tentang pidato

Pengertian Pidato, Tujuan, Sifat, Metode, Susunan Dan Persiapan Pidato Sambutan
Thu, 13/03/2008 – 10:29pm — godam64

A. Definisi / Pengertian Pidato

Pidato adalah suatu ucapan dengan susunan yang baik untuk disampaikan kepada orang banyak. Contoh pidato yaitu seperti pidato kenegaraan, pidato menyambut hari besar, pidato pembangkit semangat, pidato sambutan acara atau event, dan lain sebagainya.

Pidato yang baik dapat memberikan suatu kesan positif bagi orang-orang yang mendengar pidato tersebut. Kemampuan berpidato atau berbicara yang baik di depan publik / umum dapat membantu untuk mencapai jenjang karir yang baik.

B. Tujuan Pidato

Pidato umumnya melakukan satu atau beberapa hal berikut ini :
1. Mempengaruhi orang lain agar mau mengikuti kemauan kita dengan suka rela.
2. Memberi suatu pemahaman atau informasi pada orang lain.
3. Membuat orang lain senang dengan pidato yang menghibur sehingga orang lain senang dan puas dengan ucapan yang kita sampaikan.

C. Jenis-Jenis / Macam-Macam / Sifat-Sifat Pidato

Berdasarkan pada sifat dari isi pidato, pidato dapat dibedakan menjadi :
1. Pidato Pembukaan, adalah pidato singkat yang dibawakan oleh pembaca acara atau mc.
2. Pidato pengarahan adalah pdato untuk mengarahkan pada suatu pertemuan.
3. Pidato Sambutan, yaitu merupakan pidato yang disampaikan pada suatu acara kegiatan atau peristiwa tertentu yang dapat dilakukan oleh beberapa orang dengan waktu yang terbatas secara bergantian.
4. Pidato Peresmian, adalah pidato yang dilakukan oleh orang yang berpengaruh untuk meresmikan sesuatu.
5. Pidato Laporan, yakni pidato yang isinya adalah melaporkan suatu tugas atau kegiatan.
6. Pidato Pertanggungjawaban, adalah pidato yang berisi suatu laporan pertanggungjawaban.

D. Metode Pidato

Teknik atau metode dalam membawakan suatu pidatu di depan umum :
1. Metode menghapal, yaitu membuat suatu rencana pidato lalu menghapalkannya kata per kata.
2. Metode serta merta, yakni membawakan pidato tanpa persiapan dan hanya mengandalkan pengalaman dan wawasan. Biasanya dalam keadaan darurat tak terduga banyak menggunakan tehnik serta merta.
3. Metode naskah, yaitu berpidato dengan menggunakan naskah yang telah dibuat sebelumnya dan umumnya dipakai pada pidato-pidato resmi.

E. Persiapan Pidato

Sebelum memberikan pidato di depan umum, ada baiknya untuk melakukan persiapan berikut ini :
1. Wawasan pendengar pidato secara umum
2. Mengetahui lama waktu atau durasi pidato yang akan dibawakan
3. Menyusun kata-kata yang mudah dipahami dan dimengerti.
4. Mengetahui jenis pidato dan tema acara.
5. Menyiapkan bahan-bahan dan perlengkapan pidato, dsb.

F. Kerangka Susunan Pidato

Skema susunan suatu pidato yang baik :
1. Pembukaan dengan salam pembuka
2. Pendahuluan yang sedikit menggambarkan isi
3. Isi atau materi pidato secara sistematis : maksud, tujuan, sasaran, rencana, langkah, dll.
4. Penutup (kesimpulan, harapan, pesan, salam penutup, dll)

contoh pidato sederhana

Yang terhormat Bapak Kepala Sekolah, Bapak dan Ibu Guru, serta teman-teman yang saya cintai.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala rahmat-Nya pada hari ini kita dapat berkumpul bersama guna mengadakan acara perpisahan sekolah.

Para hadirin yang saya hormati, ijinkan saya mewakili teman-teman untuk menyampaikan sepatah dua patah kata dalam rangka perpisahan ini.

Selama bersekolah, kami sebagai siswa sangat bangga dan berterima kasih dengan semua guru yang telah mengajar di sekolah ini, yang dengan sangat baik, tidak pernah pilih kasih dalam mendidik, sangat sabar dan tidak kenal lelah dalam membimbing kami. Berkat jerih payah semua guru, kami pun dapat lulus dari SMP ini.

Mudah-mudahan semua guru yang bertugas mengajar di sekolah ini dapat diberikan kesehatan yang baik dan diberi kebahagiaan selalu.

Juga untuk teman2 semua. Sungguh berat rasanya berpisah dengan kalian semua, karena kita sudah bersama2 selama 3 tahun ini. Tapi tetap saya juga mendoakan teman2 semua dapat melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, baik ke SMA, ke SMK, ke STM maupun institusi pendidikan lainnya untuk dapat mencapai cita2 yang selama ini diangan2kan.

Akhir kata, saya mau mengucapkan sukses selalu buat teman2, doa saya menyertai teman2 semua…

===============================================

Serba-serbi Pidato

Definisi / Pengertian Pidato

Pidato adalah suatu ucapan dengan susunan yang baik untuk disampaikan kepada orang banyak. Contoh pidato yaitu seperti pidato kenegaraan, pidato menyambut hari besar, pidato pembangkit semangat, pidato sambutan acara atau event, dan lain sebagainya.

Pidato yang baik dapat memberikan suatu kesan positif bagi orang-orang yang mendengar pidato tersebut. Kemampuan berpidato atau berbicara yang baik di depan publik / umum dapat membantu untuk mencapai jenjang karir yang baik.

Tujuan Pidato

Pidato umumnya melakukan satu atau beberapa hal berikut ini :

1. Mempengaruhi orang lain agar mau mengikuti kemauan kita dengan suka rela.
2. Memberi suatu pemahaman atau informasi pada orang lain.
3. Membuat orang lain senang dengan pidato yang menghibur sehingga orang lain senang dan puas dengan ucapan yang kita sampaikan.

Jenis-Jenis / Macam-Macam / Sifat-Sifat Pidato

Berdasarkan pada sifat dari isi pidato, pidato dapat dibedakan menjadi :

1. Pidato Pembukaan, adalah pidato singkat yang dibawakan oleh pembaca acara atau mc.
2. Pidato pengarahan adalah pdato untuk mengarahkan pada suatu pertemuan.
3. Pidato Sambutan, yaitu merupakan pidato yang disampaikan pada suatu acara kegiatan atau peristiwa tertentu yang dapat dilakukan oleh beberapa orang dengan waktu yang terbatas secara bergantian.
4. Pidato Peresmian, adalah pidato yang dilakukan oleh orang yang berpengaruh untuk meresmikan sesuatu.
5. Pidato Laporan, yakni pidato yang isinya adalah melaporkan suatu tugas atau kegiatan.
6. Pidato Pertanggungjawaban, adalah pidato yang berisi suatu laporan pertanggungjawaban.

Metode Pidato

Teknik atau metode dalam membawakan suatu pidatu di depan umum :

1. Metode menghapal, yaitu membuat suatu rencana pidato lalu menghapalkannya kata per kata.
2. Metode serta merta, yakni membawakan pidato tanpa persiapan dan hanya mengandalkan pengalaman dan wawasan. Biasanya dalam keadaan darurat tak terduga banyak menggunakan tehnik serta merta.
3. Metode naskah, yaitu berpidato dengan menggunakan naskah yang telah dibuat sebelumnya dan umumnya dipakai pada pidato-pidato resmi.

Persiapan Pidato

Sebelum memberikan pidato di depan umum, ada baiknya untuk melakukan persiapan berikut ini :

1. Wawasan pendengar pidato secara umum
2. Mengetahui lama waktu atau durasi pidato yang akan dibawakan
3. Menyusun kata-kata yang mudah dipahami dan dimengerti.
4. Mengetahui jenis pidato dan tema acara.
5. Menyiapkan bahan-bahan dan perlengkapan pidato, dsb.

Kerangka Susunan Pidato

Skema susunan suatu pidato yang baik :

1. Pembukaan dengan salam pembuka
2. Pendahuluan yang sedikit menggambarkan isi
3. Isi atau materi pidato secara sistematis : maksud, tujuan, sasaran, rencana, langkah, dll.
4. Penutup (kesimpulan, harapan, pesan, salam penutup, dll)

=====================================

Oleh: Dadang Sugiana

*) Bahan Tulisan ini sebagian besar bersumber pada Buku Retorika Modern: Pendekatan Praktis, Tulisan Jalaluddin Rakhmat, Penerbit Remaja Rosdakarya, Bandung, 1994.

PENDAHULUAN

Beberapa tahun yang lalu, siapa di antara kita yang tidak mengenal K.H. Zainudin M.Z? Siapa di antara kita yang tidak kenal dengan Aa Gym? Atau siapa di antara kita yang tidak kenal Bung Karno? Semua orang pasti mengenalnya. Mengapa mereka begitu dikenal luas oleh banyak orang? Apa kelebihan mereka dibanding orang-orang lainnya? Semuanya sepakat, kita mengenal ketiga tokoh itu karena mereka sangat pandai berbicara, pandai berdakwah, pandai berpidato.

Memang benar, orang yang tadinya bukan siapa-siapa mendadak bisa berubah menjadi orang penting dan terkenal hanya karena ia memiliki kemampuan berbicara yang menarik dan meyakinkan orang lain. Kemampuan berbicara diyakini dapat meningkatkan kualitas eksistensi dan aktualisasi seseorang di tengah-tengah lingkungannya. Kemampuan orang dalam berbicara dapat menjadikan orang itu memiliki daya tarik dan pesona luar biasa bagi orang lain, sehingga ia menjadi idola yang didambakan oleh banyak orang.

Secara alamiah, setiap orang mampu berbicara. Berbicara sudah merupakan aktivitas rutin kita sehari-hari. Hasil penelitian ilmiah membuktikan, bahwa sebagian besar waktu bangun kita digunakan untuk berbicara dengan orang lain. Nyaris tidak ada seorang pun di dunia ini yang tahan untuk tidak berbicara. Kita boleh jadi tahan untuk tidak makan dan minum selama tiga hari berturut-turut (bahkan mungkin lebih), tetapi siapa yang tahan berpuasa bicara selama itu?

Namun demikian, sebagaimana telah diungkapkan tadi, berbicara yang akan dapat meningkatkan kualitas eksistensi (keberadaan) kita di tengah-tengah orang lain, bukanlah sekadar berbicara, tetapi berbicara yang menarik (atraktif), bernilai informasi (informatif), menghibur (rekreatif), dan berpengaruh (persuasif). Dengan kata lain, kita mesti berbicara berdasarkan seni berbicara yang dikenal dengan istilah retorika.

Retorika adalah seni berkomunikasi secara lisan yang dilakukan oleh seseorang kepada sejumlah orang secara langsung bertatap muka. Oleh karena itu, istilah retorika seringkali disamakan dengan istilah pidato. Pada kesempatan ini, kita akan sama-sama membicarakan dan berlatih bagaimana kita harus mempersiapkan dan melakukan pidato, agar pidato kita itu memiliki daya tarik, informatif, rekreatif, dan persuasif.

JENIS-JENIS PIDATO

Berdasarkan pada ada tidaknya persiapan, sesuai dengan cara yang dilakukan waktu persiapan, kita dapat membagi jenis pidato kedalam empat macam, yaitu: impromtu, manuskrip, memoriter, dan ekstempore.

Pidato impromtu adalah pidato yang dilakukan secara tiba-tiba, spontan, tanpa persiapan sebelumnya. Apabila Anda menghadiri sebuah acara pertemuan, tiba-tiba Anda dipanggil untuk menampaikan pidato, maka pidato yang Anda lakukan disebut impromtu.

Bagi juru pidato yang berpengalaman, impromtu memiliki beberapa keuntungan: (1) Impromtu lebih dapat mengungkapkan perasaan pembicara yang sebenarnya, karena pembicara tidak memikirkan lebih dulu pendapat yang disampaikannya, (2) Gagasan dan pendapatnya dating secara spontan, sehingga tampak segar dan hidup, dan (3) Impromtu memungkinkan Anda terus berpikir.

Tetapi bagi juru pidato yang masih “hijau”, belum berpengalaman, keuntungan-keuntungan di atas tidak akan tampak, bahkan dapat mendatangkan kerugian sebagai berikut: (1) Impromtu dapat menimbulkan kesimpulan yang mentah, karena dasar pengetahuan yang tidak memadai, (2) Impromtu mengakibatkan penyampaian yang tersendat-sendat dan tidak lancar, (3) gagasan yang disampaikan bisa “acak-acakan” dan ngawur, dan (4) Karena tiadanya persiapan, kemungkinan “demam panggung” besar sekali. Jadi, bagi yang belum berpengalaman, impromtu sebaiknya dihindari daripada Anda tampak “bodoh” di hadapan orang lain.

Pidato Manuskrip adalah pidato dengan naskah. Juru pidato membacakan naskah pidato dari awal sampai akhir. Di sini lebih tepat jika kita menyebutnya”membacakan pidato” dan bukan “menyampaikan pidato”. Pidato manuskrip perlu dilakukan jika isi yang disampaikan tidak boleh ada kesalahan. Misalnya, ketika Anda diminta untuk melaporkan keadaan keuangan DKM, berapa pemasukan, dari mana saja sumbernya, dan berapa pengeluaran serta untuk apa uang dikeluarkan, Anda perlu menuliskannya dalam bentuk naskah dan baru kemudian membacakannya.

Pidato manuskrip tentu saja bukan jenis pidato yang baik walaupun memiliki keuntungan-keuntungan sebagai berikut: (1) Kata-kata dapat dipilih sebaik-baiknya sehingga dapat menyampaikan arti yang tepat dan pernyataan yang gamblang, (2) Pernyataan dapat dihemat, karena manuskrip dapat disusun kembali, (3) Kefasihan bicara dapat dicapai karena kata-kata sudah disiapkan, (4) Hal-hal yang ngawur atau menyimpang dapat dihindari, dan (5) Manuskrip dapat diterbitkan atau diperbanyak.

Namun demikian, ditinjau dari proses komunikasi, pidato manuskrip kerugiannya cukup berat: (1) Komunikasi pendengar akan akan berkurang karena pembicara tidak berbicara langsung kepada mereka, (2) Pembicara tidak dapat melihat pendengar dengan baik karena ia lebih berkonsentrasi pada teks pidato, sehingga akan kehilangan gerak dan bersifat kaku, (3) Umpan balik dari pendengar tidak dapat mengubah, memperpendek atau memperpanjang pesan, dan (4) Pembuatannya lebih lama.

Pidato Memoriter adalah pidato yang ditulis dalam bentuk naskah kemudian dihapalkan kata demi kata, seperti seorang siswa madrasah menyampaikan nasihat pada acara imtihan. Pada pidato jenis ini, yang penting Anda memiliki kemampuan menghapalkan teks pidato dan mengingat kata-kata yang ada di dalamnya dengan baik. Keuntungannya (jika hapal), pidato Anda akan lancar, tetapi kerugiannya Anda akan berpidato secara datar dan monoton, sehingga tidak akan mampu menarik perhatian hadirin.

