide/pikiran utama.

Antitesis, adalah gaya bahasa dengan mengungkapkan gagasan dengan menggunakan kata-kata yang bertentangan (antonym). Contoh frsa; memuat dua puluh kiah nyata upaya perorangn,tua muda, besar kecil..”

Spesialisasi adalah semakin menyempitnya cakupan makna suatu kata. Contoh kata menulis.

Ungkapan adalah gabungan dua kata atau lebih yang bermakna kiasan, dan tudak diartikan perkata tetapi sudah melebur menjadi satu makna baru. Contoh; kata akal bulus

Keterangan:

————————————————————–

Ensiklopedi Bahasa Indonesia Kelas XII

Ide pokok merupakan hal pokok yang diungkapkan dalam paragraf. Ide pokok juga merupakan inti keseluruhan isi paragraf. Ide pokok terdapat pada kalimat utama yang didukung oleh kalimat-kalimat penjelas.

Opini merupakan pendapat yang gagasannya masih ada dalam pikiran dan peristiwanya belum terjadi sedangkan fakta merupakan sesuatu yang telah terjadi

Linguistik

Rumus Silogisme
Premis Umum : (PU) A=B
Premis Khusus : (PK) C=A
Kesimpulan : (K) C=B

Keterangan:
Semua orang, semua golongan, semua benda (A), memiliki sifat (B). (C) merupakan anggota (A). Jadi, (C) memiliki sifat (B).

Contoh kalimat :
Setiap TKW yang ingin bekerja di luar negeri : (A)
harus memiliki paspor : (B)
Sundari : (C)

Premis Umum : Setiap TKW yang ingin bekerja di luar negeri harus memiliki
paspor dan izin resmi. (A=B)
Premis Khusus : Sundari ingin bekerja di luar negeri. (C=A)
Kesimpulan : Sundari harus memiliki paspor dan izin resmi. (C=B)

Entimem adalah silogisme yang diperpendek

Rumus Entimem : Semua C=B karena C=A

Entimem : Sundari harus memiliki paspor dan izin resmi (C=B) karena Sundari (ia) ingin bekerja di luar negeri (C=A)

Notulen = notula adalah catatan singkat mengenai jalannya persidangan (rapat) serta hal yang dibicarakan dan diputuskan (Kamus Besar Bahasa Indonesia 1996: 694).

Kata ulang sebagian adalah kata ulang yang dalam perulangannya tidak mencakup seluruh bagian bentuk yang diulang.

Peyorasi adalah merosotnya persepsi nilai atau citra makna. Pada saat ini apresiasinya lebih buruk dari sebelumnya. Contoh kata pelaku, simpanan, preman

Rumor adalah pergunjingan tentang sesuatu yang belum pasti kebenarannya.

Sastra

Aliran dalam cerpen ;
1. realisme : yang melukiskan keadaan secara sesungguhnya
2. romantisme : yang menggunakan perasaan/intuisi untuk mengungkapkan rahasia
alam.
3. naturaslisme : melukiskan kehidupan manusia secara gambling blak-blakan.
4. absurdisme : yang menyajikan kisah hidup yang tak terpahami atau nisbi.
5. impresionisme : yang melukiskan suatu kejadian dan pontan sehingga banyak hal
yang tak terduga.

Langkah menulis cerpen
1. menentukan tema
2. mengumpulkan data
3. menentukan garis besar alur
4. menetapkan titik pusat kisahan atau sudut pandang pengarang
5. mengembangkan garis besar cerita menjadi cerita utuh.
6. memeriksa ejaan, diksi dan nsur kebahasaan yang lain

cara meningkatkan kecepatan membaca;
1. baca dalam hati dan mulut tidak bersuara;
2. jari tangan tidak menunjuk bagian teks
3. gerakkan mata secara vertical
4. perluas jangkauan mata
5. tingkatkan konsentrasi
6. tidak mengulang-ulang bagian yang sudah dibaca

Majas
Majas repetisio adalah pemakaian kata/frasa yang sama secara berulang-ulangdalam satu kalimat.

Majas personifikasi merupakan cara penggambaran suau benda mati dengan mempergunakan sifat-sifat insani sehingga seakan-akan hidup. Majas ini disebut juga majas penginsanan

Majas hiperbola, melukiskan sesuatusifat atau keadaan secara berlebih-lebihan melampaui keadaan yang sebenarnya, hal yang diungkapkan tak sesuai dngan fakta.

Akronim adalah singkatan berupa gabungan hurufatau suku kata yang ditulis dan diucapkan seperti kata. Contoh kata, posyandu, tilang, polwan.

Konotasi adalah makna tambahan diluar makna pook suatu kata.

Spesialisasi adalah semakin menyempitnya cakupan makna suatu kata. Contoh kata menulis.

Generalisasi adalah semakin betambah luasnya suatu makna kata. Contoh kata adlah berlayar dan putra

Surat Dinas adalah surat yang dikirimkan oleh instansi/lembaga/organisasi/badan/instani kepada seseorang atau instansi lain. Surat ini bersifat resmi dan befungsi sebagai dokumen, arsip atau bukti.