Pidato Ekstempore adalah pidato yang paling baik dan paling sering digunakan oleh juru pidato yang berpengalaman dan mahir. Dalam menyampaikan pidato jenis ini, juru pidato hanya menyiapkan garis-garis besar (out-line) dan pokok-pokok bahasan penunjang (supporting points) saja. Tetapi, pembicara tidak berusaha mengingat atau menghapalkannya kata demi kata. Out-line hanya merupakan pedoman untuk mengatur gagasan yang ada dalam pikiran kita. Keuntungan pidato ekstempore ialah komunikasi pendengar dan pembicara lebih baik karena pembicara berbicara langsung kepada pendengar atau khalayaknya, pesan dapat fleksibel untuk diubah sesuai dengan kebutuhan dan penyajiannya lebih spontan. Pidato jenis ini memerlukan latihan yang intensif bagi pelakunya.

Jenis-jenis pidato juga dapat kita identifikasi berdasarkan tujuan pokok pidato yang kita sampaikan. Berdasarkan tujuannya, kita mengenal jenis-jenis pidato: pidato informatif, pidato persuasif, dan pidato rekreatif. Pidato informatif adalah pidato yang tujuan utamanya untuk menyampaikan informasi agar orang menjadi tahu tentang sesuatu. Pidato pesuasif adalah pidato yang tujuan utamanya membujuk atau mempengaruhi orang lain agar mau menerima ajakan kita secara sukarela bukan sukar rela. Pidato rekreatif adalah pidato yang tujuan utamanya adalah menyenangkan atau menghibur orang lain. Namun demikian, perlu kita sadari bahwa dalam kenyataannya ketiga jenis pidato ini tidak dapat berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi satu sama lain. Perbedaan di antara ketiganya semata-mata hanya terletak pada titik berat (emphasis) tujuan pokok pidato kita.

TAHAP PERSIAPAN PIDATO

Sebelum berpidato, berdakwah, atau berceramah, kita harus mengetahui lebih dulu apa yang akan kita sampaikan dan tingkah laku apa yang diharapkan dari khalayak kita; bagaimana kita akan mengembangkan topik bahasan. Dengan demikian, dalam tahap persiapan pidato, ada dua hal yang harus kita lakukan, yaitu: (1) Memilih Topik dan Tujuan Pidato dan (2) Mengembangkan Topik Bahasan.

Memilih Topik dan Tujuan Pidato

Seringkali kita menjadi bingung ketika harus mencari topik yang baik, seakan-akan dunia ini kekeringan bahan pembicaraan, seakan-akan kita tidak memiliki keahlian apa-apa. Jangan bingung, karena sebenarnya setiap orang memiliki keahlian masing-masing, hanya kita seringkali tidak menyadarinya. Mang Endang mungkin tidak dapat berbicara tentang hukum waris dengan baik, tetapi Mang Endang dapat dengan lancar berbicara tentang cara memperbaiki mobil yang rusak. Pak Haji Holis mungkin akan sangat lancar berbicara tentang hukum waris, tetapi hampir pasti beliau akan gagap jika diminta menjelaskan bagaimana caranya memperbaiki mobil yang mogok. Inilah yang disebut keahlian spesifik. Setiap orang punya potensi untuk ahli di bidangnya masing-masing. Hal yang akan menjadi masalah bagi seseorang ketika harus berpidato adalah jika orang itu memaksakan diri berbicara tentang persoalan yang tidak dikuasainya, hal yang tidak dipahaminya (Numawi kitu, ulah maksakeun anjeun nyarios anu urang nyalira henteu ngartos kana naon anu dicarioskeun!).

Untuk membantu Anda menemukan topik bahasan dalam pidato, Profesor Wayne N. Thompson menyusun sitematika sumber topik sebagai berikut:

1. Pengalaman Pribadi:

a. Perjalanan

b. Tempat yang pernah dikunjungi

c. Wawancara dengan tokoh

d. Kejadian luar biasa

e. Peristiwa lucu

f. Kelakukan atau adat yang aneh

2. Hobby dan Keterampilan:

a. Cara melakukan sesuatu

b. Cara bekerja sesuatu

c. Peraturan dan tata cara

3. Pengalaman Pekerjaan dan Profesi

a. Pekerjaan tambahan

b. Profesi Keluarga

4. Masalah Abadi:

a. Agama

b. Pendidikan

c. Masalah kemasyarakatan

d. Persoalan pribadi

5. Kejadian Khusus:

a. Perayaan atau peringatan khusus (Misalnya, Maulud Nabi)

b. Peristiwa yang erat kaitannya dengan peringatan

6. Minat Khalayak:

a. Pekerjaan

b. Rumah tangga

c. Kesehatan dan penampilan

d. Tambahan ilmu

Kriteria Topik yang Baik

Untuk menentukan topik yang baik, kita dapat menggunakan ukuran-ukuran sebagai berikut:

1. Topik harus sesuai dengan latar belakang pengetahuan Anda

Topik yang paling baik adalah topik yang memberikan kemungkinan Anda lebih tahu daripada khalayak, Anda lebih ahli dibandingkan dengan kebanyakan pendengar. Jika Anda merupakan orang yang paling tahu tentang tata cara sholat yang baik dibandingkan dengan orang lain, maka berpidatolah dengan tema atau topik itu; sebaliknya jika Anda tidak begitu paham tentang tata cara sholat yang baik, jangan pernah Anda memaksakan diri untuk berbicara tentang masalah itu.

2. Topik harus menarik minat Anda

Topik yang enak dibicarakan tentu saja adalah topik yang paling Anda senangi atau topik yang paling menyentuh emosi Anda. Anda akan dapat berbicara lancar tentang kaitan berpuasa dengan ketentraman hati, sebab Anda pernah merasa tidak tenang ketika pernah tidak berpuasa secara sengaja di bulan ramadhan.

3. Topik harus menarik minat pendengar

Dalam berdakwah atau berpidato, kita berbicara untuk orang lain, bukan untuk diri kita sendiri. Jika tidak ingin ditinggalkan pendengar atau diacuhkan oleh hadirin, Anda harus berbicara tentang sesuatu yang diminati mereka. Walaupun hal-hal yang menarik perhatian itu sangat tergantung pada situasi dan latar belakang khalayak/hadirin, namun hal-hal yang bersifat baru dan indah, hal-hal yang menyentuh rasa kemanusiaan, petualangan, konflik, ketegangan, ketidakpastian, hal yang berkaitan dengan keluarga, humor, rahasia, atau hal-hal yang memiliki manfaat nyata bagi hadirin adalah topik-topik yang akan menarik perhatian.

4. Topik harus sesuai dengan pengetahuan pendengar

Betapapun baiknya topik, jika tidak dapat dicerna oleh khalayak, topik itu bukan saja tidak menarik tetapi bahkan akan membingungkan mereka. Oleh karena itu, sebelum Anda menentukan topik dakwah, ketahuilah terlebih dahulu bagaimana rata-rata tingkat pengetahuan pendengar yang menjadi khalayak sasaran pidato Anda. Gunakanlah bahasa, gaya bahasa, dan istilah-istilah yang dimengerti oleh hadirin, bukan istilah-istilah yang hanya dipahami oleh Anda (meskipun istilah itu keren sekali).

5. Topik harus jelas ruang lingkup dan pembatasannya

Topik yang baik tidak boleh terlalu luas, sehingga setiap bagian hanya memperoleh ulasan sekilas saja, atau “ngawur”. Misalnya, Anda memilih topik Agama, tetapi kita tahu agama itu luas sekali. Agama bisa menyangkut moralitas, sistem kepercayaan, cara beribadat, dan lain-lain. Agar topik kita jelas, ambilah misalnya tentang cara beribadat, lebih jelas lagi ambilah topik tentang sholat yang khusu’, dan seterusnya.

6. Topik harus sesuai dengan waktu dan situasi

Maksudnya, kita harus memilih topik pidato atau topik dakwah yang sesuai dengan waktu yang tersedia dan situasi yang terjadi. Jika Anda diberikan waktu untuk berbicara selama 10 menit, janganlah Anda memilih topik yang terlalu luas yang tidak mungkin dijelaskan dalam waktu 10 menit. Jika Anda harus berbicara di hadapan para santri yang rata-rata usianya belum akil baligh, janganlah Anda memilih topik dakwah tentang tata cara hubungan suami-istri, bicaralah tentang kebersihan sekolah, misalnya.

7. Topik harus dapat ditunjang dengan bahan yang lain

Jika Anda memilih topik tentang Hadits Shahih dan Dhoif, lengkapi bahan pembicaraan Anda dengan sumber-sumber rujukan (bisa berupa: kitab, buku, atau perkataan ulama) yang sesuai.

Merumuskan Judul Pidato

Hal yang erat kaitannya dengan topik adalah judul. Bila topik adalah pokok bahasan yang akan diulas, maka judul adalah nama yang diberikan untuk pokok bahasan itu. Seringkali judul telah dikemukakan lebih dahulu kepada khalayak, karena itu judul perlu dirumuskan terlebih dahulu. Judul yang baik harus memenuhi tiga syarat, yaitu: relevan, propokatif, dan singkat. Relevan artinya ada hubungannya dengan pokok-pokok bahasan; Propokatif artinya dapat menimbulkan hasrat ingin tahu dan antusiasme pendengar; Singkat berarti mudah ditangkap maksudnya, pendek kalimatnya, dan mudah diingat.

Menentukan Tujuan Pidato

Ada dua macam tujuan pidato, yakni: tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum pidato biasanya dirumuskan dalam tiga hal: memberitahukan (informatif), mempengaruhi (persuasif), dan menghibur (rekreatif).

Tujuan khusus ialah tujuan yang dapat dijabarkan dari tujuan umum. Tujuan khusus bersifat kongkret dan sebaiknya dapat diukur tingkat pencapaiannya atau dapat dibuktikan segera.

Hubungan antara topik judul, tujuan umum, dan tujuan khusus dapat dilihat pada contoh-contoh di bawah ini:

1. Topik : Faedah memiliki sifat pemaaf

Judul : Pemaaf Sumber Kebahagiaan

Tujuan Umum : Informatif (memberi tahu)

Tujuan Khusus: Pendengar mengetahui bahwa:

a. Sifat dendam menimbulkan gangguan jasmani dan rohani

b. Sifat pemaaf menimbulkan ketentraman jiwa dan kesehatan

2. Topik : Keuntungan mengikuti sholat berjamaah

Judul : Sholat berjamaah adalah keutamaan sholat

Tujuan Umum : Mempengaruhi (Persuasif)

Tujuan Khusus :

a. Pendengar memperoleh keyakinan tetantang keutamaan sholat berjamaah

b. Pendengar berbondong-bondong sholat berjamaah di masjid

3. Topik : Kisah-kisah lucu zaman Nabi dan Khalifah

Judul : Yang benar menang, yang salah kalah

Tujuan Umum : Menghibur (rekreatif)

Tujuan Khusus :

Pendengar dapat menikmati kisah lucu Ratu Balqis dikerjai oleh Nabi Sulaiman, Siti Zulaikha menggoda Nabi Yusuf, atau Abu Nawas menjawab teka-teki raja, dan lain-lain.

Perlu diingat, bahwa dalam kenyataannya tidak ada pidato yang berdiri sendiri. Sebuah pidato atau topik pidato bisa berisi ketiga-tiganya; artinya, dalam pidato atau dakwah bisa ada unsur informatif, sekaligus persuasif dan rekreatif. Dengan kata lain, dalam sebuah kegiatan berdakwah, bisa ada unsur memberitahu, mempengaruhi (mengajak), dan juga menghibur. Coba Anda ingat kembali, bagaimana K.H. Zainudin M.Z. berdakwah, di samping memberi ceramah, beliau pun menyeru dan ngabodor. Dakwah yang baik adalah yang mengandung ketiga unsur tujuan tersebut.

Teknik Mengembangkan Pokok Bahasan

Bila topik yang baik sudah ditemukan, kita memerlukan keterangan untuk menunjang topik tersebut. Keterangan penunjang (supporting points) dipergunakan untuk memperjelas uraian, memperkuat kesan, menambah daya tarik, dan mempermudah pengertian.

Ada enam macam teknik pengembangan bahasan dalam berpidato:

1. Penjelasan

2. Contoh

3. Analogi

4. Testimoni

5. Statistik

6. Perulangan

Penjelasan. Penjelasan adalah memberikan keterangan terhadap istilah atau kata-kata yang disampaikan. Memberikan penjelasan dapat dilakukan dengan cara memberikan pengertian atau definisi. Misalnya, istilah Iman kepada Allah Anda jelaskan dengan kalimat: “Iman adalah rasa percaya dan yakin akan kebenaran adanya Allah di dalam hati dan dibuktikan dengan perbuatan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.”

Contoh. Contoh adalah upaya untuk mengkongkretkan gagasan, sehingga lebih mudah untuk dipahami. Contoh dalam pidato dapat berupa cerita yang rinci yang disebut ilustrasi. Untuk memberikan contoh tetantang kesabaran, misalnya Anda menggunakan cerita tentang kesabaran Nabi Ayub dalam menghadapi cobaan Allah melalui penyakit kulit yang dideritanya.

Analogi. Analogi adalah perbandingan antara dua hal atau lebih untuk menunjukkan persamaan atau perbedaannya. Ada dua macam analogi: analogi harfiyah dan analogi kiasan.

Analogi harfiyah (literal analogy) adalah perbandingan di antara objek-objek dari kelompok yang sama, karena adanya persamaan dalam beberapa aspek tertentu. Misalnya, membandingkan manusia dengan monyet secara biologis. Analogi kiasan adalah perbandingan di antara objek-objek di antara kelompok yang tidak sama. Misalnya, membandingkan ke-Esaan Allah dengan menggunakan ayat Al-Quran dan Injil.

Testimoni. Testimoni ialah pernyataan ahli yang kita kutip untuk menunjang pembicaraan kita. Pendapat ahli itu dapat kita ambil dari pidato seorang ahli, tulisan di surat kabar, acara televisi, dan lain-lain, termasuk kutipan dari kitab suci, hadits, dan sejenisnya. Misalnya, untuk memperkuat perkataan Anda tentang betapa mulianya akhlak Nabi Muhammad SAW, Anda mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah atau Bukhori-Muslim.

Statistik. Statistik adalah angka-angka yang dipergunakan untuk menunjukkan perbandingan kasus dalam jenis tertentu. Statistik diambil untuk menimbulkan kesan yang kuat, memperjelas, dan meyakinkan. Misalnya, untuk melukiskan betapa bokbroknya akhlak generasi muda di Indonesia, Anda menggunakan kalimat, “Wahai saudara-saudara, menurut hasil penelitian, saat ini lebih dari 65 persen remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seks sebelum nikah…”

Perulangan. Perulangan adalah menyebutkan kembali gagasan yang sama dengan kata-kata yang berbeda. Perulangan berfungsi untuk menegaskan dan mengingatkan kembali.

Dengan menggunakan keenam teknik pengembangan pokok bahasan tersebut (secara berganti-ganti), maka pidato atau dakwah yang Anda sampaikan insya Allah tidak akan membosankan pendengar, tapi sebaliknya dakwah Anda akan tampak penuh variasi dan tidak membosankan untuk didengar.

TAHAP PENYUSUNAN PIDATO

Seringkali kita mendengar seseorang yang berpidato panjang tanpa memperoleh apa-apa daripadanya selain kelelahan dan kebosanan. Hal ini biasanya disebabkan pembicara mempunyai bahan yang banyak tetapi tidak mampu mengorganisasikannya. Pidato yang tidak teratur, bukan hanya menjengkelkan pendengarnya, tetapi juga akan membingungkan pembicaranya itu sendiri. Ibarat pakaian yang harganya sangat mahal, pasti akan membuat orang yang melihatnya tertawa sisnis jika dipakai secara acak-acakan. Herbert Spencer pernah berkata, “Kalau pengetahuan orang itu tidak teratur, maka makin banyak pengetahuan yang dimilikinya, makin besar pula kekacauan pikirannya.”

Pada pidato, keteraturan merangkai kata-kata akan sangat menentukan daya tarik pidato itu sendiri. Bila tentara bermain-main dengan peluru, maka orator (jago pidato) bermain dengan kata-kata. Bagaimana kata-kata itu harus kita mainkan dalam pidato? Kita akan membahasnya secara teknis.

Prinsip-prinsip Komposisi Pidato

Banyak cara menyusun pesan pidato, tetapi semuanya harus didasari dengan tiga prinsip komposisi. Prinsip-prinsip ini mempengaruhi seluruh organisasi pesan. Raymond S. Ross berkata, “These three great rhetorical principles…have a profound bearing upon how we should organize messages.” Ketiga prinsip itu adalah: kesatuan (unity), pertautan (coherence), dan titik berat (emphasis).

Kesatuan (unity)

Komposisi yang baik harus merupakan kesatuan yang utuh, yang meliputi kesatuan dalam isi, tujuan, dan sifat (mood). Dalam isi, harus ada gagasan tunggal yang mendominasi seluruh uraian, yang menentukan dalam pemilihan bahan-bahan penunjang. Bila tema dakwah kita adalah “Pembuktian Adanya Tuhan Secara Aqliyah”, maka kita tidak membicarakan sifat-sifat Tuhan, macam-macam Tuhan, atau dalil-dalil naqli tentang adanya Tuhan. Di sini kita mungkin hanya membicarakan argumentasi logika dan moral tentang keberadaan Tuhan dihubungkan dengan mahluk ciptaan-Nya; setiap benda ciptaan dihubungkan dengan yang menciptakannya; ada ciptaan pasti ada pencipta.

Komposisi juga harus mempunyai satu macam tujuan. Satu tujuan di antara yang tiga -memberitahukan, mempengaruhi, dan menghibur- harus dipilih. Dalam pidato mempengaruhi (persuasif) boleh saja kita menyelipkan cerita-cerita lucu, sepanjang cerita lucu itu menambah daya persuasi. Bila cerita lucu itu tidak ada hubungannya dengan persuasi, betapa pun menariknya ia harus kita buang. Dalam pidato informatif, humor dipergunakan dengan pertimbangan dapat memperjelas uraian.

Kesatuan juga harus tampak dalam sifat pembicaraan (mood). Sifat pembicaraan mungkin serius, informal, formal, anggun, atau bermain-main. Kalau Anda memilih sifat informal, maka suasana formalitas harus mendominasi seluruh uraian. Ini menentukan pemilihan bahan, gaya bahasa, atau pemilihan kata-kata. Misalnya, dalam suasana informal gaya pidato seperti bercakap-cakap (conversational) dan akrab (intimate) lebih tepat untuk digunakan dibanding gaya pidato ceramah.

Untuk pempertahankan kesatuan dalam pidato, bukan saja diperlukan ketajaman pemikiran, tetapi juga kemauan untuk membuang hal-hal yang mubazir. Kurangnya kesatuan akan menyebankan pendengar menilai pidato kita sebagai pidato yang “ngawur” bertele-tele, tidak jelas apa yang dibicarakan, “meloncat-loncat”.

Pertautan (coherence)

Pertautan menunjukkan urutan bagian uraian yang berkaitan satu sama lain. Pertautan menyebabkan perpindahan dari pokok yang satu kepada pokok yang lainnya berjalan lancar. Sebaliknya, hilangnya pertautan menimbulkan gagasan yang tersendat-sendat atau pendengar tidak akan mampu menarik gagasan pokok dari seluruh pembicaraan. Ini biasanya disebabkan perencanaan yang tidak memadai, pemikiran yang ceroboh, dan penggunaan kata-kata yang jelek.

Untuk memelihara pertautan dapat dipergunakan tiga cara: ungkapan penyambung (connective phrases), pararelisme, dan gema (echo). Ungkapan penyambung adalah sebuah kata atau lebih yang digunakan untuk merangkaikan bagian-bagian. Contoh-contoh ungkapan penyambung: karena itu, walaupun, jadi, selain itu, sebaliknya, misalnya, sebagai contoh, dengan perkataan lain, sebagai ilustrasi, bukan saja, … dan sebagainya.

Paralelisme ialah mensejajarkan struktur kalimat yang sejenis dengan ungkapan yang sama untuk setiap pokok pembicaraan. Misalnya, “Ulama sebagai Pemuka Pendapat memiliki empat ciri: Ia mengetahui lebih banyak, ia berpendidikan lebih tinggi, ia mempunyai status sosial yang lebih terhormat, dan ia lebih sering bepergian ke luar sistem sosial dibandingkan dengan anggota masyarakat yang lain.”

Gema (echo) berarti kata atau gagasan dalam kalimat terdahulu diulang kembali pada kalimat baru. Pada contoh di bawah ini, yang dicetak miring adalah “gema”.

Keempat ciri ulama di atas sangat menentukan tingkat partisipasinya dalam mengemukakan pendapat. Yang disebut terakhir, yaitu sering bepergian ke luar sistem sosial, sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan ulama dalam menyerap ide-ide pembaruan.

Gema dapat berupa persamaan kata (sinonim), perulangan kata, kata ganti seperti itu, itu, hal tersebut, ia, mereka, atau istilah lain yang menggantikan kata-kata yang terdahulu.

Titik Berat (emphasis)

Bila kesatuan dan pertautan membantu pendengar untuk mengikuti dengan mudah jalannya pembicaraan, titik berat menunjukkan mereka pada bagian-bagian penting yang patut diperhatikan. Hal-hal yang harus dititikberatkan bergantung pada isis komposisi pidato, tetapipokok-pokoknya hampir sama. Gagasan utama (central ideas), ikhtisar uraian, pemikiran baru, perbedaan pokok, hal yang harus dipikirkan khalayak pendengar adalah contoh-contoh bagian yang harus dititikbrratkan, atau ditekankan. Dalam pesan tertulis, titik berat dapat dinyatakan dengan tanda garis bawah, huruf miring, huruf tebal, atau huruf besar. Dalam uraian lisan, titik berat dapat dinyatakan dengan hentian, tekanan suara yang dinaikkan, perubahan nada (intonasi), isyarat, dan sebagainya. Dapat pula didahului dengan keterangan penjelas seperti “Akhirnya sampailah pada inti pembicaraan saya”, atau “Saudara-saudara, yang terpenting bagi kita adalah …”, dan sebagainya.

Teknik Menyusun Pesan Pidato

H.A. Overstreet, seorang ahli ilmu jiwa untuk mempengaruhi manusia, berkata, “let your speech march”. Suruh pidato Anda berbaris tertib seperti barisan tentara dalam suatu pawai. Pidato yang tersusun tertib (well-organized) akan menciptakan suasana yang favorable, membangkitkan minat, memperlihatkan pembagian pesan yang jelas, sehingga memudahkan pengertian, mempertegas gagasan pokok, dan menunjukkan perkembangan pokok-pokok pikiran secara logis. Pengorganisasian pesan dapat dilihat menurut isi pesan itu sendiri atau dengan mengikuti proses berpikir manusia. Yang pertama kita sebut organisasi pesan (messages organization) dan yang kedua disebut pengaturan pesan (message arrangement).

Organisasi Pesan

Organisasi pesan dapat mengikuti enam macam urutan (sequence), yaitu: deduktif, induktif, kronologis, logis, spasial, dan topikal. Urutan deduktif dimulai dengan menyatakan dulu gagasan utama, kemudian memperjelasnya dengan keterangan penunjang, penyimpulan, dan bukti. Sebaliknya, dalam urutan induktif kita mengemukakan perincian-perincian dan kemudian menarik kesimpulan. Jika Anda menyatakan dulu mengapa perlu menghentikan kebiasaan merokok, lalau menguraikan alasan-alasannya, Anda menggunakan urutan deduktif. Tetapi bila Anda menceritakan sekian banyak contoh dan pernyataan dokter tentang akibat buruk merokok dan kemudian Anda menyimpulkan bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan, maka Anda menggunakan urutan induktif.

Dalam urutan kronologis, pesan disusun berdasarkan urutan waktu terjadinya peristiwa. Bila Anda diminta untuk berbicara tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Isra dan Mi’raj, Anda dapat membagi pesan sebagai berikut: (1) Kisah Perjalanan Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan (2) Kisah Perjalan Nabi dan Malaikat Jibril dari Masjidil Aqsa ke Mustawan.

Dalam urutan logis, pesan disusun berdasarkan sebab ke akibat atau dari akibat ke sebab. Bila Anda menjelaskan proses kekufuran dari sebab-sebabnya lalu ke gejala-gekalnya, maka Anda mengikuti urutan logis dari sebab ke akibat. Tetapi jika Anda memulai pembicaraan dari gejala-gejala atau tanda-tanda kekufuran, seperti seringnya seseorang bebuat syirik, meninggalkan kewiban sholat, memuja kuburan, lalu kemudian menjelaskan sebab-sebabnya, maka Anda mengikuti urutan logis dari akibat ke sebab.

Dalam urutan spasial, pesan disusun berdasarkan tempat. Cara ini dipergunakan jika pesan berhubungan dengan subjek geografis atau keadaan fisik lokasi. Ceramah tentang kisah perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan agama Islam, dapat disusun: (1) Kisah perjuangan Nabi di ketika di Mekah dan (2) Kisah Perjuangan Nabi di Madinah.

Dalam urutan topikal, pesan disusun berdasarkan topik pembicaraan: klasifikasinya, dari yang penting ke yang kurang penting, dari yang mudah ke yang sukar, dari yang dikenal ke yang asing. Ketika Anda diminta untuk berceramah tentang “Tiga Mutiara Hidup”, Anda menyusun topik pembicaraan mulai dari membicarakan masalah: Iman, Islam, dan Ikhsan, maka pidato Anda dapat dikatakan menggunakan urutan secara kronologis.

Pengaturan Pesan

Bila pesan sudah terorganisasi dengan baik, kita masih perlu menyesuaikan organisasi pesan ini dengan cara berpikir khalayak pendengar. Urutan pesan yang sejalan dengan proses berpikir manusia disebut oleh Alan H. Monroe sebagai motivated sequence (urutan bermotif). Menurut Monroe, ada lima tahap urutan bermotif: perhatian (attention), kebutuhan (needs), pemuasan (satisfaction), visualisasi (visualization), dan tindakan (action).

Dengan demikian, pidato yang baik dan efektif adalah pidato yang sejak awal mampu membangkitkan perhatian khalayak pendengar, mampu membuat pendengar merasakan adanya kebutuhan tertentu, memberikan petunjuk bagaimana cara memuaskan kebutuhan tersebut, dapat menggambarkan dalam pikirannya penerapan usul yang dianjurkan kepadanya, dan akhirnya mampu menggerakkan khalayak untuk bertindak sesuai anjuran kita.

Misalnya, kita akan mengajak seseorang untuk memotong rambutnya yang gondrong. Anda memuali pembicaraan dengan melontarkan perkataan: “Lihat rambutmu!!! Kutu-kutu bergelantungan dengan bebasnya…” Anda sedang memasuki tahap perhatian. Lalu Anda berkata lagi, “Kutu-kutu itu tentu membuat kepalamu gatal dan kamu pasti tidak bisa tidur nyenyak…” Anda tengah berada pada tahap membangkitkan kebutuhan. “Memotong rambut itu mudah dan murah, cukup dengan uang Rp 3.000 atau bahkan gratis…” Anda masuk pada tahap pemuasan. “Jika kamu tetap membiarkan rambutmu jabrig begitu dan membebaskan kutu-kutu menyedot darahmu, kamu tampak seperti orang kurang waras dan mustahil gadis-gadis di desa ini akan tertarik kepadamu…, tapi jika kamu cepat memotong dan merapihkan rambutmu, kutu-kutu itu akan segera mengucapkan selamat tinggal pada kepalamu dan gadis-gadis cantik akan mengucapkan selamat datang arjunaku…” Anda sudah masuk pada tahap visualisai. “Ayo, cukurlah rambutmu sekarang…!!!” Anda melakukan tahap tindakan.

Membuat Garis-garis Besar Pidato

Garis-garia besar (out-line) pidato merupakan pelengkap yang amat berharga bagi pembicara yang berpengalaman dan merupakan keharusan bagi pembicara yang belum berpengalaman. Garis besar pidato ibarat peta bumi bagi komunikator yang akan memasuki daerah kegiatan retorika. Peta ini memberikan petunjuk dan arah yang akan dituju. Garis besar yang salah akan mengacaukan “perjalanan” pembicaraan, dan garis besar yang teratur akan menertibkan “jalannya” pidato.

Garis-garis besar pidato yang baik terdiri dari tiga bagian: pengantar, isi, dan penutup. Dengan menggunakan urutan bermotif dari Alan H. Monroe, kita dapat membaginya menjadi lima bagian: perhatian, kebutuhan, pemuasan, visualisasi, dan tindakan. Perhatian ditempatkan pada pengantar; kebutuhan, pemuasan, dan visualisasi kita tempatkan pada isi; dan tindakan kita tempatkan pada penutup pidato.

TAHAP MENYAMPAIKAN PIDATO

Kita seringkali menyaksikan seseorang yang berpidato di mimbar bergetar (dalam bahasa Sunda: ngadegdeg), suaranya tersendat-sendat, muka dan badanya basah kuyup karena guyuran keringat yang mengalir deras. Hadirin diam, terkesima…bukan karena kagum pada penampilanny tetapi karena ………. kasihan dan tidak tega melihatnya. Dalamilmu komunikasi, keadaan seperti itu disebut kecemasan berkomunikasi (communication apprehension).

Kecemasan berkomunikasi adalah batu sandungan yang besar bagi seorang pembicara. Ia menghilangkan kepercayaan diri. Kecemasan berkomunikasi amat mempengaruhi kredibilitas komunikator. Betapa pun bagusnya pesan yang Anda sampaikan, betapa pun sistematisnya organisasi pesan yang Anda buat, tanpa kepercayaan diri dan kredibilitas, Anda akan kehilangan pengaruh dan pendengar sekaligus.

Sebab-sebab Kecemasan Komunikasi

Orang mengalami kecemasan komunikasi disebabkan beberapa hal. Pertama, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia tidak tahu bagaimana memulai pembicaraan. Ia tidak dapat memperkirakan apa yang diharpkan pendengar. Ia menghadapi sejumlah ketidakpastian. Untuk mengatasi sebab pertama ini, latihan dan pengalaman sangat diperlukan. Pengetahuan tentang retorika akan memberikan kepastian ke[adanya untuk memulai, melanjutkan, dan mengakhiri pembicaraan. Latihan-latihan akan memberikan pengalaman. Melalui latihan, ia akan dapat memastikan, atau paling tidak menduga, reaksi pendengarnya. Resepnya: “Bisa karena biasa”. Dale Carnegie memberikan nasihat yang singkat, “Lakukan apa yang Anda takut melakukannya”. Jadi, jika Anda takut berbicara di depan khalayak (orang banyak), cobalah berbicara di depan mereka.