1. surat permohonan adalah berisi permohonan atau permintaan kepada pihak lain.
Pokok-pokok surat permohonan
a). identitas pemohon
b). isi permohonan
c). tujuan dan alasan memohon
d). Batas waktu maksimal untuk menjawab permohonan
e). pernyataan kesungguhan dalam memohon

2. surat pemberitahuan berisi sosialisasi informasi baru yang perlu diketahui oleh pihak lain yang terkait.
Sistematika surat permohonan;
a. bagian pembuka berisi masalah pokok surat
b. bagian isi berisi rincian, uraian, keterangan dari penjelasan pokok surat.
c. Bagian penutup berisi harapan agar pihak yang dituju memaklumi al yang disampaikan.

3. Surat Keterangan berisi tentang keterangan resmi tentang status/kondisi seseorang atau barang.
Hal yang disebutkan dalam surat keterangan;
a) data pribadi dan jabatan pihak yang membuat keterangan
b) data pribadi pihak yang diterangkan
c) isi keterangan
d) keterangan tanggl berlakunya surat
e) pernyataan bahwa keterangan yang dibuat adalah benar

4. memo atau nota dinas. Surat khusus yang dipakai antar pejabat dilingkungan suatu lembaga. Sedang memo pribadi adalah surat pribadi untuk seseorang yang dikenal dekat.

Surat lamaran, didalamnya terdapat unsur-unsur beikut ini;
1. tanggl surat
2. salam pembuka
3. pembuka surat
4. isi
5. lapiran/syarat lamaran
6. penutup surat

Balada adalah suatu jenis puisi baru, yang berisi kisah atau cerita rakyat yang mengharukan, pada umumnya berisi kritik sosial. Balada bisa juga dibuat lagu. Balada bisa disamakan juga dengan syair dalam puisi lama.

Jenis buku non fiksi adalah mencakup filsafat, sejarah, antropologi, budaya, social, politik, pikologi, pendidikan, profil tokoh/ biografi, ekonomi, manajemen, omunikasi, TI, pengetahuan praktis popular, spirituallitas popular, pelajaran bahasa Indonesia, pelajaran bahasa asing, kamus dan referensi, kesehatan, kedokteran, arsitektur, desain interior,tehnik, statistic, matematika, biologi, lingkungan hidup, permainan, keterampilan, busana, kecantikan, perhotelan, pariwisata, musik, olahraga dan referensi umum.

Jenis puisi lama, syair, seloka, gurindam, talibun, mantra, pantun.

Smaradahana adalah asmarandana bentuk komposisi tembang/lagu macapat untuk mengungkapkan rasa sedih/prihatinatau cinta yang terdiri dari 7 baris

Seloka adalah puisi lama yang berisi kelakar/seloroh atau sindiran secara jenaka. Ciri seloka merupakan gabungan sifat pantun dan syair, ciri-cirinya;
a. terdiri atas 4 baris
b. bersajak a-a-a-a;
c. baris 1, 2, sampiran, baris 3, 4 isi.

Homograf adalah kata yang memiliki persamaan tulisan dengan kata lain, tetapi pengucapan dan arti yang dikandungnya berbeda. Contoh kata; apel, memerah, bebek, serang, tahu dan seret.

Homofon merupakan kata yang memiliki persamaan pelafalan/pengucapan, tetapi ejaan penulisan dan arti berbeda. Contoh kata sanksi dan sangsi.

Homonim adalah kata yang yang memiliki persamaan bentuk dengan kata lain, tetapi mempunyai arti yang berbeda. Contoh kata buku, yang berarti kitab dan juga berarti ruas pada bamboo.

Hiponim, hubungan makna antar sebuah bentuk kata/ujrayang maknanya tercakup dalam makna bentuk kata ujaran lain. Contoh, anta kata merpati dan burung.

Antonim, makna yang menyatakan kebalikan/pertentangan antara satu kata dengan kat yang lain, contoh kata jual dan beli.

Sinonim, makna yang memiliki kesamaan makna antara satu kaa dengan kata yang lain, contoh kata pandai dan pintar.

Deiksis, adalah kata yang penafsiran maknanya tergantung situasi pembicaraannya. Contoh kalimat, “sekarang harga sembako membumbung tinggi”.

Ameliorasi adalah membaiknya persepsi nilai atau makna suatu kata. Contoh kata kidung, kitab, graha, abdi, mitra, busana, dan karsa

Peyorasi adalah memburuknya persepsi nilai dan makna. Contoh orang kampong

Polisemi adalah kata yang memiliki arti lebih dari satu, contoh kata kepala.

Asosiasi, adalah peubahan makna kata karena persamaan sifat. Contoh kata amplop.

Sinestesia, adalah perubahan makna akibat pertukaran tanggapan antara dua indra yang berlainan. Contoh kata wajahnya sungguh manis.