Sayang sekali, orang yang takut berpidato justru selalu menghindari kesempatan untuk itu. Makin sering ia menghindari bicara, makin sulit ia untuk melakukannya. Bila suatu saat ia “terjebak” untuk berbicara, ia tentu akan mengalami peristiwa yang sangat traumatis. Terjadilah lingkaran setan, ia makin membenci pidato, dan karena kebenciannya itu ia akan gagal terus dalam berpidato. Akhirnya, terbentuklah citra diri (self image): Saya tidak mempunyai bakat untuk berpidato. Saya tidak mampu berpidato. Saya memang tidak dilahirkan untuk berpidato, tetapi untuk mendengar. Dengan citra diri seperti itu, ia tidak akan memiliki kepercayaan diri (self confidence). Tanpa kepercayaan diri, ia gagal. Kegagalan akan memperburuk lagi citra diri. Begitulah seterusnya, seperti lingkaran setan.

Kedua, orang menderita kecemasan komunikasi karena tahu ia akan dinilai oleh orang lain. Berhadapan dengan penilaian membuat orang menjadi gugup atau nervous. Penilaian dapat mengangkat dan menjatuhkan harga dirinya. Tetapi pada umumnya kita memperhatikan yang kedua. Bagaimana bila kita dipermalukan orang? Alangkah malunya bila humor yang kita buat tidak membuat orang tertawa, tetapi justru membuat orang menertawakan kita? Bagaimana kalau kita kelihatan tolol dan bodoh di hadapan orang banyak? Semua yang dutakutkan itu sebenarnya lebih banyak terdapat di dalam pikiran dan perasaan kita daripada dalam kenyataan. Seandainya pidato kita gagal, harga diri kita tidaklah akan jatuh serendah itu. Apalagi, berdasarkan pengalaman, kegagalan itu hanya terjadi pada percobaan-percobaan yang pertama saja, dan khalayk pendengar pun pasti memakluminya. Bukankah kita dulu waktu kecil pernah jatuh berkali-kali sebelum dapat berjalan dan berlari kencang seperti sekarang ini?

Ketiga, kecemasan komunikasi dapat menimpa pemula, bahkan mungkin juga menimpa orangorang yang terkenal sebagai pembicara yang baik. Hal ini dapat terjadi jika pembicara berhadapan dengan situasi yang asing dan ia tidak siap. Misalnya, ia diminta berbnicara dihadapan khalayak yang tidak ia kenal dan mereka tidak mengenalnya; atau ia harus berbicara tentang persoalan yang sama sekali tidak dikuasainya; atau ia tidak punya cukup waktu untuk membuat persiapan. Cara mengatasinya: lakukan analisis situasi dan analisis khalayak, carilah topik pembicaraan yang paling Anda kuasai sehingga Anda tampak kredibel.

Cara-cara Penyampaian Pidato

Tahapan yang dilakukan dalam menyampaikan pidato secara garis besar terdiri dari tiga tahap: (1) Tahap Membuka Pidato, (2) Tahap Mengembangkan Isi Pidato, dan (3) Tahap Menutup Pidato.

Pembukaan pidato adalah bagian penting dan menentukan. Kegagalan dalam membuka pidato akan menghancurkan seluruh komposisi dan presentasi pidato. Tujuan utama pembukaan pidato adalah membangkitkan perhatian , memperjelas latar belakang pembicaraan, dan menciptakan kesan yang baik mengenai komunikator. “Perhatian akan menentukan tindakan,” kata William James. Tetapi kesan pertama akan menentukan sikap. Karena itu seorang pembicara harus memulai pembicaraannya dengan penuh kesungguhan, sehingga ia kelihatan mantap, berwibawa, dan mampu. Ucapan-ucapan apologetis seperti minta maaf atau sikap merendahkan diri semuanya harus Anda hindari. Walaupun demikian, tidak baik pula Anda menepuk dada dan menyombongkan diri.

Hal pertama kali yang harus Anda lakukan dalam tahap ini (tahap pembukaan) adalah mengesankan agar pendengar siap untuk memperhatikan Anda. Bangkitkan perhatian pendengar pada Anda dan topik yang akan Anda sampaikan! Bagaimana caranya?

======================================

KALIMAT MAJEMUK

 Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri dari dua kalimat tunggal atau lebih.
 Kalimat majemuk dapat dibentuk dari paduan beberapa buah kalimat tunggal.
 Pembentukan kalimat majemuk ada yang memerlukan kata penghubung ada pula yang tidak.

Kalimat majemuk dibedakan menjadi
1. Kalimat Majemuk Setara
2. Kalimat Majemuk Rapatan
3. Kalimat Mejemuk Bertingkat

Kalimat Majemuk Setara
 Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk dimana hubungan antar unsur-unsurnya sederajat.
 Kalimat majemuk setara terdiri dari :
1. Kalimat majemuk penjumlahan ditandai dengan kata sambung lalu, lagi, kemudian, dan.
Contoh :
Kakak membaca buku, kemudian menulis surat.
2. Kalimat majemuk pemilihan ditandai dengan kata sambung atau.
Contoh :
Ibu membeli ikan atau ayam.
3. Kalimat majemuk pertentangan ditandai dengan kata penghubung tetapi, melainkan.
Contoh :
Ayah tidak pergi ke kantor melainkan ke rumah sakit.

Kalimat Majemuk Rapatan
 Kalimat majemuk rapatan adalah kalimat majemuk setara yang bagian-bagiannya dirapatkan.
 Hal tersebut terjadi karena kata-kata yang dirapatkan pada bagian-bagian kaliamat itu memiliki fungsi yang sama.
 Perapatan dilakukan dengan menghilangkan salah satu fungsi kalimat yang sama.

1. Kalimat majemuk rapatan subjek
Contoh :
Pak Adi guru mengaji.
Pak Adi ketua RT.
Pak Adi guru mengaji dan ketua RT.

2. Kalimat majemuk rapatan predikat.
Contoh :
Kiki pandai bermain bola.
Galih pandai bermain bola.
Kiki dan Galih pandai bermain bola.

3. Kalimat majemuk rapatan keterangan.
Contoh :
Sore hari kakak menyiram bunga.
Sore hari adik menyapu halaman.
Sore hari kakak menyiram bunga dan adik menyapu halaman.

Kalimat Majemuk Bertingkat
 Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang hubungan antar unsur-unsurnya tidak sederajat.
 Salah satu unsurnya sebagai induk kalimat.
 Unsur lainnya sebagai anak kalimat.

Jenis-jenis kalimat mejemuk bertingkat :

1. Kalimat majemuk hubungan pengandaian, ditandai dengan kata penghubung jika, seandainya, andaikan.
Contoh :
Jika tidak hujan, saya akan datang ke rumahmu.

2. Kalimat majemuk hubungan perbandingan, ditandai dengan kata sambung ibarat, seperti, bagaikan, daripada, laksana.
Contoh :
Doni lebih senang bermain sepakbola daripada bermain basket.

3. Kalimat majemuk hubungan penyebabab, ditandai dengan kata sambung sebab, karena, oleh karena
Contoh :
Amir tidak masuk sekolah karena sakit.

4. Kalimat majemuk hubungan akibat, ditandai dengan kata sambung sehingga, sampai-sampai, maka.
Contoh :
Ia bekerja terlalu keras sehingga jatuh sakit.

5. Kalimat majemuk hubungan cara, ditandai dengan kata sambung dengan.
Contoh :
Sari dapat mempertahankan prestasinya dengan cara berlatih dengan giat.

6. Kalimat majemuk hubungan penjelasan, ditandai dengan kata sambung bahwa, yaitu.
Contoh :
Pak Madi telah menggemburkan tanah, yaitu dengan mencangkul tanah itu sampai kedalaman 10 centimeter.

7. Kalimat majemuk hubungan waktu, ditandai dengan kata sambung ketika, sewaktu, semasa.
Contoh :
Ibu selesai memasak ketika saya pulang sekolah.

KALIMAT MAJEMUK CAMPURAN
 Kalimat majemuk campuran merupakan gabungan dari kelimat majemuk setara dengan kalimat majemuk bertingkat.
 Kalimat majemuk campuran dibentuk sekurang-kurangnya oleh tiga kalimat tunggal.
 Contoh :
Adik selesai mengerjakan PR ketika ayah datang dari kantor dan ibu selesai memasak.

Ringkasan Materi

A. Isi teks
Isi teks adalah pokok-pokok yang terkandung dalam teks atau bacaan. Untuk mengetahui
apakah seorang siswa telah memahami isi teks dapat diukur dengan kemampuan untuk
menentukan pernyataan yang sesuai dengan isi teks, menentukan pertanyaan yang
berkaitan dengan isi teks, menjawab pertanyaan tentang isi teks, menyimpulkan isi teks,
menentukan tema teks dan membuat inti sari teks. Inti sari teks adalah bagian yang
terpenting dari sebuah teks. Oleh sebab itu apabila seorang siswa sudah mampu
menentukan intisari teks berati ia telah memahami isi dengan benar.

B. Gagasan utama
Gagasan utama atau pikiran pokok adalah masalah yang dibahas dalam sebuah karangan.
Gagasan utama atau pikiran pokok biasanya dituangkan ke dalam kalimat yang disebut
kalimat utama. Menurut letaknya, pikiran utama dapat terletak pada awal paragraf
(paragraf deduksi), akhir paragraf (paragraf induksi), awal dan akhir paragraf (paragraf
campuran induksi dan deduksi) atau pada seluruh paragraf (paragraf deskripsi).

C. Tujuan penulisan
Setiap karangan ditulis ada maksud atau tujuan tertentu. Ada penulis yang berusaha untuk
mempengaruhi pembaca agar berbuat sesuatu seperti yang diinginkan penulis. Tulisan
yang demikian digolongkan ke dalam jenis karangan argumentasi. Di lain pihak, ada
penulis yang hanya sekedar memberikan informasi kepada pembaca dan tulisan yang
demikian digolongkan ke dalam jenis karangan eksposisi. Demikian seterusnya. Jadi ada,
keterkaitan antara tujuan penulisan karangan dengan jenis karangan.

D. Tanggapan terhadap isi teks
Memberikan tanggapan terhadap isi teks berarti memberikan pendapat dari sudut
pandang pembaca. Misalnya dalam menanggapi teks yang berisi uraian tentang pengaruh
tayangan televisi terhadap tingkah laku remaja, tanggapan yang dapat diberikan antara
lain dari sudut pandang pendidikan, moral, agama, etika, dan sebagainya.

KOMPETENSI 2
Siswa mampu memahami pengumuman dengan mamahami isi, tujuan, dan bahasa.
Ringkasan Materi
A. Menentukan tujuan penulisan pengumuman
Pengumuman pada umumnya bertujuan untuk memberitahukan suatu hal yang dianggap
penting, baik tentang pelaksanaan suatu kegiatan, pemberitahuan tentang kehilangan,
pindah alamat, duka cita, dan sebagainya. Penggunaan ragam bahasa pengumuman harus
disesuaikan dengan tujuan pengumuman tersebut.
B. Isi pengumuman
Isi pengumuman sesuai dengan tujuannya. Misalnya ada pengumuman yang berisi
pemberitahuan tentang penerimaan karyawan oleh sebuah perusahaan. Ada pula
pengumuman yang berisi pemberitahuan tentang akan diadakannya suatu acara. Kadangkadang
pengumuman juga dimaksudkan sebagai iklan oleh pembuatnya, misalnya
pengumuman yang berisi pemberitahuan tentang perpidahan alamat suatu perusahaan.
Jadi pada hakikatnya pengumuman dapat berisi dua hal yaitu pemberitahuan dan iklan.

C. Penggunaan bahasa pengumuman
Agar efektif, sebaiknya pengumuman menggunakan bahasa yang bersifat komunikatif,
artinya mudah dipahami oleh pembacanya. Efektivitas pengumuman ditentukan juga oleh
penggunaan kata atau frasa yang tidak ambigu. Hindarkan pula penggunaan kata-kata
yang tidak perlu.
Hal yang lebih penting lagi ialah ragam bahasa yang digunakan dalam membuat
pengumuman harus disesuaikan dengan isi dan tujuan pengumuman tersebut. Jika
pengumuman bersifat resmi maka bahasa yang digunakan hendaknya ragam bahasa
resmi. Demikian pula sebaliknya, jika pengumuman bersifat tidak resmi maka bahasa
yang digunakan juga ragam bahasa tidak resmi.

KOMPETENSI 3

Siswa mampu menulis berbagai bentuk karangan dengan memperhatikan ejaan, tanda
baca, penggunaan imbuhan, bentuk kata, istilah, kategori, fungsi, peran kata, kata
penggolong, kata penghubung, frase, kalusa, kalimat, dan paragraf.

Ringkasan Materi
A. Ejaan dan tanda baca
1. Ejaan adalah kaidah penggunaan lambang bunyi atau huruf dalam penulisan dan
pengucapan atau pelafalan dalam penggunaan bahasa lisan. Dalam bahasa tulis,
penggunaan huruf secara tepat sangat mempengaruhi maksud atau isi tulisan
(karangan). Kaidah penggunaan ejaan dan tanda baca ini secara lengkap tercantum
dalam Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan atau disingkat EYD.
Kesalahan penggunaan huruf kapital sering terjadi pada penulisan singkatan dan
akronim, penulisan gelar, jabatan, dan nama. Oleh sebab itu, dalam penulisan hal-hal
tersebut sangat dianjurkan untuk memperhatikan kaidah penulisaannya dengan
memperhatikan EYD.
Demikian pula dalam bahasa lisan, ketepatan ucapan atau pelafalan sangat penting
sebab bunyi bahasa atau fonem memiliki fungsi untuk membedakan makna kata
(bersifat distingtif). Untuk ketepatan pelafalan dapat digunakan Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) sebagai acuan.

2. Intonasi
Intonasi atau lagu kalimat ada tiga macam, yaitu intonasi berita, intonasi tanya, dan
intonasi perintah. Dalam bahasa tulis, intonasi dinyatakan dengan tanda-tanda baca.
Sering kali penggunaan tanda baca saja belum cukup untuk menunjang ketepatan
makna kalimat misalnya penjedaan yang lebih pendek dari tanda koma (,). Penjedaan
semacam itu biasanya digunakan tanda garis miring (/) untuk kepentingan praktis.

3. Penulisan singkatan dan akronim
Seperti telah dikatakan di atas, kaidah penulisan singkatan dan akronim diatur dalam
Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan atau disingkat EYD. Hal
yang berkaitan erat dengan penulisan singkatan dan akronim adalah penggunaan
huruf kapital dan tanda baca terutama tanda titik (.) dan koma (,). Singkatan yang
pengucapannya seperti kata disebut akronim.

B. Bentuk kata
1. Kata berimbuhan
Kata berimbuhan adalah kata dasar yang telah dibubuhi imbuhan atau afiks baik yang
berupa awalan (prefiks), sisipan (infiks), akhiran (sufiks), maupun gabungan dari dua
atau ketiga imbuhan tersebut. Pembahasan kata berimbuhan berkisar pada proses
pembentukannya, makna gramatikalnya, dan penggunaannya secara tepat.
a) Proses pembentukan kata berimbuhan
Dalam proses pembentukan kata berimbuhan sering menimbulkan terjadinya
alomorf atau variasi bentuk morfem. Alomorf ini timbul akibat proses nasalisasi
atau munculnya bunyi nasal (sengau) yang menyertai proses pembentukan kata
berimbuhan tersebut.

Penggunaan kata berimbuhan
Kata dasar yang telah mendapat imbuhan akan berubah maknanya sesuai dengan
imbuhan yang dilekatkannya. Perubahan makna tersebut dinamakan makna
gramatikal. Oleh sebab itu penggunaan kata dasar dan kata berimbuhan dalam
kalimat menjadi berbeda.

Kata berimbuhan yang ambigu
Pengertian ambigu ialah memiliki dua makna atau lebih. Jadi kata berimbuhan
yang ambigu adalah kata berimbuhan yang mengandung makna lebih dari satu
meskipun digunakan dalam kalimat yang sama.

Makna kata berimbuhan
Seperti dijelaskan di atas, bahwa proses pembentukan kata berimbuhan selalu
menimbulkan makna baru (makna gramatikal). Makna gramatikal ini juga
dipengaruhi oleh konteksnya atau penggunaannya dalam kalimat.

2. Kata serapan
Kata serapan adalah kata yang berasal dari bahasa asing atau bahasa daerah yang
yang menjadi kosakata bahasa Indonesia baik melalui proses adaptasi atau
penyesuaian dalam pelafalan dan atau penulisan, maupun adopsi yaitu tanpa
penyesuaian pelafalan dan penulisan.
Kata yang diadaptasi misalnya:
export _ ekspor
class _ kelas dan sebagainya
Kata yang diadopsi biasanya merupakan istilah, misalnya:
ion _ ion
urine _ urine dan sebagainya

Makna kata serapan
Makna kata serapan pada umumnya sama dengan makna kata aslinya. Makna kata
serapan dapat dicari dalam KBBI maupun kamus bahasa asing – Indonesia.
3. Kata ulang
Kata ulang adalah kata dasar atau bentuk dasar yang diulang baik seluruhnya maupun
hanya sebagian, berkombinasi dengan imbuhan maupun tidak, mengalami perubahan
bunyi maupun tidak. Berdasarkan batasan di atas, maka kata ulang selalu memilki
kata dasar atau bentuk dasar.

Bentuk kata ulang
Menurut proses pembentukannya, kata ulang dibedakan atas:
kata ulang utuh (murni) : kuda-kuda, rumah-rumah, anak-anak
kata ulang berimbuhan : mobil-mobilan, orang-orangan
kata ulang berubah bunyi : kelap-kelip, sayur-mayur, lauk-pauk
kata ulang sebagian : berlari-lari, tembak-menembak, melambai-lambaikan

4. Istilah
Istilah adalah kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan makna
konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas di bidang tertentu. Karena sifatnya yang
khas, istilah berbeda dengan kata. Perbedaan tersebut dapat dilihat dalam tabel
berikut:

NO ISTILAH KATA
Tidak terikat konteks Terikat konteks
Tidak berkonotasi sosial Berkonotasi sosial
Bersifat monosemantik Bersifat polisemantik
. Berlaku umum baik secara nasional
maupun internasional
Berlaku khusus dalam masyarakat
bahasa yang bersangkutan

C. Kategori kata
Dalam pembagian kategori kata atau jenis kata, para ahli mempunyai pendapat yang
berbeda-beda, ada yang mengatakan ada empat kategori kata, ada yang delapan, dan ada
pula yang membagi menjadi sepuluh kategori kata. Sebagai acuan yang umum dalam
pendidikan di tingkat SMA digunakan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBI).
Menurut TBBI, Bahasa Indonesia memiliki empat kategori utama, yaitu (1) verba atau
kata kerja, (2) nomina atau kata benda, (3) adjektiva atau kata sifat, dan adverbia. Di
samping itu, ada satu kelompok lain yang dinamakan kata tugas yang terdiri atas beberapa subkelompok yang lebih kecil, misalnya preposisi atau kata depan, konjungsi
atau kata sambung, dan partikel.

D. Fungsi kata
Fungsi kata adalah fungsi atau kedudukan kata dalam kalimat. Pada umumnya fungsi
kata juga disebut jabatan kata dalam kalimat, seperti: subjek, predikat, objek, keterangan,
dan pelengkap. Jadi fungsi kata bersifat sintaksis.
Contoh:
Dengan berlepas tangan, Amin mengendarai sepedanya di jalan raya.
keterangan cara S predikat objek keterangan tempat

E. Peran kata
Selain memiliki fungsi, kata juga memiliki peran dalam kalimat, yaitu apakah kata
tersebut berperan sebagai pelaku, penderita, pelengkap, penyerta, atau sebagai penjelas.
Contoh: Anak-anak belajar Bahasa Indonesia dengan tertib.
Pelaku pelengkap penjelas

F. Kata penggolong
Bahasa Indonesia memiliki kata penggolong seperti orang untuk manusia, ekor untuk
binatang dan sebagainya. Misalnya seorang manusia, seorang pedagang, seekor kera,
seekor ular, sepasang sepatu, dua butir telur, dan sebagainya.

G. Kata penghubung
Kata penghubung adalah kata yang berfungsi untuk menghubungkan kata dengan kata,
frase dengan frase, klausa dengan klausa, kalimat dengan kalimat, atau paragraf dengan
paragraf. Kehadiran kata penghubung dalam klausa, kalimat ataupun paragraf,
menentukan sifat hubungan klausa, kalimat, atau paragraf tersebut.
Contoh:
Kata penghubung yang menyatakan pertentangan : tetapi,
Kata penghubung yang menyatakan waktu : ketika,
Kata penghubung yang menyatakan perbandingan : daripada

H. Frase
Frase adalah gabungan dua kata atau lebih yang menduduki fungsi tertentu dalam kalimat
dan tidak melampaui batas klausa.

Contoh: Minggu depan / Anis dan Duma / akan membuat / nasi goreng
K S P O
Kalimat di atas terdiri dari empat frase. Minggu depan menduduki fungsi sebagai
keterangan dan merupakan frase bertingkat karena hubungan kedua kata yang
membentuk frase tersebut diterangkan dan menerangkan. Anis dan Duma menduduki
fungsi sebagai subjek dan merupakan frase setara karena kata yang satu tidak
menerangkan kata yang lain. Frase akan membuat dan nasi goreng adalah frase
bertingkat karena kata yang satu menerangkan yang lain.

Klausa
Klausa adalah satuan gramatikal yang berupa kelompok kata, sekurang-kurangnya terdiri
atas subjek dan predikat dan berpotensi menjadi kalimat. Dalam kalimat majemuk setara
ada tiga macam hubungan antara klausa-klausa yang membentuknya, yaitu hubungan
penjumlahan, perlawanan, dan pemilihan, sedangkan dalam kalimat majemuk bertingkat
terdapat berbagai macam hubungan antara klausa-klausa yang membentuknya. Hubungan
antarklausa dalam kalimat majemuk bertingkat antara lain menyatakan hubungan waktu,
syarat, cara, tujuan, alat dan sebagainya.

Kalimat Dasar (Kalimat inti)
Menurut Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia kalimat adalah satuan bahasa terkecil,
dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh.
Kalimat dasar yakni kalimat yang tidak disertai unsur keterangan baik keterangan subjek,
predikat ataupun objek. Kalimat dasar merupakan struktur yang paling pokok. Artinya
struktur dasar meliputi unsur subjek, predikat atau dan objek serta pelengkap.
Contoh:
(1) Pencarian korban banjir di Bukit Lawang, Kecamatan Bahorok, Sumatera Utara
masih terus berlanjut.
Apabila unsur keterangan ditiadakan pada contoh kalimat di atas akan tinggal unsur
pokok yang berupa kalimat pendek (lihat 1b).
(1a) Pencarian korban banjir masih terus berlanjut.
(1b) Pencarian berlanjut.

Jadi kalimat (1) apabila ditiadakan unsur keterangannya akan menjadi kalimat dasar yang
berpola S, P. Demikian sebaliknya, dari kalimat dasar dapat diperluas dengan menambah
unsur keterangan.

K. Macam-macam pola kalimat dasar (tunggal)
(1) Kalimat dasar berpola S P O K
S P O K
(1a) Guru itu memperlakukan kami dengan baik.
(1b) Dina mengirimkan uang kepada orang tuanya.
(2) Kalimat dasar berpola S P O Pel
S P O Pelengkap
(2a) Robertus mengirimi ibunya uang.
(2b) Siska mengambilkan adiknya air minum.
(3) Kalimat dasar berpola S P K
S P K
(3a) Peristiwa banjir terjadi di Medan.
(3b) Kami tinggal di Jakarta.
(4) Kalimat dasar berpola S P Pel
S P Pel
(4a) Pak Ferdinan menjadi ketua koperasi.
(4b) Pancasila merupakan dasar negara kita.
(5) Kalimat dasar berpola S P O
S P O
(5a) Andy membeli sepeda baru.
(5b) Kita memerangi kemiskinan.
(6) Kalimat dasar berpola S P
S P
(6a) Dia seniman.
(6b) Bumi berputar.

(1) Kalimat dasar berpola S P O K
S P O K
Guru itu memperlakukan kami dengan bai
Dina mengirimkan . uang orang tuanya.

(2) Kalimat dasar berpola S P O Pel
S P O Pelengkap
Robertus mengirimi ibunya uang.
Siska mengambilkan adiknya air minum

(3) Kalimat dasar berpola S P K
S P K
Peristiwa banjir terjadi di Medan
Kami tinggal di Jakarta.

(4) Kalimat dasar berpola S P Pel
S P Pelengkap
Pak Ferdinan menjadi ketua koperasi.
Pancasila merupakan dasar negara kita.

(5) Kalimat dasar berpola S P O
S P O
Andy membeli sepeda baru
Kita memerangi kemiskinan

(6) Kalimat dasar berpola S P
S P
Dia seniman
Bumi berputar

L. Kalimat tunggal dan majemuk
Berdasarkan jumlah klausanya, kalimat dapat dibagi atas kalimat tunggal dan kalimat
majemuk.
Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa.
Contoh:
Guru bahasa Indonesia kami akan dikirim ke luar negeri.
Saya sedang mengikuti tes uji kompetensi guru.

Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri atas dua klausa atau lebih.
Kalimat majemuk masih dibedakan lagi atas kalimat majemuk setara dan kalimat
majemuk bertingkat.
Kalimat majemuk setara (koordinatif) adalah penggabungan dua klausa atau lebih yang
masing-masing mempunyai kedudukan yang setara dalam struktur kalimat

Contoh kalimat majemuk setara (koordinatif):
Saya datang ke rumah Anda atau Anda datang ke rumah saya.
Kalimat (1) tersebut dapat dikembalikan menjadi dua buah kalimat tunggal.
(1a) Saya datang ke rumah Anda.
(1b) Anda datang ke rumah saya.

Kalimat Majemuk Bertingkat (subordinatif)
Kalimat Majemuk Bertingkat (subordinatif) yaitu menggabungkan dua klausa atau lebih
sehingga terbukti kalimat majemuk yang salah satu klausanya menjadi bagian dari klausa
yang lain. Klausa-klausa pada kalimat ini kedudukannya tidak setara.

Contoh:
(2a) Ibu mengatakan (sesuatu).
(2b) Saya menjaga adik dengan baik.
(2c) Ibu mengatakan bahwa saya menjaga adik dengan baik.
Kalimat (2c) disebut kalimat majemuk bertingkat (subordinatif), hasil penggabungan (2a)
dan (2b)

Konjungtor yang digunakan untuk menggabungkan klausa subordinatif dengan klausa
utama sebagai berikut
a. Konjungtor waktu: setelah, sesudah, sebelum, sehabis, sejak, selesai, ketika.
b. Konjungtor syarat: jika, kalau, jikalau, asal(kan), bila, manakala.
c. Konjungtor pengandaian: andaikan, seandainya, andaikan, sekiranya.
d. Konjungtor tujuan: agar, supaya, biar.
e. Konjungtor konsesif: biarpun, meski(pun), sungguhpun, sekalipun, walaupun,
kendati(pun).
f. Konjuntor perbandingan: seakan-akan, seolah-olah, sebagaimana, seperti, sebagai,
bagaikan, laksana, daripada, alih-alih, ibarat.
g. Konjungtor sebab atau alasan: sebab, karena, oleh karena.
h. Konjungtor hasil atau akibat: sehingga, sampai (-sampai).
i. Konjungtor cara: dengan, tanpa.
j. Konjungtor alat: dengan, tanpa.

M. Kalimat aktif dan pasif
Kalimat aktif merupakan kalimat dasar, sedangkan kalimat pasif merupakan kalimat
ubahan dari kalimat aktif.
Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya merupakan pelaku perbuatan yang
dinyatakan oleh predikat.
Kalimat aktif hanya terdapat pada kalimat yang predikatnya berupa verba transitif (kata
kerja yang memerlukan objek)
Contoh:
(1) Dosen itu mengangkat seorang asisten baru.
(2) Saya harus menyelesaikan tugas ini.
Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya tidak berperan sebagai pelaku, tetapi
sebagai sasaran perbuatan yang dinyatakan predikat.
Contoh:
(1a) Seorang asisten baru diangkat oleh dosen itu.
(2a) Tugas ini harus saya selesaikan.
Pemasifan dalam bahasa Indonesia dilakukan dengan dua cara: (1) menggunakan verba
tanpa prefiks di – seperti contoh (2a)
Selain contoh (1a) dan (2a) di atas perhatikan contoh kalimat pasif berikut ini.
(3) Kaki saya tersandung batu.
(4) Mereka kedinginan dari tadi.
Pada kalimat (3) dan (4) subjeknya dikenai (sasaran) perbuatan yang dinyatakan
predikat. Kaki saya (kalimat 3) dan mereka (kalimat 4) subjeknya menjadi sasaran.

N. Kalimat Korelatif
Kalimat korelatif adalah kalimat yang dihubungkan dengan konjungtor korelatif yang
memiliki status sintaksis yang sama. Konjungtor korelatif terdiri atas dua bagian yang
dipisahkan oleh salah satu kata, frase, atau klausa.
Contoh konjungtor korelatif:
baik … maupun … sedemikian rupa … sehingga …
tidak hanya … , tetapi juga … apa (kah) … atau …
bukan hanya … , melainkan juga … entah … entah …
demikian … sehingga … jangankan … pun …
Contoh dalam kalimat:
1. Baik saya maupun dia suka bekerja keras.
2. Kita tidak hanya harus setuju, tetapi juga harus patuh.
3. Anak itu larinya demikian kencang sehingga sangat sukar untuk dikejar.
4. Kita harus mengerjakannya sedemikian rupa sehingga hasilnya benar-benar baik.
5. Apa (kah) Anda setuju atau tidak, kami akan jalan terus.
6. Entah disetujui entah tidak, kami akan mengusulkan proposal ini.
7. Jangankan saya, teman dekatnya pun tidak diberi tahu.

P. Kalimat Ambigu
Kalimat ambigu adalah kalimat yang mempunyai makna lebih dari satu.
Contoh: Yang duduk di depan kakak ibu.
Kalimat tersebut memiliki dua pengertian
1. Yang duduk di depan adalah kakak ibu atau bibi.
2. Yang duduk di depan kakak adalah ibu.
Kalimat ambigu terjadi karena hubungan makna antara katanya tidak jelas. Kalimat
ambigu dapat diperbaiki dengan cara memperjelas hubungan antara kata-kata
pembentuknya dengan memberi tanda koma dan mengubah kata-katanya.
Contoh:
1. Tahun ini uang sekolah siswa baru saja dinaikkan.
Kalimat ini mempunyai makna ganda yaitu:
1a. Uang sekolah siswa baru itu saja yang dinaikkan. Uang sekolah siswa lama tidak dinaikkan.
1b. Uang sekolah siswa itu baru saja dinaikkan. Artinya uang sekolah belum lama dinaikkan.

Oleh karena itu, kalimat tersebut harus diubah menjadi:
1c. Tahun ini uang sekolah siswa – baru saja yang dinaikkan. Uang sekolah siswa lama tidak
dinaikkan.
1d. Uang sekolah siswa baru tahun ini baru saja dinaikkan.