Ungkapan adalah gabungan dua kata atau lebih yang bermakna kiasan, dan tudak diartikan perkata tetapi sudah melebur menjadi satu makna baru. Conto kata akal bulus

Frasa adalah satuan bahasa terdiri atas dua kata lebih yang dalam struktur kalimat idak melampaui satu fungsi/jabatan. Frasa terletak antara tataran antara kata dan klausa. Frasa jika diuraikan menghasilkan kata-kata dan dapat digabung membentuk klausa. Frasa biasanya dibentuk dengan pola diterangkan menerangkan (DM). Dalam pola ini kata pertama sebagai unsure inti/induk yang diterangkan kata kedua sebagai unsure penjelas yang bertugas menerangkan. Contoh kata membaca cepat

Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri ata 2 unsur klausa atau lebih, kalimat majemuk harus memiliki sekurang-kurangnya 2 preikat. Kalimat majemuk dibedakan atas kalimat mejemuk setara, bertingkat, rapatan dan campuran.

1. kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang terdiri dari klausa induk dan klausa anak. Kalimat ini dibentuk dengan cara memperluas salah satu unsure kalimat tunggal. Klausa baru akan berkedudukan sebagai klausa anak.
2. kalimat mejemuk setara adalah
3. kalimat mejemuk rapatan adalah
4. kalimat mejemuk campuran adalah

kalimat kausatif yaitu kalimat majemuk bertingkat yang antar klausanya terjalin hubungan sebab akibat. Klausa induk sebagai akibat dan klausa anak menjadi penyebab, atau kebalikannya. Hubungan kausatif dinyatakan dengan konjungtor karena dan sebab.

Kalimat dwitransitif, adalah kalimat aktif yang berobjek dan berpelengkap. Objek berada langsung dibelakang predikat, tidak berkata depan, dan dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif. Pelengkap berdiri dibelakang objek da tidak dapat berubah fungsi menjadi subjek dalam kalimat pasif.

Pola kalimat, adalah tatanan kalimat.
1. S – P contoh; Saya berlari
2. S – P – O contoh; Dia memuji ayahnya
3. S – P – K contoh; Andri pergi ke Medan
4. S – P – O – K contoh; Rani menjenguk Rudi kemarin
5. S – P – Pel contoh; Wajah Ani menyerupai ibunya
6. S – P – O – pel contoh; Ibu membelikan saya baju baru

Makna gramatikal, dihasilkan setelah adanya hubungan unur-unsur bahasa dalam suatu bentuk yang lebih besar, akibat dari adanya peristiwa gramatikal (ketatabahasaan).
Makna gramatikal bisa timbul karena;
1. urutan kata
2. intonasi
3. bentuk kata
4. kata tugas

Makna leksikal, makna yang berikfat tetap, sesuai dengan referatnyaatau seseuai dengan observasi alat indera dan ungguh ada dalam kehidupan kita. Makna ini lbih sring disebut makna kamus.

Makna kias, bukan makna sebenarnya (konotatif). Berlawanan dengan makna lugas yang berarti makna sebenarnya (denotatif).

Makna umum, kata yang pemakaiannya bersifat luas, sedang makna khusus adalah kata yang terbatas pada bidang tertentu saja.

Mengarang
Tahapan mengarang
II. Tahap persiapan (penetapan gagasan dan pola pengembangannya)
1. memilih topic
2. menentukan tema
3. menentukan tujuan dan bentuk karangan
4. menentukan pendekatan tema
5. membuat bagan (kerangka) karangan
a) DAM-D (duduk perkara-alasan- misal- duduk perkara)
b) Masa DSD (masa dahulu-sekarang-depan)
c) 5w + 1 h
d) TAS (tesis-antitesis-sintesis) / HIP (hipotesa-analisa-sintesa)
e) PIK (pendahuluan-isi-kesimpulan)
6. menentukan urutan jalan pikiran
a) urutan alamiah/kronologis berdasarkan urutan waktu, tempat,dan topik
b) pola induktif, diurutkan dari khusus-umum
c) pola deduktif

III. Tahap penulisan karangan
Tingkat keberhasilan ditentukan dengan;
a) menulis kalimat pertama sebagai pembuka karangan
b) menulis paragraph pertama (lead) sebagai pemicu dan pengendali laju karangan
c) menyusun dan menjalin kata dan kalimat menjadi paragraph yang padu (kohesi)
d) membangun dan menjalin kesinambungan antar paragraph