Q. Paragraf
Paragraf adalah seperangkat kalimat yang membicarakan suatu gagasan atau topik.
Syarat-syarat paragraf di antaranya memiliki:
a. kesatuan paragraf
b. kepaduan paragraf
Kesatuan paragraf berarti hanya terdapat satu pokok pikiran atau satu gagasan utama.
Gagasan penjelas harus mendukung gagasan utama. Demikian halnya kalimat-kalimatnya
perlu ditata secara cermat agar tidak ada satupun kalimat yang menyimpang dari gagasan
utama.
Kepaduan (koherensi) paragraf dapat dibentuk melalui susunan kalimat yang logis. Agar
terjadi kalimat yang padu dapat mengaitkan dengan menggunakan kata penghubung, kata
kunci, dan kata ganti diusahakan dalam paragraf tidak terdapat kalimat yang sumbang
atau yang menyimpang.

KOMPETENSI 4
Ringkasan Materi
A. Isi Surat
Surat adalah alat untuk menyampaikan suatu maksud secara tertulis barupa permintaan,
pertanyaan, pertimbangan, lamaran, penolakan dan sebagainya.
Berdasarkan sifat isinya surat dibedakan atas :
(1) Surat dinas, memuat persoalan kedinasan/intasi pemerintah.
(2) Surat pribadi:
1.1. Bersifat kekeluargaan, persahabatan, dan pekenalan (tidak resmi).
1.2. Bersifat resmi, misalnya surat lamaran pekerjaan, surat permohonan.
(3) Surat niaga, memuat persoalan niaga/usaha.
(4) Surat sosial, dibuat pelbagai lembaga sosial
(5) Surat pengantar, surat berbentuk daftar untuk mengirimkan sesuatu bersama surat.
Bagian isi surat terdiri atas;
a. Alinea pembuka
Alinea pembuka ini berfungsi sebagai pengantar isi surat untuk menarik perhatian
pembaca kepada pokok surat.
Untuk menarik perhatian pembaca kepada pokok surat.
Contoh alinea pembuka:
– Dengan ini kami beritahukan bahwa …
– Sesuai dengan …
– Dengan sangat menyesal …
– Bersama ini kami sampaikan …

Kelompok kata bersama ini dan dengan ini sering dikacaukan pemakaiannya.
Bersama ini dipakai apabila pada surat itu ada sesuatu yang dilampirkan.
Contoh alinea pembuka pada surat balasan:
– Berkenaan dengan surat Saudara tanggal …
– Membahas surat Saudara …
– Menjawab surat Saudara …
– Berhubung dengan surat Saudara…

b. Surat sesungguhnya
Isi surat sesungguhnya memuat sesuatu yang dibutuhkan, dikemukakan, ditanya,
diminta, dan lain-lain yang disampaikan kepada penerima surat. Isi surat singkat, jelas
dan sopan. Isi disusun dengan ungkapan yang singkat tetapi jelas. Gunakan istilah
yang mudah dipahami hindari istilah yang belum lazim sehingga menyulitkan
pembaca memahami maksud surat.

c. Alenia penutup
Alenia penutup merupakan kesimpulan yang berfungsi sebagai kunci isi surat atau
penegasan isi surat. Alenia penutup juga dapat mengandung harapan atau ucapan
terimakasih kepada penerima surat
Contoh alinea penutup:
– Atas perhatian saudara, kami ucapkan …
– Demikianlah surat ini, kami sampaikan …
– Harapan kami, semoga …
Namun perlu diperhatikan seringkali kalimat penutup surat berbunyi atas
perhatiannya, kami ucapkan …
Penggunaan -nya pada penutup tidak tepat sebagai pengganti ketiga sedangkan surat
ditujukan kepada orang kedua.

B. Bahasa surat
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat mengirim surat:
1. Susunan kata dan pemakaian kata tepat.
2. Isinya singkat, sederhana, dan padat.
3. Hindari kata yang menyinggung perasaan orang lain.
4. Maksud kalimat surat jelas.
5. Menggunakan ejaan dan tanda baca dengan benar.
6. Bahasanya sopan.
7. Hindarilah penggunaan singkatan dan akronim
8. Bentuknya rapi.

C. Bentuk surat
Yang dimaksud bentuk surat, ialah susunan letak atau posisi bagian-bagian surat.
Bentuk surat resmi sesuai pada dasarnya merupakan bentuk variasi sebagai berikut
1. Bentuk setengah lurus dengan bagian alamat surat ditempatkan di bagian kanan atas,
di bawah nama tempat dan tanggal surat.
2. Bentuk setengah lurus dengan bagian alamat surat ditempatkan di sebelah dari
vertikal di bawah nomor dan perihal surat.
3. Bentuk setengah lurus yang mempunyai ciri-ciri khusus berdasarkan jenis surat resmi
tertentu seperti surat keputusan, instruksi, surat tugas, pengumuman dan surat
pengantar.

1) Jakarta, 6 November 2003
2) Hal : Lamaran Pekerjaan
3) Lampiran : Satu berkas

4) Yth. Pemasangan Iklan Harian Kompas
PO BOX 5461 Jkt 11043
Jakarta

5) Dengan Hormat,
6) Setelah membaca iklan yang dimuat dalam harian Kompas tanggal 4 November 2003, yang isinya menyatakan bahwa perusahaan bapak memerlukan seseorang sekretaris maka yang bertanda tangan di bawah ini;
Nama : Anita F.S
Tempat/tanggal lahir : Jakarta, 22 Februari 1978
Alamat : Jalan Yudistira No. 14 Jakarta
Pendidikan : Akademi sekretaris

6) Dengan ini mengajukan permohonan untuk diterima sebagai sekretaris pada perusahaan yang bapak pimpin karena saya dapat memenuhi semua syarat yang ditentukan.

Bersama ini saya lampirkan:
1. daftar riwayat hidup
2. fotokopi ijazah sekretaris
3. surat keterangan berkelakuan baik dari Polisi
4. tiga lembar pas foto terakhir

7) Atas segala perhatian Bapak saya ucapkan terima kasih.
8) Hormat kami,
ttd
9) Ir. Bangun, M.S.

Unsur-unsur surat lamaran tersebut antara lain:
1. tempat dan tanggal lahir 6. isi surat
2. pokok surat (no, hal dan lampiran) 7. penutup surat
3. alamat yang dituju 8. salam penutup
4. salam pembuka 9. Nama dan tanda tangan
5. pembuka surat

E. Surat Balasan
Selain contoh surat resmi di atas perhatikan contoh surat balasan berikut ini:
1. Penggalan surat balasan panggilan kerja

Dengan hormat,
Setelah kami mempertimbangkan lamaran saudara maka kami beri
tahukan bahwa saudara diterima sebagai karyawan di kantor kami.
Untuk pembicaraan selanjutnya, kami mengharapkan kehadiran
saudara di kantor kami pada hari …, tanggal …, pukul ….
2. Penggalan surat balasan penolakan lamaran kerja

Sehubungan dengan sural lamaran Saudara tanggal …. Dengan sangat
menyesal kami beri tahukan bahwa lowongan pekerjaan sebagaimana
dimaksudkan dalam iklan kami pada harian … tanggal … telah terisi.
Kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Saudara terhadap iklan
tersebut.
3. Surat balasan panggilan wawancara

Berkenaan dengan surat lamaran Saudara tanggal …, dengan ini kami
mengharapkan kedatangan Saudara di kantor kami pada hari …, tanggal
…., pukul … untuk wawancara.
Pada kesempatan tersebut hendaknya saudara membawa semua surat
keterangan asli

KOMPETENSI 5
Ringkasan Materi
A. Pengertian Resensi
Resensi berasal dari bahasa latin yaitu kata kerja revidere atau resucere. Artinya melihat
kembali, menimbang, atau menilai. Meresensi buku dapat berarti memberikan penilaian,
mengungkapkan kembali isi buku, membahas, atau mengkritik buku dengan maksud
memberikan informasi isi buku kepada masyarakat luas.
Istilah resensi dikenal juga dengan sebutan timbangan buku, tinjauan buku, pembicaraan
buku, dan bedah buku.
Sebenarnya, bidang garapan resensi bukan hanya buku. Bidang garapan resensi dapat
dikelompokkan menjadi 3 tiga bagian, yaitu (1) buku, baik fiksi maupun nonfiksi, (2)
pementasan seni, seperti film, sinetron, tari, drama, musik, atau kaset, (3) pameran seni,
baik seni lukis maupun seni patung.
B. Tujuan Resensi
1. Memberikan informasi atau pemahaman tentang apa yang diungkapkan dalam sebuah
buku.
2. Memberikan pertimbangan kepada pembaca apakah sebuah buku pantas mendapat
sambutan.
3. Mengajak membaca untuk memikirkan, merenungkan, dan mendiskusikan problema
yang muncul dalam sebuah buku.
C. Bahasa Resensi
Bahasa resensi biasanya singkat, padat, dan tegas, menarik, mudah ditangkap, dan enak
dibaca. Pemilihan karakter bahasa disesuaikan dengan karakter pembaca yang akan
menjadi sasaran. Pemilihan karakter bahasa berkaitan erat dengan masalah penyajian
tulisan. Misalnya, kalimat runtun, ejaannya benar dan tidak berpanjang lebar (berteletele).

D. Langkah-langkah Merensensi
Langkah-langkah merensensi buku sebagai berikut:
1. Penjajakan atau pengenalan terhadap buku mulai dari tema buku, identitas penerbit,
siapa pengarang, dan golongan buku (ekonomi, pendidikan, bahasa dan lain-lain).
2. Membaca buku secara komprehensif, cermat dan teliti.
3. Menandai bagian-bagian buku yang dianggap khusus atau penting.
4. Membuat sinopsis atau intisari buku.
5. Menentukan sikap dan menilai organisasi penulisan isi, bahasa, dan aspek teknis.
6. Mengoreksi dan merevisi hasil resensi.
E. Unsur-unsur resensi
Unsur-unsur yang diresensi:
1. Membuat judul resensi menarik dan menjiwai tulisan.
2. Menyusun data buku (judul, pengarang, penerbit, tahun terbit, tebal buku dan harga
kalau perlu).
3. Membuat pembukaan. Misalnya memperkenalkan pengarang dan karyanya,
membandingkan dengan buku sejenis, memaparkan sosok pengarang dan keunikan
buku, merumuskan tema buku, mengungkapkan kesan, mengajukan pertanyaan, dan
membuka dialog.
4. Tubuh dan isi resensi antara lain: sinopsis, ulasan singkat, keunggulan dan kelemahan
buku, serta tinjauan bahasa.
5. Penutup resensi.
Bagian penutup biasanya berisi buku tersebut penting untuk siapa dan mengapa.

KOMPETENSI 6
Ringkasan Materi
A. Pengertian Laporan
Laporan adalah segala sesuatu yang dilaporkan dari seseorang atau suatu badan hukum
sehubungan dengan tugas yang dibebankan kepadanya.
B. Fungsi laporan
a. memberitahukan atau menjelaskan dasar penyusunan, kebijakan, keputusan atau
pemecahan masalah.
b. memberitahukan atau menjelaskan pertanggungjawaban tugas dan kegiatan.
c. merupakan bahan untuk pendokumentasian.
d. merupakan sumber informasi.
C. Tujuan laporan
a. mengetahui kemajuan dan perkembangan suatu masalah.
b. mengadakan pengawasan dan perbaikan.
c. mengambil suatu keputusan yang lebih efektif.
D. Syarat pembuatan laporan
a. menggunakan bahasa yang jelas, singkat, dan benar.
b. mengemukakan isi laporan dengan lengkap dan sistematis.
E. Jenis-jenis laporan
Menurut jenisnya laporan dibedakan atas laporan formal dan laporan non formal.
Laporan formal adalah laporan yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. ada halaman judul
b. ada surat atau pernyataan penyesalan
c. ada daftar isi
d. ada ikhtisar atau abstrak
e. ada pendahuluan, isi, dan penutup
Laporan non formal adalah laporan yang tidak memenuhi beberapa unsur formal di atas.
Laporan ini bersifat pribadi yang disesuaikan dengan kepentingan penulisannya.
F. Bentuk laporan
Berdasarkan bentuknya laporan dibedakan atas:
a. Laporan berbentuk formulir isian
b. Laporan berbentuk surat
c. Laporan berbentuk memorandum atau nota
d. Laporan jurnalistik
e. Laporan ilmiah/penelitian (makalah, skripsi tesis, dan disectasi)
f. Laporan percobaan
g. Laporan hasil pengamatan
h. Laporan perjalanan

KOMPETENSI 7
Ringkasan Materi
A. Makna leksikal
Makna leksikal ialah makna kata secara lepas tanpa kaitan dengan kata yang lainnya
dalam sebuah struktur (frase, klausa, atau kalimat). (Soejito, 1992 : 52)
Contoh:
1. rumah ‘bangunan untuk tempat tinggal manusia’
2. makan ‘menguyah dan menelan sesuatu’
3. ayah ‘orang tua laki-laki; bapak’
Makna gramatikal ialah makna baru yang timbul akibat terjadinya proses gramatika
(pengimbuhan/pengulangan/pemajemukan)
Contoh:
1. berumah ‘mempunyai rumah’
2. rumah-rumahan ‘yang menyerupai rumah’
3. rumah makan ‘rumah tempat makan’
kata lugas seperti di, dari, untuk, jika, dan karena memiliki makna gramatikal

B. Perubahan Makna
Jenis-jenis perubahan makna
1. Meluas maksudnya kata yang sekarang lebih luas maknanya dari kata yang dahulu
Contoh: Kata bapak semula bermakna orang tua laki-laki sekarang meluas menjadi
bapak guru, bapak kepala sekolah dan lain-lain
2. Menyempit yakni kata yang semula luas namun kini maknanya menyempit.
Contoh: kata ahli sebelumnya bermakna anggota atau orang yang termasuk dalam
golongan kata ahli bedah sekarang bermakna orang yang makin dalam
bidang tertentu.
3. Amelioratif yakni makna kata yang baru nilai raga katanya lebih baik atau lebih
tinggi dari makna sebelumnya.
Contoh: kata wanita lebih tinggi daripada kata perempuan
4. Peyorasi yakni makna kata yang sebelumnya dianggap/dirasakan tinggi atau baik kini
dianggap lebih rendah daripada istri.
Contoh: kata bini dianggap lebih rendah daripada istri.
5. Asosiasi yakni perubahan makna yang terjadi karena persamaan sifat.
Contoh: Orang itu memberikan amplop kepada orang yang mewawancarainya
(dianggap uang sogok)
6. Sinestesia yakin perubahan makna akibat perbedaan pandangan antara dua indera
yang berbeda.
Contoh: Wajahnya manis sekali (kata manis ditujukan untuk indera perasa)

C. Sinonim Kata
Sinonim ialah dua kata atau lebih yang memiliki makna yang sama atau hampir sama.
Contoh:
(1) Yang sama maknanya:
Sudah – telah
Sebab – karena
Meskipun – walaupun – biarpun – sungguhpun
(2) Yang hampir sama maknanya:
mati – meninggal – wafat – gugur
melihat – mengerling – menatap – menengok
baik – bagus – indah – permai – molek – cantik
Kata-kata bersinonim seperti contoh-contoh di atas, maknanya tidak benar-benar sama.
Dapat dikatakan jarang ada kata-kata bersinonim mutlak, yang maksudnya sama seratus
persen. Meskipun dengan memperhatikan antara lain:
(a) makna dasar dan makna tambahannya;
(b) nilai rasanya (makna emotifnya);
(c) kelaziman pemakaiannya (kolokasinya); dan
(d) distribusinya.