IV. Tahap penyempurnaan
Teliti semua aspek karangan, termasuk tulisan.

TOP KUAT
Dalam memulai menulis lead atau kalimat/paragraph pembuka umumnya memakai pola:
1. T – tesis, karangan dibuka dengan kalimat bisis pernyataan atau opini umum penulis tentang suatu hal.
2. O – obrolan/dialog, karangan dibuka dengan dialog atau percakapan tokoh
3. P – perbuatan (tindakan). Karangan dimulai dengan mendeskripsikan gerak gerik tindakan atau renttan pebuatan.
4. K – kuriositas, karangan dibuka dengan penyataan yang dapat memancing rasa penasaran atau rasa ingin tahu pembaca. Biasanya pernyataan dibuat secara hiperbola dan mengandung pernyataan controversial.
5. U – unkapan, karangan dibuka dengan menyajikan ungkapan berupaya peribahasa atau kata-kata kiasan
6. A – anekdot, karangan dibuka dengan meyajikan sebuah ilustrasi cerita ringan atau anekdot
7. T – Tanya, karangandibuka dengan melontarkan suatu pertanyaan yang dapat memancing pembaca untuk memikirkan sesuatu terkait topic

cerpen
unsur instrinsik, yaitu tema, amanat, tokoh, alur, latar, sudut pandang pengarang dan dialog.
unsur ekstrinsik, yaitu pesan moral, agama, budaya, keadaan sosial dan ekonomi

pertanyaan retoris, adalah pertanyaan yang tidak menuntut jawaban langsung, tetapi lebih untuk direnungkan

latar, adalah peggambaran ruang, waktu dan segala situasi yang menjadi ruang bagi tokoh cerita untuk hidup, bergerak dan mengalami berbagai peristiwa.

Karakteristik atau perwatakan, penampilan keseluruhan ciri-ciri atau tipe dari seorang tokoh pelaku atau cara bagaimana pengarang menggambarkan dan mengembangkan watak tokoh-tokoh dalam sebuah cerita.

Karakteristik tokoh dalam fiksi;
1. analitik (langsung); pengarang langsung memaparkan tentang watak atau karakter tokoh dengn menyebutkan bahwa seorang tokoh keras hati, keras kepala, penyayang dan sebagainya.
2. dramatik (tak langsung); penggambaran perwatakan yang tidak diceritakan secara langsung, tetapi disampaikan melalui (a)pilihan nama tokoh, (b) penggambaran fisik dan postur tubuh, (c) cara berpakaian, (d) tingkah laku tokoh, (e) keadaan lingkungannya, (f) dialog tokoh dengan dirinya atau dengan orang lain, (g) pola piki saat menghadapi masalah

penggambaran perwatakan;
1. Perwatakan statis, yaitu pelukisan watak sang tokoh tetap tidak berubah-ubah dari awal sampai akhir cerita.
2. Perwatakan dinamis, yaitu watak sang tokoh berubah atau berkembang dari waktu kewaktu dan dari tempat ke tempat sesuai dengan situasi yang dimasukinya.
3. Perwatakan datar, yaitu watak sang tokoh disoroti hanya dari satu unsur atau satu dimensi saja.
4. Perwatakan bulat, yaitu watak sang tokoh dilukiskan dari segala aspek dan meliputi semua dimensi, yaitu dimensi fisiologis, psikologis, dan sosial seperti yang terdapat pada tokoh nyata dalam kehidupan sehari-hari,

Berdasarkan sifat dan perannya, tokoh dibedakan;
a) Protagonis, tokoh yang berwatak baik, pembawa misi kebenaran/mulia.
b) Antagonis, tokoh berwatak jahat dan menjadi musuh atau penghalang cita-cita tokoh protagonis
c) Tritagonis, tokoh yang berperan sebagai penengah antara tokoh protagonis dan tokoh antagonis
d) tokoh pembantu

Proposal
Bagian pokok proposal;
1. latar belakang kegiatan
2. nama kegiatan
3. tujuan kegiatan
4. jenis/bentuk kegiatan
5. pelaksanaan kegiatan waktu, tempat, pelaksanaan
6. anggaran kegiatan
7. penutup
8. lampiran-lampiran

Drama
unsur instrinsiknya tidak ada sudut pandang cerita (point of view) karena drama merupakan seni bertutur langsung. Latar divisualisasikan dengan dekorasi atau setting panggung.

Dari sudut pandang penonton, akhir cerita drama dibedakan;
a) happy ending, akhir yang menyenangkan karena cita-cita tokoh utama terwujud.
b) Sad ending, akhir cerita yang menyedihkan karena berakhir dengan tragis

Paragraf,
Pola pengembangan paragraph;
1. pola umum-khusus disebut juga pola deduktif
2. pola khusus-umum disebut juga pola induktif
3. pola umum-khusus-umum
4. pola deskriptif

Pola hubunan makna paragraph;
1. klimaks-antiklimaks
2. pertentangan-perbandingan
3. persamaan sistematis (analogis)
4. proses
5. contoh
6. sebab-akibat, atau akibat-sebab (kausalitas)
7. klasifikasi
8. definisi luas
9. umum-khusus, khusus-umum

Paragraf deduktif dan induktif

Berdasarkan letak kalimat utama
1) Paragraf deduktif

1. letak kalimat utama di awal paragraf
2. dimulai dengan pernyataan umum disusun dengan uraian atau penjelasan
khusus.

contoh:

”Pemakiaan bahasa Indonesia di seluruh Indonesia dewasa ini belum dapat dikatakan seragam.perbedaan dalam struktur kalimat, lagu kalimat, dan ucapan terlihat dengan mudah. Pemakian bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan sering dikalahkan oleh bahasa daerah.
Di lingkungan persuratkabaran, radio, dan televisi sudah terjaga dengan baik. Para pemuka kitapun pada umumnya belum memperlihatkan penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Fakta-fakta di atas menunjukan bahwa pengajaran bahasa Indonesia perlu ditingkatkan”.

Gagasan utama paragraf tersebut terdapat diawal paragraf (Deduktif), yaitu pemakaian bahasa Indonesia di seluruh Indonesia belum seragam.

2) Paragraf induktif

1. letak kalimat utama di akhir paragraf.
2. diawali dengan uraian/penjelasan bersifat khusus dan diakhiri dengan
pernyataan umum.

contoh:

“Mungkin anda pernah mendengar tentang peristiwa perampokan mobil yang menimpa ronaldo, bintang sepakbola asal brasil, dua tahun silam. Dasar nasibnya sedang apes, saat mengendarai BMW X-5 di Rio Janairo, ia dihadang tiga perampok bersenjata. Mobil kesayangannya pun dibawa kabur perampok. Untunglah pemain asal internasionale Milan, klubnya saat itu cepat bertindak. Dengan menumpang kendaraan yang lewat ia segera menuju kantor polisi. Hanya dalam hitungan jam, mobilnya sudah ditemukan kembali di pinggir kota Rio. Jangan salah! Ronaldo tidak memakai jasa paranormal. Kebetulan mobilnya dilengkapi Automatic Verhicle Location (AVL), sistem pemantau lokasi kendaraan yang terhubung dengan satelit Global Positioning Sistem (GPS). Posisi mobil selalu dapat di ketahui dari peta digital yang terpasang di mobil atau operator pemantaunya”. (Intisari, juni 2003).

Dalam hal menarik kesimpulan, paragraph induktif dibagi menjadi 3;
1. generalisasi
2. analogi
3. sebab akibat

3) Paragraf campuran

1. letak kalimat utama di awal dan di akhir paragraf
2. kalimat utama yang terletak di akhir bersifat penegasan kembali, dengan
susunan kalimat yang agak berbeda.

Berdasarkan isi, antara lain :

1) Paragraf deskripsi : kalimat utama tak tercantum secara nyata tema paragraf tersirat dalam keseluruhan paragraf biasa dipakai untuk melakukan sesuatu, hal, keadaan, situasi dalam cerita.

2) Paragraf proses : tidak terdapat kalimat utama pikiran utama tersirat dalam kalimat-
kalimat penjelas memaparkan urutan suatu kejadian/proses, meliputi waktu, ruang,
klimaks, antiklimaks.

3) Paragraf efektif : paragraf efektif ialah alinea yang memenuhi ciri paragraf yang baikalinea terdiri atas beberapa kalimat terdiri atas satu pikiran utama dan lebih dari satu pikiran penjelas tidak boleh ada kalimat sumbang ada koherensi antar kalimat.

Pengembangan Paragraf
Pengembangan paragraf dapat dilakukan dengan 2 pola, yaitu :
1. Pola alamiah : pola urutan yang sesuai dengan keadaan di alam. Pola ini meliputi pola :
a. Urutan waktu/kronologis
b. Urutan ruang/ special

2. Pola logis : pola pengembangan didasarkan atas jalan pikiran. Pola ini meliputi pola :
a. Pengambangan contoh
b. Klasifikasi
c. Familiaritas
d. Akseptabilitas
e. Umum-khusus
f. Sebab akibat
g. Klimaks-antiklimaks
h. Perbandingan-

——————————————

Latihan Pendalaman Materi

Almanar Azhari Islamic Boarding school

Tahun 2009-2010

Nama                                    :……………………………………………………

Mata Pelajaran                 : Bahasa Indonesia

Kelas                                     : XII

Semester                            : 1

Bacalah kutipan paragraf berikut dengan saksama!

Pemanasan global bukan hanya merusak bumi. Studi kesehatan menyebutkan temperatur dan tingkat ozon yang tinggi meningkatkan risiko kematian yang disebabkan penyakit jantung dan stroke. Para periset menyatakan pemanasan global bisa meningkatkan jumlah orang yang meninggal karena kasus-kasus kardiovaskular, yakni kasus-kasus kesehatan yang berkaitan dengan gangguan jantung dan pembuluh darah

1.  Ide pokok paragraf tersebut yang tepat adalah ….

A. manfaat pemanasan global

B. cara mengatasi pemanasan global

C. risiko kematian karena pemanasan global

D. dampak pemanasan global

E. penelitian pemanasan global

2.  Bacalah paragraf berikut dengan saksama!

(1).  Asma merupakan penyakit inflamasi kronis pada saluran napas dengan gejala berupa batuk dan sesak napas yang timbul berulang kali.

(2).  Di Indonesia, prevalensi asma pada 2001 sebesar 5,4% dan khusus di Jakarta, prevalensinya lebih tinggi yakni 7,5%.

(3).  Peningkatan itu terjadi karena kurang optimalnya penatalaksanaan asma.