D. Polisemi ialah satu kata yang memiliki makna banyak (ganda/lebih dari satu)
Contoh:
(1) Andre jatuh dari motor.
(2) Harga dolar jatuh.
(3) Perusahaan jatuh.
(4) Kakak jatuh dalam ujian.
Pada kalimat (1) kata jatuh bermakna lugas (apa adanya) sedangkan kalimat (2), (3), dan
(4) bermakna kias. Makna kata jatuh berbeda karena konteks kalimatnya.
Isitilah polisemi dengan homonim berbeda.

E. Hiponim
Hiponim ialah kata-kata yang tingkatnya ada di bawah kata yang menjadi
superordinat/hipernim (kelas atas)
(Soedjito, 1992 : 88)
Contoh:
1. Kata bunga merupakan superordinat sedangkan mawar, melati, anggrek, flamboyan
dan sebagainya merupakan hiponim. Hubungan mawar, melati, anggrek, dan
flamboyan disebut Icohiponim

Kata burung merupakan superordinat atau hiponimnya. Hiponimnya adalah merpati,
gelatik, nuri, dan perkutut.

F. Ungkapan (Idiom)
Ungkapan (idiom) adalah kelompok kata atau gabungan kata yang menyatakan makna
khusus makna unsur-unsurnya sering menjadi kabur.
Contoh:
1. kambing hitam – orang yang dituduh atau dipersalahkan.
2. makan angin – berjalan-jalan untuk mencari hawa bersih.
– duduk-duduk sekadar menghasilkan waktu.
3. makan tangan – kena tinju (pukul).
– beruntung besar (dengan tidak sangka-sangka).
G. Peribahasa
Peribahasa adalah kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya dan biasanya
mengiaskan maksud tertentu.
Contoh:
1. Seperti pinang dibelah dua
Artinya: dua orang yang serupa benar
2. Makan hati berulam jantung
Artinya: bersusah hati karena perbuatan salah seorang teman karib.
3. Makan bubur panas-panas.
Artinya: terlalu berharap akan berolah rezeki lalu bertindak tergesa-gesa sehingga
kecewa jadinya.

H. Majas
Majas adalah cara melukiskan sesuatu dengan jalan menyamakan dengan sesuatu yang
lain.
Majas dikelompokkan atas:
a. majas perbandingan
b. majas pertentangan
c. majas pertautan
d. majas perulangan

1. Majas perbandingan
a. Perumpamaan ialah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berkaitan dan
sengaja dianggap sama.
Contoh: Bagai kaambing dihalau ke air.
b. Metafora ialah perbandingan yang implisit tanpa kata pembanding.
Contoh: Kapan Anda bertemu dengan kembang desa itu?
c. Personifikasi ialah perbandingan yang melukiskan benda mati seolah-olah hidup.
Contoh: Banjir bandang telah menelan korban manusia.
d. Alegori ialah majas yang mengandung sifat-sifat moral manusia.
Contoh: Mendayung bahtera rumah tangga.
2. Majas Pertentangan
a. Hiperbola ialah majas yang menyatakan sesuatu dengan berlebih-lebihan.
Contoh: Suaranya menggelegar membelah angkasa.
b. Litotes ialah majas yang menyatakan berlawanan, memperkecil, atau memperhalus
keadaan.
Contoh: Terimalah pemberian yang tidak berharga ini.
c. Ironi ialah majas yang menyatakan makna yang bertentangan atau sebaliknya dengan
maksud menyindir.
Contoh: Pagi benar engkau datang, baru pukul delapan.
d. Paradoks ialah pengungkapan suatu kenyataan yang seolah-olah bertentangan, tetapi
mengandung kebenaran.
Contoh: Hidupnya mewah, tetapi tidak bahagia.
3. Majas Pertautan
a. Metonimia ialah majas yang memakai nama ciri atau hal yang ditautkan dengan
orang, barang sesuai penggantinya.
Contoh: Dia suka mengisap Djisamsu.
b. Sinekdok
2a. Parsprototo ialah penyebutan sebagian untuk maksud keseluruhan
Contoh: Saya tidak melihat batang hidungnya.
2b. Totem Protaparte ialah penyebutan keseluruhan untuk maksud sebagian.
Contoh: Indonesia meraih medali emas dalam pertandingan itu.
c. Alusio ialah majas yang menunjuk secara tidak langsung kesuatu peristiwa dengan
menggunakan peribahasa.
Contoh: Menggantung asap saja kerjamu sejak tadi. (membual, omong kosong)
d. Eufeumisme ialah majas yang halus sebagai pengganti ungkapan.
Contoh: Pemerintah mengadakan penyesuaian harga BBM, (menaikkan)

Majas Metonimia merupakan majas yang menggunakan ciri seseorang untuk
mewakili/menyebutkan seseorang, misalnya si hitam.

pengumuman judul kir

Daftar nama dan judul KIR

Almanar Azhari Islamic Boarding School

Tahun 2009

Kelas XII

No

Nama

Judul

Pembimbing

Rekomendasi

1

Emil Mafazi

lingkungan dan kesehatan

Mr. Mukhid

Not Rekomendeed

2

Hasbi Ibrani

3

Ibrahim Yusuf

meluruskan kesalahpahaman tentang syekh muhammad bin abdul wahab

Mr. Hakim

Not Rekomendeed

4

Lina Affifatussalimah

Khasiat daun Pepermint Bagi Kesehatan

Mrs. Dini

Rekomendeed

5

M Rizki

Us’ul Bid’ah

Mr. Hakim

Not Rekomendeed

6

Nadia Hanifa

Penerapan Psikologi Anak di Lingkungan Pengasuhan Almanar

Mr. Faisal

Rekomendeed

7

Nida Najibah Hanum

Dampak lagu Mbah Surib thd siswa almanar

Ust. Fuad Nawawi

Rekomendeed

8

Nurlina Bintan

Peran Internet dalam peningkatan prestasi belajar anak AAIBS

Mr. Mukhid & Mr. Arif

Rekomendeed

9

Ulya Arifah

Manfaat Air Bagi kehidupan Manusia

Mr. Mukhid & Mr. Rizkon

Rekomendeed

10

Adhi Rismawan

11

Annasia Marini

12

Arina Nurul Fadilah

13

Destya Pinandhita

14

M Jasmi Rafsanjani

15

M Taufik Ramadhana

16

Muhrya Mansyur

17

Mutia Annisa

18

Siti Noor Indah

Time Schedule KIR

Time Schedule KIR

Almanar Azhari Islamic Boarding School

Tahun 2009

No

Tanggal

Kegiatan

Keterangan

1

29-Jul

Sosialisasi KIR

2

05-Agust

Penyerahan Judul KIR dan Pembimbing

3

12-Agust

menyerahkan kerangka karangan

4

19-Agust

menyerahkan bab 1 & 2

5

26-Agust

menyerahkan bab 3 dan 4

6

31-Agust

menyerahkan bab penutup, abstrak dan daftar pustaka

7

07-12 Sept

sudah selesai bentuk sempurna dan dijilid biasa.

8

01-02 Okt

penilaian dan ujian

pengumuman judul kir..

Daftar nama dan judul KIR

Almanar Azhari Islamic Boarding School

Tahun 2009

Kelas XI

No

Nama

Judul

Pembimbing

Rekomendasi

1

Agung Triantoro

Manfaat bermain musik bagi siswa AAIBS

Rekomendeed

2

Amita Nur Karimah

Manfaat pemisahan sampah organik dan non organik

Mrs. Dini

Not Rekomendeed

3

Annisa Nur Afiani

korelasi antara profesi orangtua dan prestasi siswa di AAIBS

Mrs. Rusda

Rekomendeed

4

Azzy Anggi A G

fotosintesis tumbuhan

Mrs. Dini

Not Rekomendeed

5

Chairul Akbar

6

Dimas Ardiano Pradana

kloning dalam pandangan islam

Mrs. Dini

Rekomendeed

7

Frenji Afrita

kesehatan remaja perokok

Mrs. Dini

Not Rekomendeed

8

Irfan Muhammad Siregar

analisis radio karbon

Mr. Syarif

Rekomendeed

9

M Irfan

kebiasaan merokok siswa kelas XI AAIBS

Mr. Ali Ihsan

Rekomendeed

10

M. Satrio Khalifah Ardhy

Manfaat penggunaan hotspot dilingkungan AAIBS

Mr. Satria

Rekomendeed

11

M Zaki Siddiq

pendidikan demokrasi di AAIBS

Ms. Yuli

Rekomendeed

12

M Ramadhan

Manfaat biopori bagi masyarakat

Mr. Fuad Nawawi

Rekomendeed

13

M Avif Amrullah

Dampak facebook bagi siswa Almanar

Mr. Husnul Arif

Rekomendeed

14

Rachmi Novarini

Daur ulang

Not Rekomendeed

15

Shinta Rosdiana

daya tarik pasar modern dan tradisional bagi siswa AAIBS

Mrs. Ipah

Rekomendeed

16

Ulfa Hanani

rekayasa gentika dalam pandangan islam

Mrs. Dini

Rekomendeed

17

Supandri

cara mengolah tanah yang baik

Not Rekomendeed

18

Muslih Rozaki

sejarah masuknya hindu budha di indonnesia

Not Rekomendeed

19

Muh. Gebyar Setiohadi

20

Ali Zaenal Abidin

sosialisasi antar santri AAIBS

ms. Rusda

Rekomendeed

Hikayat

*Hikayat Batu Dan Pohon Ara*
By MTA (Made Teddy Artiana)

http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com/

Alkisah pada suatu saat di sebuah negeri di timur tengah sana. Seorang
saudagar yang sangat kaya raya tengah mengadakan perjalanan bersama
kafilahnya. Diantara debu dan bebatuan, derik kereta diselingi dengus kuda
terdengar bergantian. Sesekali terdengar lecutan cambuk sais di udara. Tepat
di tengah rombongan itu tampaklah pria berjanggut, berkain panjang dan
bersorban ditemani seorang anak usia belasan tahun. Kedua berpakaian indah
menawan. Dialah Sang Saudagar bersama anak semata wayang nya. Mereka duduk
pada sebuah kereta yang mewah berhiaskan kayu gofir dan permata yaspis.
Semerbak harum bau mur tersebar dimana-mana. Sungguh kereta yang mahal.

Iring-iringan barang, orang dan hewan yang panjang itu berjalan perlahan,
dalam kawalan ketat para pengawal.Rombongan itu bergerak terus hingga pada
suatu saat mereka berada di sebuah tanah lapang berpasir. Bebatuan tampak
diletakkan teratur di beberapa tempat. Pemandangan ini menarik bagi sang
anak sehingga ia merasa perlu untuk bertanya pada ayahnya.

“Bapa, mengapa tampak oleh ku bebatuan dengan teratur tersebar di sekitar
daerah ini. Apakah gerangan semua itu ?”.

“Baik pengamatan mu, anak ku”, jawab Ayahnya,”bagi orang biasa itu hanyalah
batu, tetapi bagi mereka yang memiliki hikmat, semua itu akan tampak
berbeda”.

“Apakah yang dilihat oleh kaum cerdik cendikia itu, Bapa ?”, tanya anaknya
kembali.

“Mereka akan melihat itu sebagai mutiara hikmat yang tersebar, memang hikmat
berseru-seru dipinggir jalan, mengundang orang untuk singgah, tetapi sedikit
dari kita yang menggubris ajakan itu.”.

“Apakah Bapa akan menjelaskan perkara itu pada ku?”

“Tentu buah hatiku”, sahut Sang Saudagar sambil mengelus kepala anaknya.

“Dahulu, ketika aku masih belia, hal ini pun menjadi pertanyaan di hati ku.
Dan kakek mu, menerangkan perkara yang sama, seperti saat ini aku
menjelaskan kepadamu. Pandanglah batu-batu itu dengan seksama. Di balik batu
itu ada sebuah kehidupan. Masing-masing batu yang tampak oleh mu sebenarnya
sedang menindih sebuah biji pohon ara.”

“Tidakkah benih pohon ara itu akan mati karena tertindih batu sebesar itu
Bapa ?”

“Tidak anak ku. Sepintas lalu memang batu itu tampak sebagai beban yang akan
mematikan benih pohon ara. Tetapi justru batu yang besar itulah yang membuat
pohon ara itu sanggup bertahan hidup dan berkembang sebesar yang kau lihat
di tepi jalan kemarin”.
“Bilakah hal itu terjadi Bapa ?”

“Batu yang besar itu sengaja diletakkan oleh penanamnya menindih benih pohon
ara. Mereka melakukan itu sehingga benih itu tersembunyi terhadap hembusan
angin dan dari mata segala hewan. Samapai beberapa waktu kemudian benih itu
akan berakar, semakin banyak dan semakin kuat. Walau tidak tampak kehidupan
di atas permukaannya, tetapi dibawah, akarnya terus menjalar. Setelah dirasa
cukup barulah tunas nya akan muncul perlahan. Pohon ara itu akan tumbuh
semakin besar dan kuat hingga akhirnya akan sanggup menggulingkan batu yang
menindihnya. Demikianlah pohon ara itu hidup. Dan hampir di setiap pohon ara
akan kau temui, sebuah batu, seolah menjadi peringatan bahwa batu yang
pernah menindih benih pohon ara itu tidak akan membinasakannya. Selanjutnya
benih itu menjadi pohon besar yang mampu menaungi segala mahluk yang
berlindung dari terik matahari yang membakar.”

“Apakah itu semua tentang kehidupan ini Bapa ?”, tanya anaknya.

Sang Saudagar menatap anaknya lekat-lekat sambil tersenyum, kemudian
meneruskan penjelasannya.

“Benar anak ku. Jika suatu saat engkau di dalam masa-masa hidupmu, merasakan
terhimpit suatu beban yang sangat berat ingatlah pelajaran tentang batu dan
pohon ara itu. Segala kesulitan yang menindihmu, sebenarnya merupakan sebuah
kesempatan bagi mu untuk berakar, semakin kuat, bertumbuh dan akhirnya
tampil sebagai pemenang. Camkanlah, belum ada hingga saat ini benih pohon
ara yang tertindih mati oleh bebatuan itu. Jadi jika benih pohon ara yang
demikian kecil saja diberikan kekuatan oleh Sang Khalik untuk dapat
menyingkirkan batu diatasnya, bagaimana dengan kita ini. Dzat Yang Maha
Perkasa itu bahkan sudah menanamkan keilahian-Nya pada diri-diri kita. Dan
menjadikan kita, manusia ini jauh melebihi segala mahluk dimuka bumi ini.
Perhatikanlah kata-kata ini anak ku. Pahatkan pada loh-loh batu hatimu,
sehingga engkau menjadi bijak dan tidak dipermainkan oleh hidup ini. Karena
memang kita ditakdirkan menjadi tuan atas hidup kita.”

contoh 3

Contoh 3

Penelitian Terhadap Kebenaran Pemanasan Global

Bab I

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Semenjak manusia pada jaman purbakala sampai dengan jaman sekarang, manusia telah mengalami perkembangan dalam setiap periode waktu yang dilewatinya yang telah kita kenal dengan berbagai jaman seperti jaman meolitikum, neolitikum. Peradaban manusia telah mengalami kemajuan sampai sekarang. Selama perkembangan itu, manusia menjalani kehidupan bergantung pada pertanian dan agrikultur. Dengan orientasi kehidupan tersebut, manusia selalu berusaha menjaga dan melestarikan lingkungannya dengan sebaik-baiknya yang bertujuan untuk menjaga kelangsungan hidup manusia pula.