(4). Saat ini telah muncul obat asma dalam bentuk inhaler yang memberikan hasil memuaskan karena mampu mengontrol asma dan mengurangi frekuensi kekambuhan penyakit tersebut.

(5).  Sayangnya, harga obat itu masih mahal sebab biaya teknologi pembuatan obat semprot masih mahal.

Opini yang sesuai dengan isi paragraf tersebut terdapat pada nomor . . . .

A. (1)

B. (2)

C. (3)

D. (4)

e. (5)

Bacalah kedua kutipan teks berikut dengan saksama!

Teks (1)

Makhluk yang bernama tempe itu, beberapa hari ini harganya meroket, sehingga rakyat protes. Kiranya inilah pertama kali terjadi dalam sejarah negara ini bahwa ribuan rakyat di sekitar megapolitan (Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi) berdemonstrasi ke istana karena tempe. Tempe menjadi barang langka. Penyebabnya karena kedelai menghilang dari pasar. Kalaupun ada di pasar, harganya selangit. Yaitu, naik 150% selama enam bulan terakhir. (Media Indonesia, Selasa, 15 Januari 2008)

Teks (2)

Para perajin tahu-tempe di Jakarta dan sekitarnya sepakat mogok berproduksi sejak hari Senin ini hingga Rabu (16/1). Tindakan itu dipicu oleh meroketnya harga bahan baku kedelai impor beberapa bulan terakhir. Hari ini mereka berunjuk rasa ke Istana Kepresidenan dan Dewan Perwakilan Rakyat mendesak solusi konkret dalam tata niaga kedelai. Penjualan tempe hari Minggu kemarin sudah mulai langka. Di Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan, misalnya, konsumen tidak berhasil menemukan tempe. Para ibu rumah tangga pun mengeluhkan langkanya lauk rakyat tersebut. (Kompas, Senin 14 Januari 2008).

3.  Kesamaan gagasan pada kedua kutipan tersebut adalah . . .

A. Kedua teks membicarakan tentang kelangkaan tempe.

B. Kedua teks membahas upaya mengatasi kelangkaan tempe.

C. Kedua teks mengeluhkan upaya pemerintah yang lamban.

D. Kedua teks mengambarkan situasi demonstrasi.

E. Kedua teks menjelaskan demonstrasi di gedung DPR.

Bacalah kedua kutipan teks berikut dengan saksama!

Teks (1)

Banjir besar telah dan sedang melanda Jawa Tengah dan Jawa Timur, terutama daerah-daerah yang berada dalam wilayah aliran Bengawan Solo. Inilah banjir yang belum pernah dialami dalam 100 tahun terakhir. Menurut perkiraan, banjir kali ini merusak setidaknya 31.501 hektare sawah di dua daerah yang menjadi lumbung padi nasional itu. Banjir telah mendatangkan penderitaan luas dan dalam bagi ribuan penduduk yang terlanda. Penderitaan mereka riil dan mengenaskan. Bencana itu pasti berdampak lama. (Media Indonesia, 9 Januari 2008)

Teks (2)

Bencana sepanjang Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo tahun inimemberi pelajaran amat dekat dan amat jelas tentang akibatrusaknya lingkungan hidup. Bencana menimpa kota-kota sepanjang Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo, dari Wonogiri, Karanganyar, Sragen, Ngawi, Blora, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, hingga Gresik. Kerugian ditaksir ratusan miliar rupiah. Desa-desa tenggelam. Penduduk mengungsi, tanaman rusak. Lalu lintas barang antara Jawa Tengah dan Jawa Timur terputus di beberapa tempat. (Kompas, Selasa 8 Januari 2008)

4. Perbedaan penyajian kedua kutipan tersebut yang tepat adalah …

A. Kutipan (1) mengawali penyajian dengan mengungkapkan banjir yang melanda Jawa Tengah dan Jawa Timur, sedangkan kutipan (2) mengungkapkan penyebab bencana di sekitar aliran Sungai Bengawan Solo.

B. Kutipan (1) mengawali penyajian dengan mengungkapkan daerahdaerah yang terkena banjir di Jawa Tengah, sedangkan kutipan (2) menggambarkan kerusakan sawah akibat banjir.

C. Kutipan (1) mengawali penyajian dengan keluhan masyarakat yang terkena banjir di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sedangkan kutipan

(2) menggambarkan keluhan masyarakat yang terkena banjir di sepanjang Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo.

D. Kutipan (1) mengawali penyajian dengan protes masyarakat tentang penyebab banjir di Jawa Tengah, sedangkan kutipan (2) menggambarkan kerugian akibat banjir.

E. Kutipan (1) mengawali penyajian dengan bantuan terhadap korban banjir, sedangkan kutipan (2) menggambarkan masyarakat yang mengungsi karena banjir.

Bacalah paragraf berikut dengan saksama!

(1) Bagi Rivo Pamudji, tidak perlu persiapan lama-lama untuk mulai bersepeda. (2) Ia memutuskan bahwa waktu yang ia perlukan untuk sampai ke kantornya di Kuningan dari rumahnya di Cinere lebih baik digunakan untuk berolah raga. (3) “Saya itu tidak punya waktu untuk berolahraga,” kata Rivo kepada Media Indonesia, belum lama ini. (4) Untuk menempuh jarak 40 kilometer pulang pergi itu, ia memerlukan waktu total 3 jam. (5) Waktu selama itu, menurut Rivo, lebih pas jika digunakan untuk berolahraga daripada hanya duduk di mobil dan terjebak kemacetan, tidak bisa bergerak-gerak. (6) Di situlah awalnya ia tertarik untuk mulai bersepeda ke tempat kerja.

5.  Kalimat yang menyatakan alasan terdapat pada nomor ….

A. (1) dan (2)

B. (1) dan (3)

C. (2) dan (4)

D. (3) dan (5)

E. (4) dan (6)

Cermati silogisme berikut!

Premis Umum          : Setiap TKW yang ingin bekerja di luar negeri harus memiliki paspor dan izin

resmi.

Premis Khusus         : Sundari ingin bekerja di luar negeri.

Kesimpulan               : Sundari harus memiliki paspor.

6.  Entimem yang tepat dari silogisme tersebut adalah …

A. Sundari harus memiliki paspor dan izin resmi karena ia ingin bekerja di luar negeri.

B. Sundari ingin bekerja di luar negeri, jadi harus memiliki paspor dan izin resmi.

C. Sundari ingin bekerja di luar negeri jika ia memiliki paspor dan izin resmi.

D. Sundari ingin bekerja di luar negeri karena ia memiliki paspor dan izin resmi.

E. Sundari memiliki paspor dan izin resmi karena ia jadi bekerja di luar negeri.

Cermatilah wacana rumpang berikut!

Setelah diadakan wawancara dengan siswa kelas XII SMA Mandiri tentang minat mereka melanjutkan kuliah ke fakultas keguruan diperoleh data sebagai berikut. Siswa kelas XII IPA yang berminat 5 orang, IPS 5 orang, dan siswa kelas Bahasa 5 orang. Jumlah siswa kelas XII keseluruhannya 300 orang. Jadi, …

7.  Kalimat yang tepat untuk mengakhiri paragraf tersebut adalah ….

A. memang anak sekarang tidak bisa dipaksa menjadi guru

B. pekerjaan guru tidak menjanjikan masa depan yang cemerlang

c. kurang sekali minat siswa kelas XII SMA Mandiri masuk fakultas keguruan

D. ternyata banyak anak memilih fakultas lain selain keguruan

E. menurut mereka menjadi guru bukanlah pekerjaan yang mudah

Cermatilah kalimat penutup karya tulis berikut!

8.  “Semoga penelitian ini memberi imajinasi untuk penelitian selanjutnya”.

Perbaikan kalimat tersebut yang tepat adalah ….

A. menambahkan kata banyak sebelum kata imajinasi

B. menghilangkan kata selanjutnya

C. mengubah kata semoga dengan kata mudah-mudahan

D. menambahkan kata saja sebelum kata penelitian

E. mengganti kata imajinasi dengan kata manfaat

Cermatilah iklan berikut!

Lowongan Pekerjaan

Kesempatan berkarier bagi profesional muda yang dinamis untuk posisi: Administrasi (Adm), Hrd, Keu, Data Entry minimal SMU, maksimum 45 tahun, krm data Jln. Raya Buncit, no. 21, lt 2 Griya Intan. Kompas, 12 Januari 2008

9.  Kalimat pembuka surat lamaran pekerjaan yang sesuai dengan iklan tersebut adalah …

A. Sehubungan dengan iklan yang dimuat dalam harian Kompas, 12 Januari 2008, tentang lowongan Administrasi (Adm), dengan ini saya mengajukan lamaran pekerjaan …

B. Berhubung dengan iklan Bapak di harian, Kompas, 12 Januari 2008 tentang lowongan kerja Adm, Hrd, Keu, Data Entry maka dengan ini saya lampirkan …

C. Berdasarkan iklan harian Kompas, 12 Januari 2008 yang memuat tentang dibutuhkannya Data Entry, saya memberanikan diri melamar pekerjaan …

D. Sesuai dengan iklan dalam harian Kompas, 12 Januari 2008 instansi Bapak/Ibu membutuhkan tenaga Adm, Hrd, Keu, Data Entry dan pekerjaan itu sangat dibutuhkan, maka . . .

E. Melalui iklan dalam harian Kompas, 12 Januari 2008, saya mendapatkan informasi bahwa Bapak/Ibu pimpinan membutuhkan Adm, bersama ini saya …

Cermatilah kutipan pendapat berikut!

Tema Seminar   : Pengaruh Televisi terhadap siswa

Tanggapan/pendapat

(1) Denias : Televisi dapat memberi pengaruh baik dan pengaruh buruk terhadap siswa. Pengaruh baiknya yaitu siswa banyak mendapatkan informasi yang menunjang pelajarannya di sekolah dan menambah wawasan mereka. Pengaruh buruknya dengan tayangan-tayangan yang tidak patut dicontoh oleh remaja ditambah lagi tayangan iklan di televisi dapat menjadikan siswa konsumtif.