Dan pada saatnya, perkembangan manusia telah mengalami jaman revolusi industri yang menggantungkan kehidupan manusia pada bidang perindustrian. Dengan orientasi hidup tersebut, dunia agrikultur pun mengalami kemunduran perlahan-lahan. Nilai-nilai kehidupan manusia pun mengalami perubahan, terutama dalam interaksi manusia dengan lingkungannya. Perubahan-perubahan yang terjadi ini menghasilkan dampak baik positif maupun negatif.

Salah satu dampak revolusi industri yang telah terjadi dan masih terus berlanjut pada masa sekarang dalam kehidupan dan peradaban manusia adalah dampaknya bagi lingkungan yang ada di sekitar manusia itu sendiri. Ekspansi usaha yang dilakukan oleh para pelaku industri seperti pembangunan pabrik-pabrik dan pembuatan produksi dengan kapasitas besar dengan mengesampingkan perhatian terhadap dampaknya bagi lingkungan secara perlahan namun pasti telah mengakibatkan kelalaian yang pada akhirnya akan merugikan lingkungan tempat tinggal manusia serta manusia dan kehidupannya.

Para ahli lingkungan telah menemukan indikasi adanya dampak yang terbesar bagi lingkungan dan dunia secara global akibat usaha perindustrian yang dilakukan dan telah berkembang pesat ini. Dampak negatif ini adalah terjadinya pemanasan di dunia dan sering disebut sebagai Global Warming. Namun, masalah Global Warming sebagai masalah lingkungan ini masih diperdebatkan kebenarannya oleh beberapa pihak yang menganggap Global Warming adalah alasan yang diciptakan untuk membatasi laju perkembangan perindustrian. Walaupun masih terdapat perdebatan mengenai kebenaran keadaan Global Warming di antara para ahli lingkungan tersebut, namun masalah Global Warming ini tidaklah dapat dipungkiri untuk diteliti dan ditelaah lebih lanjut demi kelangsungan kehidupan manusia.

Untuk itu, Karya Tulis yang dibuat ini akan memperlihatkan dan menjelaskan kebenaran mengenai masalah pemanasan Global ini dengan berdasarkan studi literature dari berbagai sumber yang terpercaya dan kompeten. Pembahasan dan penjelasan yang dilakukan pun akan ditinjau dari sudut pandang pihak yang pro dan pihak yang kontra. Dalam Karya Tulis ini pun akan menyajikan fakta-fakta yang memperkuat keberadaan masalah pemanasan Global ini.

B. Identifikasi Masalah

Timbulnya masalah pemanasan Global yang merupakan masalah lingkungan ini, telah menimbulkan berbagai macam pertanyaan dalam hubungannya dengan sebab, keberadaan dan efek atau dampak yang diakibatkan dari pemanasan Global tersebut. Pertanyaan-pertanyaan seputar masalah pemanasan Global ini dapat diuraikan seperti dalam beberapa point berikut:

1. Apakah pemanasan Global selalu memberi dampak buruk?

2. Apakah pemanasan Global akan meningkatkan frekuensi terjadinya badai?

3. Apakah penyebab terbesar dari terjadinya Global Warming adalah emisi manusia dari “efek rumah kaca” (“green house effect”)?

4. Apakah pemanasan Global akan menyebabkan peningkatan terjadinya banjir, kekeringan, pertumbuhan hama secara cepat dan peristiwa alam atau cuaca yang ekstrim?

5. Apakah emisi karbon dioksida yang berasal dari pembakaran fosil merupakan penyebab terbesar dari perubahan cuaca?

6. Apakah ada keuntungan potensial yang dapat diakibatkan dari peningkatan temperatur?

Pemanasan Global ini mengakibatkan berbagai dampak baik positif maupun negatif. Tanpa adanya pemanasan Global, tidak akan ada kehidupan di dunia, karena suhu di bumi yang rendah dan manusia tidak akan bisa hidup dalam kondisi suhu yang rendah. Pemanasan Global telah meningkatkan suhu bumi sampai suhu rata-ratanya mencapai 60 Fahrenheit. Namun, pemanasan Global menjadi permasalahan dan yang masih menjadi perdebatan ketika konsentrasi gas efek rumah kaca dalam atmosfir mengalami peningkatan. Akankah kondisi peningkatan konsentrasi gas ini menjadi permasalahan yang harus mendapat perhatian lebih?

C. Perumusan Masalah

Dimulai dari jaman revolusi industri, konsentrasi gas karbon dioksida di atmosfer telah meningkat hampir sebesar 30 %, konsentrasi gas metan meningkat hampir dua kali lipat, dan konsentrasi NO2 berkurang sekitar 15 %. Peningkatan gas-gas ini menyebabkan kemampuan atmosfer untuk menahan panas menjadi lebih besar. Sulfat aerosol, yaitu polutan udara yang umum ditemui, mendinginkan atmosfer dengan merefleksikan kembali radiasi cahaya dari matahari ke luar angkasa. Tetapi senyawa sulfat ini mempunyai siklus umur yang pendek di atmosfer.

Mengapa konsentrasi gas efek rumah kaca dapat meningkat? Para ilmuwan berasumsi bahwa pembakaran dari bahan bakar fosil dan beberapa aktifitas manusia yang memicu dan menjadi penyebab utama meningkatnya konsentrasi karbon dioksida di atmosfer. Respirasi dari tanaman dan proses dekomposisi bahan organic melepaskan karbon diokasida sepuluh kali lebih banyak dari yang mampu dihasilkan oleh aktifitas manusia, tetapi selama berabad-abad pelepasan karbon diokasida ini diimbangi dengan penyerapan karbon dioksida oleh vegetasi terestial dan laut.

Yang menyebabkan keseimbangan ini terganggu adalah adanya pelepasan tambahan yang disebabkan oleh aktifitas manusia. Bahan bakar fosil dibakar sebagai sumber energi untuk menggerakan hampir seluruh peralatan manusia. Meningkatnya kegiatan agricultural, penggundulan hutan, dibukanya area kosong sebagai tempat pembuangan, produksi industri, dan pertambangan juga meningkatkan emisi dengan bagian yang cukup signifikan.

Untuk meramalkan tingkat emisi yang akan terjadi di masa depan merupakan suatu tugas yang sulit, karena hal itu bergantung kepada keadaan demografi, ekonomi, teknolofi, peraturan dan perkembangan institusi. Beberapa peramalan telah dilakukan, dan hasilnya memproyeksikan bahwa pada tahun 2100, konsentrasi karbon dioksida akan meningkat sebesar 30% hingga 150% dari jumlah sekarang.

D. Tujuan Penelitian

Tujuan secara umum dari diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh manakah pemanasan Global ini telah terjadi? dan penyebab pastinya apa? Semua ini masih merupakan tanda Tanya bagi manusia. Karena sampai sekarang manusia belum mendapatkan penyebab pasti dari pemanasan Global ini dan manusia juga mau mencari kebenaran mengenai efek dari pemanasan Global yang akan dialami oleh manusia sendiri, makhluk hidup maupun lingkungan di sekitarnya. Jika pemanasan Global ini terjadi maka efek yang ditimbulkan bukan hanya di alami oleh manusia saja tetapi juga semua makhluk hidup di sekitarnya, seperti meningkatnya suhu di permukaan bumi menyebabkan kekeringan, dengan demikian akibat dari kekeringan ini selain dialami manusia juga oleh hewan dan tumbuhan dimana tumbuhan akan menjadi layu karena kekurangan air atau dan sebagainya. Oleh karena itu melalui penelitian ini diharapkan agar manusia dapat lebih mencegah aktivitas yang dapat menyebabkan terjadinya pemanasan Global seperti mengadakan kegiatan rumah kaca, pembakaran zat-zat yang dapat menyebabkan suhu di permukaan bumi meningkat, dan lain-lain.

E. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat-manfaat yang dapat kita peroleh dari penelitian pemanasan Global ini adalah :

• Untuk mengetahui secara jelas apakah itu pemanasan Global ?

• Untuk mengetahui penyebab terjadinya pemanasan Global

• Untuk mengetahui dampak secara umum yang akan dialami oleh manusia sendiri maupun makhluk hidup dan lingkungan di sekitarnya.

• Untuk mengetahui efek yang akan dialami apabila terjadi perubahan iklim akibat dari pemanasan Global

• Untuk dapat mengetahui apa yang dapat dilakukan oleh manusia untuk dapat mencegah lebih lanjut pemanasan Global tersebut.

Bab II

Kerangka Teori

A. Pengertian

Sebagai permulaan Karya Tulis ini dan untuk memudahkan pengertian dan persamaan persepsi dalam identifikasi teori dan pembahasan selanjutnya. Berikut akan diuraikan mengenai pengertian berbagai terminology yang digunakan.

1. Pengertian Global Warming atau Pemanasan Global

Global Warming secara harfiah diterjemahkan sebagai pemanasan Global. Terjadinya pemanasan Global di bumi dimulai dari kenyataan bahwa energi panas yang dipancarkan berasal dari matahari yang masuk ke bumi menciptakan cuaca dan iklim serta panas pada permukaan bumi secara Global.

2. Pengertian Green House Effect atau Efek Rumah Kaca

Kondisi yang menyerupai akibat yang ditimbulkan dalam rumah kaca terjadi pula dalam bumi ini, yaitu terperangkapnya energi dalam permukaan bumi oleh konsentrasi gas-gas dalam lapisan atmosfir. Pada kenyataannya, pemanasan Global merupakan peningkatan suhu bumi secara bertahap sebagai akibat dari peningkatan konsentrasi gas efek rumah kaca dalam lapisan luar atmosfir. Dan ketika bumi meradiasikan kembali energi yang diterimanya ke luar angkasa, sebagian dari energi matahari yang masuk ke bumi, terperangkap dalam permukaan bumi akibat terhalang oleh gas-gas dalam atmosfir seperti uap air dan karbon dioksida.

3. Pengertian Perubahan Cuaca

Peningkatan konsentrasi gas pada lapisan atmosfir telah mempercepat perubahan rata-rata cuaca. Sejak abad 19 yang lalu sampai dengan abad 20, temperatur permukaan bumi telah mengalami peningkatan 0.5 – 1.0 F. Dan perkiraan peningkatan suhu permukaan bumi rata-rata menurut para ahli akan mencapai 1-4.5 F atau 0.6-2.5 C dalam 50 tahun mendatang tergantung pada wilayah di bumi.Pembuktiannya terlihat dalam perubahan kondisi nyata yang terjadi dengan mancairnya salju pada Northern Hampshire dan menurunnya es apung pada Samudra Arktik.

Secara Global, permukaan laut telah mengalami kenaikan lebih dari 4-8 inchi pada abad lalu. Penguapan yang terjadi pada dunia telah meningkat sekitar 1% dan frekuensi terjadinya hujan pun telah meningkat.

Gas-gas ditimbulkan dari berbagai macam kegiatan manusia, seperti kegiatan dalam perindustrian dan pembakaran, akan terkonsentrasi dalam atmosfir dan akan menyebabkan terperangkapnya energi matahari yang masuk ke dalam bumi. Energi yang tidak teradiasi ini sama kondisi dengan yang terjadi pada rumah kaca, sehingga energi tersebut akan tetap tersimpan dalam permukaan bumi dan menyebabkan pemanasan Global pada permukaan bumi.

B. Penelitian yang Relevan

Untuk menyusun Karya Tulis ini, penulis mengambil referensi dari penelitian yang telah dilakukan oleh berbagai pihak yang memang memiliki keahlian yang relevan, terutama dalam topik ini adalah para pemerhati dan peneliti lingkungan. Berbagai penelitian telah dilakukan secara internasional, karena memang masalah ini menyangkut manusia secara keseluruhan, jadi tidak terbatas oleh negara dan ras.

Sebagai pemicu untuk memulai penelitian, ada beberapa pertanyaan yang harus dicari jawabannya dalam penelitian yang akan dilakukan. Berikut ini adalah pertanyaan kunci yang melandasi penelitian tersebut:

• Apa itu pemanasan Global?

• Apa bukti-bukti yang menyatakan bahwa pemanasan Global benar-benar terjadi? Dan seberapa besar tingkat kepercayaan dan keakuratan dari bukti-bukti tersebut?

• Apa efek-efek yang dibawa oleh pemanasan Global?

• Apa bukti-bukti yang menyatakan bahwa pemanasan Global kemungkinan disebabkan oleh gas-gas efek rumah kaca?

• Apa yang dapat dan harus dilakukan berkenaan dengan pemanasan Global, apabila hal ini memang terjadi dan disebabkan oleh polutan-polutan di uadara dan emisi?

• Dan apabila pemanasan Global tidak terjadi, apakah ada alasan lain untuk mengendalikan emisi polutan yang terjadi pada atmosfer bumi?

Beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti-peneliti di seluruh dunia akan dijelaskan di bawah ini:

1. Pada tanggal 26/04/2002, Para ilmuwan menyatakan temperatur Global selama 3 bulan pertama di tahun 2002 telah mengalami peningkatan, dan lebih tinggi dari temperatur yang pernah dicapai buni dalam 1000 tahun terakhir. Penelitian ini dimotori oleh Dr. Geoff Jenkins, direktur UK government’s Hadley Centre yang khusus meneliti dan memprediksikan perubahan iklim dunia.

2. Pada tanggal 24/12/1999, berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, James Baker, sekretaris dari U.S. National Oceanic and Atmospheric Administration, bersamaa dengan Peter Ewins, ketua dari British Meteorological Office, memperingatkan bahwa iklim dunia berubah dengan cepat, dan manusia harus segera menindaki perubahan ini dengan mencoba untuk mengurangi emisi karbon dioksida ke udara.

3. Pada tanggal 01/03/1999, American Geophysical Union, suatu badan keilmuan internasional yang membawahi sekitar tiga puluh lima ribu ilmuwan yang mengkhususkan diri pada penelitian tentang Bumi dan planet-planet mengeluarkan pernyatan yang berani mengenai perubahan iklim dan hubungannya dengan gas-gas efek rumah kaca. Pernyataan ini dikeluarkan setelah mengadakan serangkaian penelitian mengenai pemanasan Global.

4. Pada tanggal 17/01/2002, didapatkan data dari statelit dari hasil penelitian yang dilakukan oleh NASA di Langley Research Centre, yang membantah pernyataan Richard Lindzen, seorang skeptis, yang menyatakan bahwa pengurangan jumlah awan di daerah tropis akan menyebabkan pendinginan terhadap bumi dan mengatasi pemanasan Global yang mungkin terjadi. Hasil penelitian NASA menunjukkan bahwa awan-awan ini akan memperkuat efek rumah kaca, dan memicu terjadinya pemanasan Global.

5. Pada tanggal 18/12/2001, berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, Organisasi Meteorologi Dunia memperingatkan bahwa temperatur Global mengalami peningkatan tiga kali lebih cepat dibandingkan dengan waktu-waktu lalu.

D. Hipotesis

• Pemanasan Global memang benar-benar ada.

• Pemanasan Global telah lama terjadi.

• Pemanasan Global terjadi karena gas-gas yang dihasilkan seperti Co2,No2, dan lain-lain.

• Adanya gas-gas seperti Co2 dan No2 menyebabkan radiasi sinar matahari yang sampai ke bumi terperangkap karena efek rumah kaca.

• Adanya pemanasan Global menyebabkan suhu di permukaan bumi semakin lama semakin meningkat.

• Dari penelitian yang telah dilakukan sejumlah ilmuwan, pemanasan Global membawa dampak negatif bagi bumi.