(2) Timmy :  Menurut saya, selain pengaruh baik dan pengaruh buruk televisi juga perlu diperhatikan jam tayang acara yang disesuaikan dengan usia. Sebaiknya acara yang layak ditonton orang dewasa ditayangkan agak malam, sedangkan acara yang layak ditonton anak-anak ditayangkan lebih awal.

10.  Kalimat simpulan yang tepat dituliskan dalam notulen adalah . . .

A. Televisi dapat memberi pengaruh baik dan pengaruh buruk hanya terhadap siswa.

B. Siswa banyak mendapatkan informasi yang menunjang pelajarannya di sekolah dari tayangan televisi.

C. Banyak acara televisi yang tidak baik dan tayangan iklannya membuat siswa menjadi konsumtif.

d. Televisi mempunyai dampak positif dan negatif pada siswa serta tayangan acaranya disarankan disesuaikan dengan usia penontonnya.

E. Acara yang layak ditonton orang dewasa ditayangkan larut malam, sedangkan acara-anak ditayangkan sore hari.

———————-o0o————————–

Paragraf deduktif dan induktif

Berdasarkan letak kalimat utama

1) Paragraf deduktif

1. letak kalimat utama di awal paragraf

2. dimulai dengan pernyataan umum disusun dengan uraian atau penjelasan khusus.

contoh:

Pemakiaan bahasa Indonesia di seluruh Indonesia dewasa ini belum dapat dikatakan seragam.perbedaan dalam struktur kalimat, lagu kalimat, dan ucapan terlihat dengan mudah. Pemakiaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan sering dikalahkan oleh bahasa daerah.

Di lingkungan persuratkabaran, radio, dan televisi sudah terjaga dengan baik. Para pemuka kitapun pada umumnya belum memperlihatkan penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Fakta-fakta di atas menunjukan bahwa pengajaran bahasa Indonesia perlu ditingkatkan.

Gagasan utama paragraf tersebut terdapat diawal paragraf (Deduktif), yaitu pemakaian bahasa Indonesia di seluruh Indonesia belum seragam.

2) Paragraf induktif

1. letak kalimat utama di akhir paragraf.

2. diawali dengan uraian/penjelasan bersifat khusus dan diakhiri dengan

pernyataan umum.

contoh:

Mungkin anda pernah mendengar tentang peristiwa perampokan mobil yang menimpa ronaldo, bintang sepakbola asal brasil, dua tahun silam. Dasar nasibnya sedang apes, saat mengendarai BMW X-5 di Rio Janairo, ia dihadang tiga perampok bersenjata. Mobil kesayangannya pun dibawa kabur perampok. Untunglah pemain asal internasionale Milan, klubnya saat itu cepat bertindak. Dengan menumpang kendaraan yang lewat ia segera menuju kantor polisi. Hanya dalam hitungan jam, mobilnya sudah ditemukan kembali di pinggir kota Rio. Jangan salah! Ronaldo tidak memakai jasa paranormal. Kebetulan mobilnya dilengkapi Automatic Verhicle Location (AVL), sistem pemantau lokasi kendaraan yang terhubung dengan satelit Global Positioning Sistem (GPS). Posisi mobil selalu dapat di ketahui dari peta digital yang terpasang di mobil atau operator pemantaunya. (Intisari, juni 2003).

3) Paragraf campuran

1. letak kalimat utama di awal dan di akhir paragraf

2. kalimat utama yang terletak di akhir bersifat penegasan kembali, dengan susunan kalimat yang agak berbeda.

Berdasarkan isi, antara lain :

1) Paragraf deskripsi : kalimat utama tak tercantum secara nyata tema pargraf tersirat dalam keseluruhan paragraf biasa dipakai untuk melakukan sesuatu, hal, keadaan, situasi dalam cerita.

2) Paragraf proses : tidak terdapat kalimat utama pikiran utama tersirat dalam kalimat-kalimat penjelas memaparkan urutan suatu kejadian/proses, meliputi waktu, ruang, klimaks, antiklimaks.

3) Paragraf efektif : paragraf efektif ialah alinea yang memenuhi ciri paragraf yang baik alinea terdiri atas beberapa kalimat terdiri atas satu pikiran utama dan lebih dari satu pikiran penjelas tidak boleh ada kalimat sumbang ada koherensi antar kalimat.

L. Pengembangan Paragraf

Pengembangan paragraf dapat dilakukan dengan 2 pola, yaitu :

1. Pola alamiah : pola urutan yang sesuai dengan keadaan di alam. Pola ini meliputi pola :

a. Urutan waktu/kronologis

b. Urutan ruang/ special

2. Pola logis : pola pengembangan didasarkan atas jalan pikiran. Pola ini meliputi pola :

a. Pengambangan contoh

b. Klasifikasi

c. Familiaritas

d. Akseptabilitas

e. Umum-khusus

f. Sebab akibat

g. Klimaks-antiklimaks

h. Perbandingan-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s